Tanding Wedding (7)

•April 25, 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bulan Madu Ndusal-Ndusel

justmarried

sumber: webweaver.nu

            Bulan madu kemana? Kami sudah punya jadwal yang tertata rapi. Bahkan kalau ada jadwal yang kelewat karena misalnya  sakit, sudah ada jadwal pengganti di minggu berikutnya. Keren enggak? Bulan madu ini memang sudah direncanakan oleh pihak lain dengan sangat-sangat terukur dan tepat waktu.

Jadi, pulang dari tempat resepsi saya langsung memasok pengetahuan dengan menyiapkan buku-buku dan membacanya dengan seksama agar bulan madu berjalan sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Sehari setelah resepsi kami pun langsung berangkat ke stasiun Bogor. Waktu itu stasiunnya masih jadul dengan kereta-kereta tanpa AC, penumpang gondal-gandul di depan pintu kereta yang terbuka. Sementara penumpang di dalam ndusal-ndusel alias saling himpit, berdesak-desakan. Luar biasa bukan perjalanan awal bulan madu kami.

Satu stasiun setelah stasiun Pondok Cina, kami pun turun. Melewati beberapa kios-kios makanan, fotokopi, rental komputer, dan juga kios penjual tas ransel kecil-kecil dan warna-warni. Lalu menyeberangi rel. Kami melintasi hutan kecil yang asri. Sampai di sana, pemandangan sekitar mulai selaras dengan misi bulan madu kami. Jalan setapak lurus di tengah hutan yang hijau dan dingin. Kami melihat penyadap getah karet bergerak gesit dengan pekerjaannya. Di jalan setapak lain, para petugas kebersihan kawasan tersebut tengah menyapu dengan khidmat. Semua tampak indah. Apalagi sepasang rusa terlihat riang berlompatan, berebut makanan, tak jauh dari tempat kami melintas. Di ujung jalan setapak, bunga-bunga pink dari pohon-pohon jambu bol  yang berjajar di pinggir jalan, berjatuhan ke tanah di sekitarnya membuat  tanah berwarna merah muda. Pohon-pohon itu siap berbuah. Mungkin  saya juga demikian nantinya.

Lalu kami menyeberangi jalan aspal yang sepi. Masuk ke sebuah area dengan gedung-gedung seperti hotel-hotel sederhana atau penginapan-penginapan lama di kawasan Puncak, Bogor. Di atas koridor gedung, kami berjalan lurus melintasi sebuah restoran Korea mini dan toko buku. Berbelok ke kanan dan tibalah kami disebuah gedung lebih sederhana berlantai tiga atau empat, entahlah. Lobi dari bangunan itu seperti kantor-kantor tahun 80-an, ya….setting film Dono, Kasino, Indro…pada tahu kali. Itulah gedung tujuan kami untuk mengawali bulan madu kami. Suami saya langsung memilih menikmati pagi dengan duduk-duduk di lobi dan saya langsung meluncur ke lantai berikutnya untuk segera ikut Ujian Tengah Semester! Iya…sebagai mahasiswa magister Antropologi UI waktu itu, saya memang harus ujian sehari setelah saya melangsungkan resepsi pernikahan. Hihi….

Anda semua pasti sudah dapat menebak akhir ceritanya. Besoknya suami saya meninggalkan  acara bulan madu  di UI padahal jadwalnya udah  tersusun rapi selama seminggu, loh. Alasannya, cutinya udah habis. Ah dia mah emang gitu orangnya. Tapi saya pantang surut ke belakang, segala ujian harus mampu  dilewati dengan penuh kesabaran dan ketabahan.  Bukankah setiap ujian mampu mendewasakan kita? Dan, rumah tangga membutuhkan sikap kedewasaan demikian. Pyuhhh…demikian paket wedding kami yang sungguh sangat sederhana itu. Selamat Ujian (Tengah Semester) bagi yang merayakan. (Ynt)

 

 

TANDING WEDDING (6)

•April 23, 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar
sumber: dreamstime.com

sumber: dreamstime.com

Suami Lirik Temannya…Tepok Jidat? Tepok Tangan Aja

Semua sudah nyaris siap, baru buat undangan dan cari fotografer. Dapat deh, teman kuliahnya suami ada yang jago desain. Setelah berhasil menghubunginya, kami pun bikin daftar undangan. Ngerjainnya  sampai seminggu karena kami terpisah jarak Bandung – Bogor. Tapi eksekusinya cepat banget berkat jasa desain dari Mas Salim *salimdulu*. Terima kasih ya. Unik, cepat, dan tentu saja harga pertemanannya sangat membantu kantong kami. *salimlagi* Oh ya, Mas Salim juga yang kemudian kami hubungi untuk menjadi fotografer di acara munduh mantu di Yogyakarta beberapa bulan kemudian. Jadi selain ngedesain, beliau juga seorang fotografer *salimajaterus*.

Nah, kalo untuk foto, kami hubungi Mas Arul. Temen nongkrong suami ini membawa serta mahasiswanya bernama Mas Gilang. Ini juga pakai harga pertemanan.  Alhamdulillah deh berkat suami yang kali ini dapat giliran lirik teman-temannya yang baik hati dan tidak sombong,   untuk membantu kami, segalanya berjalan lancar. Tepok tangan!!!

Pulang Dinihari Langsung Permak Celana

            Pada Mas Arul dan Mas Gilang, kami agak keterlaluan. Baru datang udah diajak jalan ke sana-kemari menemui keluarga dari Yogyakarta yang menginap di wilayah Jalan Semeru, Bogor. Deket sih dari rumah kami waktu itu di Laladon, Bogor. Nah letak keterlaluannya, kami pulang dinihari. Hampir jam 3 pagi. Padahal besoknya jam 6 pagi sudah harus siap di gedung pernikahan untuk dirias.

Belum sampai itu penderitaan mereka. Sampai di rumah, celana untuk pengesahan akad nikah milik suami kegedean. Alhasil dinihari itu juga saya langsung ambil mesin jahit dan suara mesinnya yang udah lama tak diminyaki menjerit-jerit ga karuan di rumah kami yang sempit. Untung ga ditimpuk satpam dan warga sekomplek. Nah, masalahnya saya rasa para fotografer itu gak pada bisa tidur karena ulah mesin jahit itu *BukanUlahSayaLohYa*

Kalau gak salah sih, malam itu juga saya langsung mandi untuk persiapan besok pagi dan tidur bentar. Sebelum jam 6 pagi, kami sudah bangun dan siap di depan rumah, slup….masuk semua ke mobil dan wesss…..langsung berangkat ke tempat resepsi dengan kaos dan celana jeans. Perlu diketahui, suami saya menyetir mobil sendiri dan mobilnya enggak pake hiasan bunga, boneka, balon-balon berbentuk hati. Tidak…tidak….

Kurang dari 10  menit udah sampai di tempat resepsi dan langsung digiring ke tempat rias. Kali ini wajah saya yang dipermak. Hidung dioles ini itu supaya tampak lebih mancung. Padahal udah mancung loh *Pppphhhh…*. Ya pokoknya digimana-gimanain gitulah. Pokoknya saya tidur aja selama dirias.

Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar hingga waktu sewa gedung usai. Pukul 14.30 kami pun segera membenahi pelaminan karena pihak penyewa berikutnya sudah siap-siap mau mendekor ruangan. Beberapa anggota keluarga ikut membantu bagian dekorasi untuk merapikan kembali kursi dan meja-meja. Ibu saya inisiatif langsung merapikan bunga-bunga dekor. Ya, merapikan untuk langsung digondol ke rumah. Lumayan bisa dirangkai lagi. Begitu pasti pikirnya. Selesai dengan semua itu kami meluncur kembali ke rumah untuk mempersiapkan…bulan madu. Iya dong. (Bersambung…)

TANDING WEDDING (5)

•April 22, 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

kue

Eh…Bonus lagi!

Soal katering, saya masih pakai metode cari sekitar rumah. Nah. ketemu kakak dan baru inget kalau kakak iparnya punya katering. Sudah deh, minta bantuan Kakak untuk meminta jasa saudaranya itu. Cepat banget. Oke. Harga Cuma Rp 5 juta saja untuk 350 porsi. Kalau ga salah ada 8 jenis makanan ya. Enggak tahu deh, lupa. Dikasih sih daftarnya. Tapi ga terlalu merhatiin. Pikir saya seorang punya usaha yang cukup lama bertahan dan sering dapat order pastilah karena beliau dapat dipercaya. Jadi ya sudah, orang aja percaya. Saya…ya percaya juga lah.  Eh, dasar rezeki, ditambahin makanan tradisonal berapa nampan gitu. Aduh, Alhamdulillah. Hasilnya, semua serba cukup. Semoga para tamu berkenan dan selalu sehat, demikian harapan saya.

Soal makanan jajanan buat stand. Lagi-lagi saya hubungi pedagang-pedagang tempat saya jajan. Mereka dengan senang mau datang dengan harga yang saya tawarkan. Kalau enggak salah satu booth itu saya pesan Rp 250 ribu. Lupa tuh yang detail-detail gitu. Kalau ga salah ada empat  booth.

Oh ya, sehari sebelum menikah saya dan suami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk beli sirup campolay. Hahaha. Itu sih janji iseng aja. Soalnya saya suka sama sirup itu. Pernah suatu hari saya ngomong  asal gitu,  “Kalau gue nikah ini sirup mau gue sediain di kawinan, ah.”  Apa coba maksudnya? Tapi takut kenapa-napa, ya gue sediain aja, meskipun rasanya tampak aneh dia ada di sana. Hahaha. Habis beli Campolay, sempet agak galau mengingat kami kurang begitu bersemangat makan berat di kawinan, jadi kepikiran deh, eh makanan kecilnya cukup ga ya? Trus kalau ga cukup, lo mau apa coba? Nah, kalau lagi bingung pingin ngemil, biasanya keputusan kami selalu pilih brownies kukus yang lagi ngehits waktu itu. Ya udah deh, pergi ke outletnya dan beli beberapa dus. Hahaha…nyediain sendiri itu camilan. Mandiri dan kebanyakan waktu. Padahal suami saya cuma cuti tiga hari kayaknya. Sebelum, hari H, dan sehari sesudahnya. Tapi masih luang aja waktu kami. (Bersambung…)

TANDING WEDDING (4)

•April 21, 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

baju

 

Baju Pengantinnya…Haduuuh Pamali yang Lain Ini Sih

Beres urusan gedung, saya pun mulai mikir soal pakaian seragam. Jauh sebelum ketemu dengan calon suami saya. Mungkin dia masih di kota asalnya. Saya sudah bekerja di kantor itu sebagai anak baru. Kebetulan kantor kami berada di sekitar factory outlet. Lagi iseng-iseng tiba-tiba lihat kain lucu banyak banget. Eh saya beli aja lima lembar. Ga tahu deh bawaannya kalau lihat kain tuh seneng aja belanja. Kainnya kayak kain songket dengan motif bunga sakura.

Nah, itu kain saya keluarin dan saya bawa ke penjahit sebelah rumah. Tarif jahitnya standard. Si Bapak memang jadi langganan kami bikin baju apa aja. Dari mulai betulin selimut sobek kesangkut paku  sampai kain kebaya untuk seragam pernikahan.

Tadinya mau sekalian bikin kebaya dan jas pengantin pula. Tapi kata ibu ga boleh punya baju pengantin, pamali. Suka sakit-sakitan atau apa gitu. Padahal ibu saya yang kuat perkasa sendiri nyimpen baju kebaya pengantinnya dulu. Ih curang deh. Tapi karena saya orangnya penurut *uhuk*, jadi saya ikutin aja deh.

Oh ya, bagaimana nasib kain songket untuk keluarga? Hehe, si Bapak Penjahit menjahitnya terbalik, saudara-saudara. Yang bagian dalam di luar dan yang luar di dalam. Kok bisa gitu ya? Dia bilang belum pernah megang kain itu. Ya sudahlah ya. Terserah deh, mau dipakai atau enggak. Pokoknya saya bagiin aja.

Bonus-Bonus Berlebihan

Gagal punya baju pengantin sendiri, jadi deh beban hidup saya berkurang. Saya tinggal cari perias pengantin yang juga menyewakan pakaian dan perlengkapan semua-muanya kalau bisa. Lagi-lagi, saya pake jurus lirik kiri-kanan rumah aja. Kebetulan sepelemparan rumah ada perias pengantin. Dia banyak merias pengantin di kampung-kampung. Saya datangin deh. Eih…eh…muraaaaaah semurah-murahnya. Ya ampyun sampe takjub deh. Cuma lima juta doang udah rias pengantin dan keluarga, dipinjemin sepasang baju pengantin untuk ijab (Padahal udah sih kalau ijab mah di Yogyakarta, tapi karena udah bayar penghulu, ya pengesahan aja secara negara, begitu) dan sepasang baju pengantin untuk resepsi, beberapa pasang baju beskap untuk para lelaki di keluarga saya, kain untuk keluarga yang perempuan untuk menggantikan kain songket yang kebalik, seragam pagar ayu dan pagar apa ya tuh,  berikut dekorasi pelaminan, sewa meja-meja untuk parasmanan, dan hiasan inisial atau apa lah yang dari ukiran es. Eh, di hari H masih ditambah pula sama  upacara tradisi yang ga kami order. Jadi deh kami tarik-tarikan bakakak ayam, lempar-lempar kendi, sawer-sawer permen dan koin, cuci kaki pake air kembang, dan apalagi ya? Trus kami  juga dikasih bonus lain dengan datangnya para pemain musik kacapi suling di atas panggung. Oh ya, itu panggung  dibonusin sama pihak pengelola gedung kayaknya. Pokoknya enggak jelas deh siapa yang ngasih panggung. Pokoknya tahu-tahu ada aja. Padahal ga mesen dan lupa juga sampai sekarang nanya itu bonus dari siapa.

Hasil riasannya, ya lumayan lah. Pasti pangling wong suami saya enggak pernah pakai lipstik, di-lipstik-in kok. Hahaha…. Saya sendiri emang jaraaaang banget bedakan, lipstikan, apalagi yang lain-lainnya, ya udah jelas manglingin lah. Gak usah ditanya. Masalah cantik enggak sih, bukan urusan saya. Itu mah urusan Tuhan Yang Maha Kuasa dan urusan selera *Ngeles*.

Duh…Maluuuuu

Trus..trus…baju pengantinnya keren ga? Enggak tahu ya. Kalau untuk resepsi sih nyaman-nyaman aja. Oh ya, kalo soal warna itu agak menggelikan juga. Warnanya kombinasi kuning dan hitam. Kuning…catat itu.,.kuning. Bukan warna favorit banget. Tapi karena yang lainnya warnanya lebih gonjrang-gonjreng, ya udah deh, kuning aja. Kuning kunyit gitu. Gak ngaruh juga lah. Yang penting, kan bisa menyambut tamu yang mendoakan kami dengan pakaian yang pantas. Itu saja.

Nah, kalau baju saya untuk akad itu yang…haduh. Malu saia. Bukan, bukan karena jelek. Tapi karena transparan. Haduh…haduh….Jadi ceritanya, Ibu perias pengantin bilang kalau akad mau kebaya putih atau krem, dia belum ada. Oh, saya seperti bisa bilang, “Ga apa-apa, Ceu. Nanti saya cari.”

Bener dong saya cari. Minjem di perias pengantin lain di sebelah kiri rumah. Oh ya, rumah si Euceu yang saya pakai jasanya ada di sebelah kanan rumah saya. Udah dapat kebaya yang cocok deh. Pas segala-galanya. Sederhana juga bahannya.  Kebaya dari bahan apa tuh ya. Pokoknya  kainnya itu bertekstur kayak bordiran penuh, warna senada dengan dasar kainnya. Motifnya bunga kecil kayak bunga melati gitu. Ah gak ada barang buktinya sih ya. Warnanya putih gading. Pokoknya udah cocok deh.

Hm…tapi rupanya entah persaingan atau (lagi-lagi) pamali, entahlah. Tepat di hari H, saat dirias, Si Euceu pun meminta saya tidak memakai kebaya itu, melainkan  pakai kebaya yang dia bawa. Kebaya krem, gombrong dan transparan. Haduh…dan lagi-lagi saya bilang, “Oke, gak apa-apa.” Hihihi…padahal maluuuu. Tapi bodo amat ah. Anggap aja suka duka resepsi pernikahan. Haha…. (Bersambung…)

TANDING WEDDING (3)

•April 20, 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar

cincin

Semua Ada yang Mengatur

Selang sehari, kalau gak salah, petugas menelepon,  “Mbak tanggalnya bisa diganti, ga?”

Tanpa bingung-bingung saya jawab, “Bisa…bisa….” Padahal belum tahu tanggal berapa yang jadi gantinya, Kalau tahun depan, gimana?

“Bisa, Mbak?” tanya petugasnya riang-riang gimana gitu. “Bener, Mbak bisa diganti?” katanya seperti ga percaya.

“Iya, bisa aja. Tapi ke tanggal berapa ya, Bu?”

Petugas dari penyewaan gedung heran, kali. Aneh banget orang sewa gedung tapi belum punya tanggal pernikahan. Pasrah aja diganti ke sana kemari. Padahal sih saya juga bingung kalau mau cari gedung lain, cari dimana coba. Itu lebih membingungkan dibanding nyari tanggal. Tanggal mah cingcay. Undangan belum dipesan, begitu juga persiapan lainnya. Hihi…untungnya pengantin pria udah ada dan ga bisa dituker.

“Tanggal 18 ya, Mbak. Soalnya ibu yang kemarin bareng Mbak mau pindah tanggal.”

“Oke Bu.”

Segitu gampangnya. Padahal kan bisa didarmatisir tuh. Minta diskon gede karena perubahan tanggal atau apa kek. Hahaha…modus. Untung saya orangnya polos dan agak baik hati. *tutupmuka*

Setelah itu kami malah jadi semakin fokus bikin undangan, nyiapin tanda mata, berburu kain untuk seragam keluarga, menghubungi perias, dan lainnya.

Suatu hari tiba-tiba kami diminta pulang ke Jogja tanggal 10 Oktober dan diminta menikah secara agama aja di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta tempat ayah mertua saya sedang dirawat. Tuh, kan semua sudah ada yang Maha Mengatur.  Hari itu juga saya langsung ambil baju kebaya entah punya siapa tanpa fitting-fittingan *BukanMauGulatJugaKan?*

Ibu, Bapak, Seorang Kakak Ipar, dan Kakak langsung pesan tiket dan cus….berangkatlah mereka. Saya sendiri berangkat duluan dengan calon suami dari Bandung. Cesgudjes..gudjes….*Camkan:ItuSuaraKeretaYa*

Keluarga saya sampai di Yogya tanggal 10 Oktober di waktu subuh.  Jam 8 baru sadar, saya cuma  bawa kebaya atasan tapi enggak bawa kain dan lainnya. Halah….padahal pakaian saya lainnya hanya celana jeans, loh. Masa nikahan pake celana jeans? Harusnya sih bisa ya. Tapi kan beda budaya, beda cara. Jadi saya dan kakak langsung lari ke luar hotel dan naik becak, minta diantar ke pasar Bringharjo. Ealaaaahhh….

Bingung di Bringharjo, beli kain batik itu ada pakem-pakemnya enggak ya. Lucu juga kalau nikah pake kain buat nutup jenzah, kan. Soalnya kami juga ga ngerti-ngerti banget soal batik. Maka kami putuskan beli kain yang batik  motif yang modern aja. Yang Pekalongan gitu. Cuma cari sana sini, warnanya ga ada yang cocok sama kebayanya. Mungkin karena panik juga ya. Kebaya yang dibawain warna gold. Trus dasar panik akhirnya tetep aja pilihannya ke kain warna coklat dengan motif yang tradisional kayaknya. Kami hanya berharap itu motif cocok dah ya. Hahaha….trus gimana cara make kainnya?   Saya teringat kalau sedang liputan seni budaya, penari anak-anaknya suka pake kain elastis yang cukup besar, tapi namanya ga tahu. Akhirnya tanya  pedagang di sana. Baru tahu tuh namanya…ah lupa lagi deh. (Bersambung…)

TANDING WEDDING (2)

•April 19, 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar
burung

sumber: pinterest.com

Dari GOR ke Hutan Mini

Setiap pulang kuliah kerjaan saya cuma mengamati gedung, rumah, aula sekolah, GOR sekolah, atau apa kek yang kira-kira bisa dipake buat resepsi. Rumah sebetulnya nganggur, tapi kasihan tetangga harus keganggu. Jadi mau ga mau sewa gedung aja deh. Tapi mimpi saya ga bisa tinggi-tinggi soalnya gedung-gedung pernikahan pastinya harga sewanya mahal. Jadi saya mulai mengincar gedung-gedung atau ruang-ruang publik yang ga pernah dipake resepsi pernikahan tapi berpotensi dan strategis.

Di dekat rumah ada sekolah SMP swasta berhalaman luas. Lumayan nih, pikir saya waktu itu. Saya udah minta orangtua nanya-nanya. Kebetulan orangtua saya cukup kenal dengan pemilik sekolah tersebut.  Tapi entah kenapa, orangtua saya enggak sempat-sempat nanya karena beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya dan rencana pensiun dininya.

Waktu makin dekat, saya pun mengajak adik saya untuk mendatangi  sekolah SMA-nya. Sekolahnya memiliki Gelanggang Olah Raga dan halaman cukup luas. Waktu itu ketemu deh dengan pihak sekolah. Ternyata meskipun saya calon penyewa pertama, tapi ongkos sewa untuk sebuah Gedung Lapangan Basket tanpa AC udah cukup mahal yaitu sekitar Rp 2,5 juta. Hihi…buat saya itu mahal loh.

Denger harga sewa segitu, bikin hauuuuuus (Hihi, padahal emang dari rumah udah merencanakan mau jajan air kelapa). Nyebrang lah kami dan langsung mesen kelapa sebutir dan sluuuurrrppppp…seger banget itu air kelapa. Panas terik, kami pun iseng-iseng melanjutkan perjalanan naik angkot siang-siang. Kemana? Kemana ya? Sambil mikir ada gedung mana aja yang kira-kira disewakan ya.

Entah karena lagi kepanasan atau gimana, sekonyong-konyong waktu lihat hutan mini milik Departemen Kehutanan di Jalan Gunung Batu Bogor, saya pun berseru ke sopir angkot untuk segera berhenti. “Kiriiii….”

Pede ga pede, nanya deh ke satpam. “Pak ada gedung yang bisa disewa ga?” Hahaha…konyol banget. Lapangan basket sekolahan aja ga berani gue sewa, eh malah nanya ke gedung milik departemen lagi. Mana gedung tuanya kece lagi. Kalau disewain juga…mampu ga kamuuuu?

Satpam: “Coba tanya  ke petugas di gedung Dharma Wanita, Teh. Di belakang.”

Pak Satpam menunjukkan jalan menuju gedung tersebut. Aduh indah banget dalam komplek ini. Hutan mini dengan pohon-pohon yang teduh. Kayu-kayu tua gelondongan yang superguede  dipajang di beberapa koridor dan teras-teras gedung tua, mesjid yang luas dan adem. Kami melintasi jalan-jalan yang dihiasi rumput yang tertata rapi di kanan kirinya. Tapi sedikit pun enggak ciut tuh. Pikirku, kalau sewanya mahal ya, anggap aja tamasya gratis di kantor orang siang-siang terik begini.

Whaaaatttt??!! Saya Langsung Lihat Dompet

Sampai di gedung Dharma Wanita, kami disambut seorang ibu yang bilang cuma ada tanggal 10 dan 18 Oktober pagi di tahun ini yang masih kosong. Tanggal lainnya sampai akhir tahun depan  sudah penuh. Wuuh padahal itu sudah pertengahan September. Seorang ibu sepuh yang sepertinya hendak menyewa gedung untuk resepsi anak atau cucunya pun tampak kebingungan. Dia bilang, “Aduh saya yang mana ya, 18 Oktober mungkin, ya,” katanya. Maklum sih  bingung, soalnya  persiapan acara jadi buru-buru banget ya.  Sementara saya bingung, kalau langsung mastiin tanggal, tapi ternyata sewanya mahal, gimana loh???

Lagi bingung, petugas lain menghampiri dan langsung memberi penjelasan. “Mbak kalau sewa di sini resepsi sama akadnya dibedakan tempatnya ya. Kalau akadnya di mesjid, respsinya di gedung. Penyewaan hanya dilakukan di hari libur Sabtu dan Minggu. Bisa pilih waktu pagi dari jam 6 pagi sudah dibuka, sampai maksimal pukul 2 siang karena mulai pukul 3 sampai malam sudah ada persiapan untuk resepsi penyewa berikutnya.”

“Waduh, tempat resepsi sama akadnya dipisah. Berarti sewanya lebih mahal lagi ini,” batin saya.

“Kami hanya menyewakan gedung saja. Untuk setiap sesi pagi atau siang, tarif sewa gedung resepsi berikut mesjidnya sebesar Rp. 1,5 juta.”

Whaaaaattttt???!!” Pekik saya dalam hati.

“Baik, Bu. Saya pilih waktu mana aja deh yang kosong,” jawab saya. Udah syukur banget deh gue dapat tempat ini.

Petugas lainnya bilang: “Mbak kebagian tanggal 10 pagi ya. Soalnya ibu ini ambil yang tanggal 18 pagi,” katanya.

“Kalau udah pasti, langsung di DP-aja. Biar enggak dikasih ke orang lain,” katanya.

“DP-nya berapa, Bu?” tanya saya.

“250 ribu atau 300 ribu,” kata petugas.

Saya langsung intip uang di dompet. Persis cuma Rp 300 ribu. Untungnya lima puluh ribuan semua. Saya bayar 250 ribu. Yang lima puluh ribu lagi buat ongkos pulang dan menyenangkan hati atas rezeki hari ini. (Bersambung…)

TANDING WEDDING (1)

•April 18, 2016 • Tinggalkan sebuah Komentar
we-did-wedding-clipart-1

sumber: worldartsme

Musim kawiiiin….Bisnis wedding semarak. Kalau kami lagi jalan dari Bandung  menuju Bogor janur kuning terpancang di banyak gang dan jalan. Di gedung-gedung, mesjid, rumah, adaaaa aja yang melangsungkan resepsi pernikahan.

Obrolan di seputar lingkungan kami soal pernikahan pun   menghangat. Percakapan tanding wedding pun membuai kuping yang sedang nganggur. Jadi, sadar ga sadar resepsi pernikahan itu sering loh jadi ajang banding-membandingkan, kayak pertandingan saja. Menang siapa, wedding Si A atau Si B. Keren mana wedding Si Itu atau Si Ini. Lucu mana suvenir gue atau dia. Pangling mana, temen gue atau temen lo?

Kalimat-kalimat seperti ini pun meluncur di sana-sini.

“Gedungnya di situ aja, strategis. Si Anu di situ, tamunya banyak yang datang soalnya ga ribet. Jangan di situ deh, aduh macet. Si Itu di sana, sepi banget. Males kali orang juga datangnya.” *SekalianResepsiDiCFDAjaAtuh*

“Pake perias gue deh. Kosmetiknya merek mahal, bukan yang ngasal. Ga bikin jerawatan. Dijamin manglingin. Gue aja sampai ga ngenalin diri gue sendiri *lebaypastinya*.”

“Kebaya atau gaun pengantin sih bikin di si A aja, modelnya baru-baru. Yang kayak di majalah-majalah gitu loh. Model kebaya pengantin artis Z yang baru nikah bulan kemarin juga udah ada. Persis banget warnanya.” *FansInfotainment*

“Jangan kayak si B, suvenirnya di pasar  juga banyak. Suvenirnya mending beli di kota Anu, atau di pulau Anu.  Ga mahal-mahal banget tapi unik.” *TapiOngkosnyaYangMahallll*

“Foto Pre-wedding Si Itu kok meanstream banget ya.” *Uh…uh…*

Kalau denger percakapan-percakapan model gini. Haduh…resepsi saia jang sangad sederhana itu sungguh tak layak dibanggakan deh.  Resepsi pernikahan kami dipersiapkan dengan budget superminim. Cuma 15  juta aja pada akhir tahun 2008. Padahal kakak  dan adik saya yang menikah 8 dan 3 tahun sebelumnya saja perlu mengeluarkan budget berkisar Rp. 40 jutaan.

Capcipcup Kena Mana

Rahasia resepsi murah tuh mungkin,,,mungkin ya…karena kami melakukan segala-gala-galanya sendiri. Soalnya ga berani deh pake wedding organizer segala. Udah gitu persiapannya juga singkat aja. cuma sebulan sebelumnya. Prinsip saya waktu itu sih, sama seperti jodoh yang ga pernah bisa ditebak, begitupun tanggal pernikahan, gedung resepsi, jasa penyedia katering, pakaian pengantin, dan periasnya juga bisa jadi ga bisa ditebak. Capcipcup kena yang mana.

Untungnya saya dan suami tidak terlalu peduli sama ritual ini itu. Kami tak pernah berharap menjadi pangeran dan putri kerajaan dalam semalam. Mimpi kami enggak sebesar itu. Berharap jadi ganteng dan keceh dalam semalam aja bikin kami garuk-garuk, antara ga tega mimpinya sama ga yakin bakal kejadian.

Jadi ya dengan niat menyenangkan orang-orang yang mungkin bergembira dengan pernikahan kami dan ingin berterima kasih pada doa-doa yang dipanjatkan, kami pun melangsungkan resepsi.  Dengan catatan sesuai kemampuan kami.(Bersambung…)