DARI PABRIK KERUPUK HINGGA PANDAI BESI

Kompas, 26 Jan 2008

DARI PABRIK KERUPUK HINGGA PANDAI BESI
                           Oleh Yenti Aprianti

    Di atas lantai kayu, seorang lelaki terus berputar menggiling
tepung aci agar membentuk mi dan menetes ke bawah. Di bawah lantai,
empat orang lelaki duduk tanpa bicara. Hanya tangan mereka yang terus
bergerak menampung adonan tepung aci yang berbentuk mi menjadi kue-kue
kecil berbentuk bundar.
    Kue kecil itu ditempatkan pada tampah plastik dan dijemur, lalu
dimasukkan ke dalam oven sebelum digoreng menjadi kerupuk. Kerupuk mi
berwarna oranye dan putih ini sangat populer di Indonesia. Biasanya
dijadikan teman makan bakso atau lauk lainnya. Di warung-warung, harga
kerupuk mi hanya Rp 250 per buah.
    Hampir semua orang mengenal kerupuk murah meriah ini. Akan tetapi,
belum tentu semua penikmat kerupuk tahu proses pembuatannya.
    Sejak sekitar dua tahun lalu, pabrik kerupuk Mulya Sari Jalan Raya
Babakan Tiga, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, sering didatangi
wisatawan domestik dan mancanegara, seperti Belanda dan Jerman. Mereka
dibawa pemilik hotel dan biro perjalanan.
    “Saya senang pabrik ini dikunjungi wisatawan. Biasanya mereka
membeli kerupuk untuk buah tangan, kadang-kadang biro perjalanannya
merancang agar saya menyediakan makanan sederhana khas Sunda.
Turis-turis itu ternyata suka,” kata Dodo Suhanda (51) yang punya
pabrik kerupuk berusia 20 tahun.
    Dodo memperbolehkan turis mencoba proses pembuatan kerupuk. Dengan
demikian, mereka tidak hanya tahu bentuk dan rasa sebuah makanan,
tetapi mengetahui proses pembuatannya.

Senjata tajam
    Sekitar satu kilometer dari pabrik kerupuk milik Dodo, ada
Mekarmaju, Ciwidey. Di sana, sebagian penduduknya bermata pencaharian
sebagai pandai besi. Mereka memproduksi cangkul, arit, golok, keris,
sumpit, hingga kujang.
    Di sana juga beroperasi banyak toko suvenir senjata berbasis
logam. Bahkan, ada pula workshop pengukiran gagang dan sarung senjata,
serta bengkel pandai besi. Banyak wisatawan domestik dan mancanegara
berkunjung ke desa itu.
    Menurut Dedi Suwarna (31), perajin senjata tajam, di Desa
Mekarmaju ada sekitar 120 pandai besi. “Para wisatawan, terutama dari
Belanda, sangat senang jika menonton para pandai besi menempa logam,”
kata Dedi.
    Untuk bisa menonton para pandai besi bekerja, wisatawan harus
mendatangi bengkel-bengkel yang sebagian besar terletak di tengah
permukiman padat, melalui gang.
    Menurut Dedi, kerajinan senjata tajam berbasis logam di desanya
berkembang sejak tahun 1957. Pada 1980-an Mekarmaju sudah dijadikan
daerah wisata ekologi. Bahkan, mereka memiliki kompleks perbengkelan
pandai besi. Namun, kondisi bangunan itu kini hancur dan akan
diperbaiki tahun 2008. 
    “Terus berdatangannya wisatawan amat baik untuk promosi,” ucap
Dedi. Dengan datangnya wisatawan, perajin bisa menjual suvenir dan
mendapatkan order untuk ekspor. Negara yang sering mengimpor golok dan
senjata tajam lain adalah Yaman dan Malaysia.

Menyulap buah
    Di sepanjang Jalan Ciwidey terdapat rumah-rumah atau lahan
pertanian yang disulap menjadi tempat wisata. Pemiliknya menawarkan
wisata keluarga menarik, yaitu memetik hasil bumi sendiri hasil bumi,
seperti buah stroberi atau tomat.
    Selain itu, ada makanan “aneh” yang cuma ditemukan di Ciwidey,
yakni kalua jeruk. Komoditas itu terdapat di Jalan Raya Kampung
Warung, Ciwidey. Kalua jeruk adalah manisan yang rasanya seperti
dodol, terbuat dari kulit buah jeruk bali. Buah jeruk bali yang
biasanya dibuang, direndam dengan kapur sirih selama beberapa lama dan
dibilas hingga rasa pahitnya hilang. Setelah itu, direbus dengan
gula.

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

5 Tanggapan to “DARI PABRIK KERUPUK HINGGA PANDAI BESI”

  1. Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://pariwisata.infogue.com/dari_pabrik_kerupuk_hingga_pandai_besi

  2. tx atas infonya.

  3. hehe kampung (bini) guwe tuh… :)

  4. Dear Yenti,
    Kami tertarik dgn tulisan anda, dan rencana berkunjung dgn 30 orang rekan kantor dr Jkt, boleh minta contact person utk 3 home industri yg mba ceritakan di daerah Ciwidey? Terima kasih sebelum.

  5. lembur kuring..thanks for artikel nye lama gk tau cerita kampung pengrajin golok dll. jadi teringat kampung halaman…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 342 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: