ADA SURGA, TAPI KAMI MEMILIH KELAM…

 Dimuat di KOMPAS – Minggu, 10 Oct 2004 

    MEMILIH laku teater di Indonesia ibarat terjun bebas ke dalam
sumur tanpa dasar. Para pelakunya harus siap menggeluti dunia tanpa
janji materi serta segala tetek bengek yang berurusan dengan
popularitas, misalnya. Bahkan, tak seorang pun mampu memberi rumusan
yang sederhana tetapi jitu tentang totalitas “buta” dari sebagian
orang untuk menggeluti dunia teater. Paling-paling hanya terdengar
ungkapan bernada klise begini: “Teater adalah panggilan jiwa atau
jalan hidup”, atau ada yang lebih luas mendeskripsikan, “Teater
adalah seni hidup”.

    SATU ungkapan terkenal dari dramawan WS Rendra yang dipublikasi
tahun 1970 dan kemudian dimuat dalam buku Mempertimbangkan Tradisi
berbunyi, “Kegagahan dalam Kemiskinan: Teater Modern di Indonesia.”
Meski sudah terentang waktu hampir 35 tahun, rupanya ungkapan itu
masih melekat di antara para penggelut dunia teater di Tanah Air.
    Dulu, di antara anggota Teater Populer pimpinan Teguh Karya (alm)
ada semacam kredo yang terus-menerus didengungkan untuk
mempertahankan semangat berteater. “Di rumah ada surga, tapi kami
memilih kelam di jalan. Ha-ha-ha, heroik kan? Itu yang jadi inspirasi
kami untuk gagah dalam kemiskinan, jadi kami sombong karena miskin,”
kata aktor kawakan Alex Komang (43) di Bulungan, Jakarta Selatan,
lokasi nongkrong favorit Alex.
    Spirit itu pula yang membuat Alex tidak betah dengan keglamoran.
Ia mengaku tidak memenuhi tawaran sebagai penyanyi ketika memenangi
Piala Citra. Kendati telah bermain dalam film garapan Teguh Karya,
seperti Secangkir Kopi Pahit atau Doea Tanda Mata, serta beberapa
sinetron, seperti Kembang Padang Kelabu dan Kesaksian, Alex tetap
tampil bersahaja. Ia masih suka nongkrong di Warung Apresiasi
Bulungan (Wapress) Bulungan, tempat biasa para seniman berinteraksi.
    Kebutuhan berinteraksi, kata Alex, yang membuatnya bergabung
dengan Teater Populer. “Teater Populer bukan simbol, melainkan tempat
interaksi di antara manusia. Kata Pak Teguh, teater adalah upacara
bersama, tak hanya aktor, tapi sampai pekerja panggung,” ujar Alex.
    Kehidupan bohemian di Teater Populer diceritakan lebih rinci oleh
aktor Slamet Rahardjo Djarot. Bersama Nano Riantiarno, Tuti Indra
Malaon (alm), Franky Rorimpandey, dan Boyke Roring, Slamet adalah
anggota pertama-tama Teater Populer. Pada awal tahun 1970-an, Teater
Populer pentas secara reguler di Hotel Indonesia. Mereka kemudian
mendapatkan tempat latihan tetap di basement hotel itu. Tempat itu
kemudian tidak saja dijadikan aktivitas berteater. Para anggota
Teater Populer memanfaatkannya sebagai arena makan, mandi, dan bahkan
tidur. Karena mendapatkan honor yang kecil, urusan makan menjadi
masalah. Namun, karena terbiasa lapar, kata Slamet, sutradara film
Telegram ini, “Makan itu penting, tetapi yang lebih penting lagi
mengendalikan lapar.”
    Kebiasaan hidup lapar secara perlahan telah membentuk para
pekerja teater untuk tidak berorientasi pada pertunjukan. Justru
proses latihan dan bekerja mempersiapkan pementasan telah memberi
mereka semacam spirit untuk tetap bertahan, termasuk bertahan
hidup. “Teater adalah seni untuk hidup,” kata Slamet Rahardjo.
    Alex menyamakan teater sebagai jalan pedang. Pandangan ini
menganggap bahwa teater semacam kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Kalaupun nanti Teater Populer berproduksi lagi-ada rencana
menghidupkan lagi Teater Populer-urgensinya bukan lagi mengibarkan
bendera. “Yang utama adalah membentuk atmosfer dan komunitas di mana
segala usaha aktualisasi diri itu terwadahi,” kata Alex Komang.
   
    SEZAMAN dengan “penggelandangan” Teater Populer, Bengkel Teater
Rendra di Yogyakarta tahun 1970 mengadakan perkemahan kaum urakan di
Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Sepulang dari Amerika Serikat,
Rendra lebih kencang lagi menggiring teater untuk tidak berorientasi
pada panggung. Di kampung-kampung sekitar Parangtritis, seluruh
anggota Bengkel diminta berinteraksi dengan warga. Dari situlah
kemudian lahir lakon Perjuangan Suku Naga.
    Dalam aktualisasi sehari-hari, Rendra membuat Bengkel Teater,
termasuk setelah dipindahkan ke Depok, menjadi komunitas tersendiri.
Para anggota Bengkel hidup, berkeluarga, dan tinggal di Bengkel. Guna
menopang hidup sehari- hari, Rendra mengajarkan mereka untuk mengolah
tanah. Itulah antara lain jiwa swasta yang selalu disebut-sebut
Rendra dipelajari dari ayahnya.
    Sekarang pun ketika godaan dunia hiburan televisi demikian besar,
masih saja terdapat orang-orang “gila” yang menghayati teater sebagai
sebentuk ritual. Sebutlah, misalnya, apa yang dilakoni sutradara dari
Teater Tetas, AGS Arya Dipayana. Aji, begitu panggilan Dipayana,
memutuskan berhenti bekerja di sebuah biro iklan hanya untuk total
menggeluti dunia teater.
    Aji mengakui, pada setiap memproduksi sebuah pementasan, ia
senantiasa dihadapkan pada soal yang sama: dana! “Tetapi, teater
selalu memberi jalan keluar,” katanya. Ia, misalnya, sejak awal sudah
menegaskan kepada para pemainnya bahwa dalam teater tidak layak
menghitung jerih payah. “Pasti tidak ada honornya,” katanya
menambahkan.
    Bahkan, kepada artis-artis seperti Cornelia Agatha dan Wulan
Guritno (Baca: “Pesona Panggung bagi Si Cantik” di halaman 14), Aji
tak pernah memberi bayaran apa-apa. “Teater bukan untuk mencari uang,
bahkan sebaliknya sangat menyita uang, tetapi saya tidak kapok,”
katanya.
    Kepercayaan kepada teater yang akan selalu memberi jalan keluar
dibawa Aji sampai pada kehidupan sehari-hari. Ia mengaku tak pernah
pusing jika di sakunya tidak ada uang. Aji percaya betul, pengabdian
yang ikhlas akan membawa jalan hidupnya sendiri.
    Barangkali patut juga ditengok kehidupan aktor gaek yang tinggal
di Bandung, Mohamad Sunjaya (67). Teater telah menjadi jalan hidupnya
ketika bersama Suyatna Anirun (alm) mendirikan Studiklub Teater
Bandung (STB) tahun 1958 silam. Ketika STB memudar seiring dengan
kepergian Suyatna, Sunjaya tetap berteater dengan membentuk Actors
Unlimited lima tahun yang lalu.
    Pengabdian Sunjaya pada teater pastilah tak bisa diragukan lagi.
Ia rela mengorbankan kehidupan pribadinya dengan melajang sampai kini
dan bahkan tetap hidup di kamar kos. Ia mengaku mengambil jalan
berbeda dengan beberapa saudaranya yang lain. Ada saudara kandungnya
bahkan pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat atau Bupati
Majalengka.
    “Inilah prestasi saya, sampai berusia 67 tahun saya tidak punya
rumah. Tapi saya tidak pernah miskin,” ungkapnya.
    Kalau dia memiliki uang berjuta-juta, tambahnya, lebih baik
dipergunakan untuk memproduksi teater. Ia mengaku pernah menjual
motor, kamera, dan radio digital kesayangannya untuk pementasan
teater. Kepahitan hidup, seperti kelaparan di mana kemudian ia harus
menjual koran-koran bekas milik temannya hanya untuk sekadar makan,
justru makin menguatkan cintanya pada teater.
    Kepahitan serupa dirasakan pula oleh aktor kawakan dari Teater
Koma, Salim Bungsu (46). Rumahnya yang berlokasi di pelosok Kampung
Kahrikil, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, tampak sangat sederhana
untuk ukuran aktor seterkenal Salim. Ia mengatakan, rumah itu ia
bangun secara bertahap dari honornya bermain teater dan sinetron.
    Di rumah itu, ruang tamu sekaligus berfungsi sebagai ruang
keluarga dan ruang makan. Di sudut ruangan terdapat sepeda motor
yang, kata Salim, belum lunas kreditnya.
    Aktor ini bergabung dengan Teater Koma pimpinan Nano Riantiarno
tahun 1979. Pada saat yang sama, ia diterima bekerja sebagai pegawai
negeri dengan menjadi pesuruh di sebuah SD di Petojo Utara, Jakarta
Pusat. Namun, sejak tahun 1986 ia memutuskan berhenti menjadi
pesuruh. “Dan sepenuhnya hidup semata dari uang permen,” katanya.
Uang permen itu istilah Ratna Riantiarno untuk honor bermain teater.
    Salim Bungsu mengakui bahwa tak mungkin mampu menghidupi istri
dan empat anaknya dari hasil bermain teater. Kendati dalam setiap
pementasan Teater Koma senantiasa dipadati penonton, itu bukanlah
jaminan bagi kesejahteraan seorang aktor.
    Oleh sebab itu, ketika tak ada produksi di Teater Koma, Salim
mencari nafkah tambahan dari dunia film dan sandiwara-sandiwara
produksi TVRI. Belakangan, Salim juga bermain dalam beberapa
sinetron. “Tetapi, meski sudah lama berkesenian, pengiklan tidak
mengenal saya. Jadi, kalau bicara honor, saya ya enggak punya posisi
tawar. Tentu saja enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan artis-
artis yang masih ABG sekalipun,” kata Salim yang begitu populer
ketika memerankan tokoh Julini dalam lakon Opera Kecoa.
    Selain itu, Salim juga mengaku berkebun singkong untuk mencari
tambahan penghasilan. “Lumayan juga sekilonya bisa Rp 150, kalau jual
satu kuintal kan sudah lumayan,” ujarnya.
    Teater bagi Salim Bungsu tak hanya wadah melampiaskan
kecintaannya pada dunia seni peran. Lewat teater, ia mengaku banyak
belajar mengenai manusia. Ia secara leluasa bisa melakukan observasi
terhadap kehidupan manusia sehari-hari lewat teater.
   
    SUTRADARA Teater Kami Harris Priadie Bah punya cara yang agak
taktis di dalam membiayai seluruh pertunjukannya. “Saya selalu
bekerja sama dengan pusat-pusat kebudayaan asing yang ada di Jakarta.
Setidaknya setengah dari ongkos produksi bisa ditutup,” katanya.
Hebatnya, ia selalu memasang target, sisa produksi hari ini untuk
menopang hidupnya selama enam bulan ke depan sampai kemudian
berproduksi lagi.
    Cara ini memang kemudian memberi cap Teater Kami sebagai teater
kedutaan asing. “Saya kira tak masalah. Itulah cara kami untuk tetap
memberi hidup pada teater,” ujarnya. Harris mengaku, sejak masuk ke
Sekolah Teater dan Film yang didirikan Gerson Poyk dan kemudian
bergabung dengan Teater Sae, ia telah memutuskan hidupnya untuk
teater.
    Kalau toh kini menjadi salah satu pengurus Dewan Kesenian Jakarta
(DKJ) dan mendapatkan hasil cukup dari situ, ia tak bisa dilepaskan
dari pengabdiannya pada teater.
    Kendati mengaku tetap berada dalam tegangan, berteater atau hidup
mapan sebagai manusia, sutradara Teater Bandar Jakarta Malhamang
Zamzam (42) tetap memilih teater. Karena itu, sejak tiga tahun
terakhir ia mengaku tinggal di Padepokan Rendra. “Pilihan hidup
teater itu dosanya pada realitas sehari-hari ha-ha-ha,” kata
Malhamang.
    Banyak aktor-aktor atau pekerja teater yang secara tulus ikhlas
jatuh bangun bersama kelompoknya. Sekadar menambah deretan nama tadi,
masih ada Dorman Borisman, atau Jose Rizal Manua, atau juga beberapa
nama di kota lain yang menjadikan teater sebagai ritual untuk
menghayati hidup. Dorman mengaku menerima tawaran bermain sinetron,
kendati selalu menjadi pemeran pembantu, hanya untuk membiayai pentas-
pentas kelompok teaternya. Begitu juga Jose Rizal. Ia pernah
bergabung dengan Putu Wijaya, Arifin C Noor, dan belakangan bersama
Remy Sylado. “Teater itu sudah napas saya,” ungkapnya.
    Rumusan bahwa teater sebagai seni dalam menjalani hidup atau
teater sebagai panggilan jiwa, pada akhirnya memang terlampau
sederhana untuk menggambarkan “kegilaan” sebagian orang untuk terjun
bebas di dalamnya. Ada sebagian dari seniman kita rela menjalani
peran sebagai “pengabdi” dengan mengorbankan segala keinginan akan
kemewahan, keterkenalan, dan bahkan mengingkari kehidupan “normal”.
Meski dalam pengertian yang agak berbeda, Rendra menyebut fenomena
ini sebagai gagah dalam kemiskinan. Mungkin inilah kemudian yang
diterjemahkan dengan bahasa slengeÆan masa kini yang berbunyi, biar
miskin asal sombong….
                                                  (Y09/SF/XAR/EDN/CAN)

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: