AKIAT, JUARA DUNIA LAYANG-LAYANG TANPA UANG

 

SETIAP kali Lie Fie Kiat atau Akiat (50) bertanding layang-layang
di luar negeri, penonton mengelu-elukannya. Bahkan ketika pertama
kali ia berlomba di dunia internasional pada tahun 1998, penonton
sudah menyambutnya. Namun, setiap kali pulang ke kota kelahirannya di
Bandung, ia kembali berjualan layang-layang.
LOMBA layang-layang mempermainkan dua kategori, layang-layang
tarik dan hias. Layang-layang tarik dinilai dari kemampuan memutuskan
benang lawan, sedangkan layang-layang hias dinilai berdasarkan
keindahan ketika dimainkan.
Di dunia lomba layang-layang tarik, Akiat dikenal dengan teknik
permainannya yang fantastis. Teknik andalannya adalah menekan benang
lawan dari atas hingga putus. Sementara hampir semua lawannya
menggunakan teknik mengejar layang-layang untuk memutuskannya. Untuk
menghindari lawan yang selalu memburu layang-layangnya, Akiat cekatan
menurunkan layang-layangnya hingga mendekat ke tanah. Saat tiarap
itu, Akiat bisa menjerat benang lawan dan memutuskannya.
Dibandingkan dengan lawan-lawannya, perjuangan Akiat cukup berat.
Akiat harus rela luka-luka karena bermain hanya dengan tangan.
Padahal, ketika berlomba seperti itu, angin di Perancis dua kali
lebih besar daripada di Indonesia.
Lawan-lawannya dari berbagai negara memainkan layangan dengan
bantuan alat penarik-ulur. Pelayang dari Korea biasa menggunakan
kincir, sedangkan beberapa negara lainnya menggunakan poros. Semua
tergantung tradisi permainan layang-layang setiap negara.

***
AKIAT merebut berbagai gelar juara, termasuk pada acara 13th
International Dieppe Kite Festival di Pantai Dieppe, Perancis,
tanggal 18-19 September 2004. Festival ini diikuti 225 peserta dari
33 negara.
Sebelumnya, ia menjadi juara di Festival Layang-layang
Internasional di Dieppe 1998 dan di Pyneneens tahun 2000. Pada
Festival di Dieppe tahun 2002, ia merebut peringkat ketiga.
Akiat mulai mengikuti lomba layang-layang sejak 1985 di acara
Agustusan di Bandung, lalu beberapa kali ikut perlombaan di Jakarta.
Perjalanan ke dunia internasional diawali kesertaannya di festival
layang-layang internasional di Jakarta tahun 1997.
Saat itu ia mendapat peringkat kedua. Namun, rupanya teknik
permainannya diperhatikan pemain layang-layang dari Perancis bernama
Marco. Marco, yang juga wartawan, mendatanginya di Bandung dan
meliput kegiatannya. Itu sebabnya, sebelum ia menginjakkan kaki untuk
pertama kali di Perancis, publik setempat sudah mengenalnya.
Tahun 1998, Akiat kalut ketika diundang berlomba di Perancis. Ia
tak punya uang dan tak bisa berbahasa Inggris. Maklum, sekolah dasar
pun dia tidak lulus.
Tapi tekadnya sangat kuat. “Saya pikir, saya harus ikut demi nama
bangsa dan bisa memberi contoh pada anak bahwa hidup itu harus ulet,
disiplin, dan kerja keras,” kata ayah Andreas Reza Wijaya (5) ini.
Atas dukungan istrinya, Aifang (34), Akiat bisa berangkat.
Istrinya adalah sarjana Sastra Inggris Universitas Maranatha Bandung
dan sarjana ekonomi dari STIE Bandung.
“Tabungannya dari hasil mengajar sejak kuliah habis untuk
membiayai saya ke sana,” kata Akiat.
Waktu itu, panitia hanya memberi tiket dan membiayai
akomodasinya. Sementara tanpa istrinya, Akiat tak mungkin bisa
berkomunikasi di sana. “Makanya tiket dan biaya istri saya harus
ditanggung sendiri,” kata Akiat.
Sebetulnya saat itu Wali Kota Dieppe dari Perancis telah mengirim
surat untuk Wali Kota Bandung. “Tapi tidak ada perhatian. Mungkin
suratnya nyangkut dan tidak sampai,” kata Akiat yang tak berani
meminta dukungan biaya dari sponsor.
“Sebetulnya saya memang ingin bilang ke pemerintah soal layang-
layang ini, tapi enggak berani. Sekarang setelah jadi juara lagi,
keberanian untuk ngomong mah belum muncul. Biar orang saja yang
melaporkan, jangan saya,” ujar Akiat.
Selain perlu biaya, untuk mengikuti festival layang-layang
internasional membutuhkan persiapan panjang. “Latihan sampai empat
bulan. Pagi dan sore setiap hari. Jadi, saya tidak bekerja,” katanya.
Setelah jadi juara pun ia cuma mendapat sertifikat. Tidak ada hadiah
uang, apalagi bonus. Tapi Akiat tetap senang. “Ya…, emang harus
rela berkorban,” kata Akiat.
Ia tengah bingung sebab sejak setahun lalu Presiden Klub Layang-
layang Internasional Ludovic Petit memintanya menyelenggarakan
festival layang-layang di Indonesia. Ia mengaku tak bisa
berorganisasi dan tak punya pengalaman.
Akiat menyayangkan tidak adanya perhatian dari pemerintah
terhadap kegiatan layang-layang Indonesia.
“Padahal, kalau mau dijadikan olahraga juga sudah bisa. Main
layang-layang butuh fisik dan strategi yang bagus,” katanya. Akiat
melatih kekuatan tangan dan kakinya dengan bersepeda, lari, dan
bermain layang-layang.
***
MESKI menjadi pembuat dan penjual layang-layang, di masa kecilnya
ia hampir tak pernah memainkan permainan ini. “Tak ada waktu. Saya
harus bekerja,” ujar Akiat, yang sudah harus ikut menafkahi keluarga
sejak usia 10 tahun.
Waktu itu, ayah Akiat yang seorang guru meninggal dunia,
sementara ibunya tidak bekerja. Untuk membantu keluarga, ia membuat
dan menjual layangan serta makanan kecil. Karena tak ada uang, Akiat
tidak mampu menyelesaikan sekolah dasar.
“Saya sempat kerja sebagai pelayan toko sambil tetap berjualan
layangan. Subuh dan malam hari, saya antarkan layang-layang ke warung-
warung. Warung terjauh jaraknya 20 kilometer dari rumah saya,” kata
Akiat.
Setelah modal terkumpul, ia mengontrak sebuah toko di Gang Sereh,
Astana Anyar, Bandung. Ia menjual layang-layang dengan harga Rp 90
hingga Rp 300 per buah. Jika ia mengikuti festival dunia, ia selalu
membawa seribu layang-layang untuk dijual di sana. Harganya 3-4 sen
dollar AS per buah. “Saya sisakan 300 sebagai cenderamata untuk teman-
teman,” katanya.
Layang-layang itu dibuat oleh para petani di Tanjungsari,
Kabupaten Sumedang, sebagai pekerjaan sambilan. Upahnya Rp 7.000 per
hari, dengan target 150 buah layang-layang per hari. Sebagian orang
mungkin menganggap permainan layang-layang sebagai soal yang sepele,
tetapi prestasi dan kemampuan Akiat sudah diakui para pemain layang-
layang dunia. (Y09)

Dimuat di KOMPAS – Jumat, 01 Oct 2004

 

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

2 Tanggapan to “AKIAT, JUARA DUNIA LAYANG-LAYANG TANPA UANG”

  1. salut atas semangat serta pengorbanan yang di lakukan akiat.dengan keterbatasan yang ada justru dia ingin membuktikan kemampuanya di dunia internasional. tapi sayangnya justrue tidak adanya kepedulian pemerintah setempat atas prestasi yang telah diraihnya. yaaaah… jangan kan seorang pemain layang2 bahkan pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan bansa ini kadang2 terlupakan… salam.

  2. BAGUS SEKALI JENIUS,DAN TETAP SEMANGAT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: