Cikapayang – Bandung

Inget banget, sekitar tahun 1995 sampai 2000 Cikapayang masih asri. Sungainya melintasi Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung. Jalan tersebut dikenal dengan Jalan Dago.

Setiap lewat Jembatan Cikapayang, rasanya adem. Soalnya masih banyak pohon pinus di sekitar sungai. Tapi ada pemandangan yang dari dulu menarik perhatianku. Di jembatan dekat gereja sering muncul kepala orang. Kepala-kepala orang…muncul dari bawah jembatan! Kepala milik para gelandangan yang sedang ngadem. wrrrrrrrrrggggggg…mereka sedang cari-cari angin….

 Kata orang-orang lama di Bandung, jembatan itu dulu dipake main anak-anak kecil di sekitar Balubur dan Tamansari sekitar tahun 1930-an.  Para bocah kampung memanfaatkan Cikapayang untuk main kapal-kapalan sepanjang 15 – 25 cm, dibuat dari kulit buah  sepatu dewa atau Spathodea campanulata yang tumbuh  di sepanjang Tamansari hingga Jalan Sumatera. Kapal-kapalan mereka diberi lilin di atasnya. Mereka bermain di malam hari. Berlari di pinggir sungai mengikuti cahaya kapal-kapal mereka. 

Siapa sangka, di antara keceriaan anak-anak tersebut, Pemerintah Kota Bandung di masa Hindia Belanda memimpikan hal lain, mengubah lintasan sungai menjadi aspal yang lurus  menembus. Mimpi tersebut ditulis dalam dokumen Carsten Plan. Di dalam dokumen yang dibuat tahun 1931 tersebut tercatat program Autostrada, yaitu program menyambung penghubung yang hilang antara bandung bagian barat dan timur. 

Obsesi tersebut dilanjutkan oleh Pemerintah Kota Bandung di masa kemerdekaan, tepatnya di tahun 1971.  Obsesi  mempertemukan barat dan timur Kota Bandung  dituangkan dalam Master Plan Bandung 1971, Rencana Induk Kota tahun 1985 lewat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 1986, Rencana Umum Tata Ruang Kota Bandung 2003 melalui Perda No 2/1992, dan Rencana Detail Tata Ruang Kota Bandung melalui Perda No 2/1996.  Obsesi itu terus disimpan karena diperkirakan pada tahun 2006, jalan yang selama ini menghubungkan barat dan timur Kota Bandung, Jalan Wastukencana dan Jalan Siliwangi tak akan lagi mampu menampung derasnya kendaraan yang melintas dari barat ke timur dan sebaliknya. 

Tahun 1988, Pemerintah Kota Bandung mengusulkan pembangunan jalan layang di atas sungai Cikapayang.  Tetapi jangan sangka sungai itu tetap ada. Di bawah jalan yang melayang itu juga diusulkan agar sungai ditutup aspal jalanan. Departemen Pekerjaan Umum, lalu membuat  studi
kelayakan. Studi dilakukan oleh Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB) pada tahun 1992. Sementara itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menawarkan proyek ini pada Kuwait Fund for Arab Economic Development (KFAED).

Pihak Kuwait  mengucurkan dana sebesar Rp 252,7 miliar untuk proyek ini karena terpesona pada desain jembatan cable stayed Pasupati. Jembatan cable stayed adalah jembatan artistik yang
ditopang oleh kabel baja. Keartistikannya tercipta dari susunan kabel-kabel baja yang merentang. Jembatan ini sempat ngetren di berbagai negara sekitar tahun 1990.  

Pembangunan Jalan Layang dan Jembatan Pasupati dimulai tahun 1999, diawali penandatanganan kontrak antara Departemen Pekerjaan Umum dan kontraktor tender, PT Wijaya Karya, PT Waskita Karya, dan Combained Group CO (Kuwait) Joint Operation.

Sayangnya, karena masalah ekonomi, politik, serta sulitnya melakukan pembebasan laha,  pembangunan jalan layang sempat tersendat selama tiga tahun. Itu sebabnya nilai kontrak yang semula Rp 252,7 miliar berubah menjadi Rp 437 miliar.

Untuk mewujudkan jembatan layang yang melintang dari Jalan Pasteur ke Jalan Surapati (Pasupati), Pemerintah Kota Bandung membebaskan lahan seluas 56.000 meter persegi dengan biaya sebanyak Rp 47 miliar.

Proyek Pasupati tersebut telah menebang sekitar 600 pohon besar. Kalau kata ahli lingkungan, satu pohon bisa memberikan oksigen bagi dua orang. Berarti oksigen untuk 1.200 orang manusia hilang sudah. Padahal lagi, pakar lingkungan lainnya mengatakan, pohon merupakan sebuah bendungan air paling canggih ciptaan yang Mahakuasa. Karena saat air hujan tercengkram akar pepohonan, dengan daya hisap pohon, bermilyar-milyar tetesan air itu akan diam. Menjadi bendungan air alami bagi umat manusia. Pasti  600 pohon itu yang terus mengaliri sungai Cikapayang dulu dan memberi kesegaran bagi gelandang di bawah jembatan Cikapayang. 

Aku “berdiri” di antara cerita akhir masa keindahan sungai Cikapayang dan masa awal lahirnya Jembatan raksasa bernama Pasupati yang melayang dan menghabisi riwayat sungai tersebut. Jembatan itu memiliki panjang  2,147 kilometer dan lebar 21,53 meter. Untuk melintasi Jembatan Layang tersebut, orang bisa masuk dari lima pintu yang berada di Jalan Surapati, Tamansari, Cihampelas, Pasirkaliki, dan Junjunan. 

Meski sudah ada peringatan untuk tidak berhhenti di jembatan layang, kadang saat malam ada saja orang nekad berhenti di dekat menara jembatan cable stayed berbentu segitiga untuk berfoto. Menara tersebut tampak megah setinggi 37,5 meter dan panjang 161 meter. Tapi kemegahannya terasa kontras dengan bangunan-bangunan rumah di daerah kebon bibit, di bawah jembatan yang kini tinggal puing-puing.

Dulu, temen kosku sempat membawa aku ke rumah kos temannya di kebon bibit. Kayaknya rumah kos tersebut jadi satu dari puluhan atau ratusan bangunan yang dirubuhkan demi jalan layang. Di selatan jalan layang juga terdapat sebuah klinik. Dulu aku sempat datang untuk wawancara mengenai Infeksi Saluran Pernafasan Atas di sana.

Hidup cepat banget berlalu ya. Aku berdiri di antara dua masa pada kisah Cikapayang.  Sekarang kalau lihat ke daerah bawah jembatan dari kebon bibit menuju Cihampelas, tak jarang kita bisa lihat anak-anak main bola di kolongnya. Mereka berguling-guling di tanah yang berdebu. Berlari ke sana-kemari, sementara di sisi yang lain mendekati Jalan Cihampelas, para waria tampak memperheboh riasan wajahnya sebelum naik ke perempatan lampu merah. “Aku tak mau kalau aku dimadu….”

~ oleh warungminum pada Mei 25, 2008.

10 Tanggapan to “Cikapayang – Bandung”

  1. hmm.. aku nggak sempat lihat 600 pohon itu mbak.. gimana itu rasanya duduk di bawahnya ya? pasti adeeem

  2. aku ga pernah duduk di bawahnya ndah. cuma ngelihat pohonnya berjejer di tepi sungai dari jalan H Djuanda. Tapi klo di jalan Pasteur, aku ingat betul, beberapa kali aku jalan dari depan RSHS ke jalan Cihampelas. Trus lewat ke Unisba, makan atau minum. Jalan lagi ke Taman Fleksi, dulu tamannya belum ditutup gitu. masuk ke Aquarius, atau beli kerak telor di Gelael (kalo ga salah sekarang jadi superindo). Habis itu jalan lagi ke kubangsari, kosku dulu. Iseng ya….

  3. gw jadi saksi hidup hilangnya ckapayang yang asri dari bumi dago, mulai dari waktu masih asri, terus pohon ditebangin sampe ada orang jatuh dari pohon, terus kesiksa waktu masa pembangunan yang sangat panjang, sampai sempat berantem sama geng motor yang lewat dan membuat debu beterbangan di sekitar. kebetulan gw kos di cikapayang no 5 mulai dari dr 1996 sampai sekarang. kualitas udara (kualitas hidup juga pastinya) menjadi menurun, bisang, debu, panas, dll, pokoknya nggak nyaman. di sisi lain, adanya jembatan memberikan kemudahan akses ke beberapa tempat yang sangat ngebantu banget, yah begitulah pembangunan selalu membawa ‘korban’. kalo disuruh milih jaman dulu atau sekarang, gw milih jaman dulu deh, sedikit agak muter tapi kualitas hidup banyak orang tetap bagus.

  4. Cikapayang no 5? wah kerasa banget perubahannya ya, Kang. Btw, pas pembangunan Cikapayang aku sempat ninggalin Bandung, trus menetap lagi waktu pembangunan pasupatinya dah mau selesai. Sampai sekarang, aku masih lbh seneng muter ke Wastu klo mau ke pasteur….bukan knp2, takut ketinggian….Hehehe…

  5. waa… saya kos di cikapayang no 3, angktn 05

  6. weleh tetanggaan, yang di tiki ya, om herman?

  7. terimakasih infonya, saya sedang membuat tugas ilustrasi mengenai jalan layang pasopati dan cikapayang. sejarah indah ini sangat membantu saya, kak

  8. wah wah baru tau sejarah Cikapayang..
    saya jg ngekos di Cikapayang 3.. iya TIKI yg om herman..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: