Diah Damayanti,MENJUAL MOBIL DEMI TONGKAT KEJU

                        Dimuat di KOMPAS - Minggu, 10 Oct 2004   

    "HEI, kamu ingat buku katalog makanan dari Singapura yang kita 
punya?" kata Diah Damayanti (42) melonjak dari tempat tidurnya pada 
suatu tengah malam. Suaminya, Mohammad Dicky Wahyu (41), juga ikut 
bangun. Lalu keduanya segera meraih buku yang dimaksud dan 
menghabiskan dini hari untuk membuat desain kemasan produk tongkat 
keju (cheese stick) berdasarkan contoh-contoh di katalog.

    SUDAH satu minggu suaminya mendesain kemasan, namun belum juga 
mendapat yang terbaik. Sejak membuka-buka katalog, ide-ide baru 
bermunculan. Akhirnya desain kemasan pun berhasil dibuat. Sebuah 
kantong plastik ukuran satu dan lima ons.
    Ujung plastik berwarna merah bertuliskan merek produk mereka, 
Chrispy. Di bagian bawah dituliskan juga waktu kedaluwarsa dan 
komposisi makanan. Produk awal Yanti, panggilan Diah Damayanti, 
adalah sebuah tongkat keju rasa pizza.
    "Belum ada kan pizza kering. Makanya saya pikirkan terus 
bagaimana membuat tongkat keju rasa pizza," kata Yanti. Sepintas, 
jejeran tongkat rasa keju dan bumbu pasta itu seperti pizza kering.
    Tongkat keju  adalah camilan terbuat dari terigu, mentega, dan 
kuning telur yang dibakar. Bentuknya batang dengan ukuran panjang dan 
diameter bervariasi. Tongkat keju buatan Yanti dan Dicky hanya 
sebesar batang pensil, panjangnya sekitar 15 sentimeter. Adonan 
ditambahi bumbu pasta, keju, atau jagung.
    Yanti dan suaminya membuka usaha pada tahun 1990 di rumahnya di 
daerah Antapani, Bandung. Setiap pukul 02.00 ia bangun dan membuat 
adonan. Selama tiga bulan mereka mengutak-atik bahan kue untuk 
menciptakan makanan baru yang lezat dan disukai banyak orang, yaitu 
tongkat keju  pizza.

    SELAMA itu pula Yanti dan suaminya membagi-bagikan produk untuk 
dicicipi orang. Untuk membagi-bagikan produknya, mereka harus 
menghabiskan modal awal sebanyak Rp 3,5 juta. Uang itu merupakan 
hasil menjual mobil. Sebanyak Rp 500.000 digunakan membeli sebuah 
oven. "Sisanya untuk tes produk," kata Dicky.
    Kemudian Dicky mendatangi toko kue besar di daerah Kebon Kawung, 
Bandung. Mereka membagi-bagikan tongkat keju gratis. "Nah, setelah 
itu banyak orang menanyakan makanan kami pada pemilik toko," kata 
Dicky. Sejak itu mereka pun mendapat pesanan ratusan bungkus tongkat 
keju setiap minggu.
    Dicky pernah juga mendatangi sebuah toko kue besar di Jalan 
Kamuning, Bandung. Sayang tongkat kejunya ditolak. Tapi Dicky tidak 
putus asa. Ia menghubungi saudara-saudaranya untuk datang ke toko itu 
dan menanyakan tongkat keju pizza. Berbondong-bondonglah keluarganya 
datang ke sana dengan mobil-mobil mewah.
    Dua hari kemudian Dicky datang lagi menawarkan makanannya ke toko 
yang sama. Pemiliknya langsung menerima sambil berkata, "Ternyata 
banyak juga yang nanyain  tongkat keju pizza." Dicky pulang sambil 
tersenyum. Ah, enggak tahu dia!
    Kini Yanti dan Dicky telah berhasil memasukkan produk tongkat 
kejunya ke beberapa toko kue besar di Bandung. Dalam seminggu ia 
mendapat pesanan 500 bungkus produk dari sebuah toko kue. Harga 
makanan itu mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 10.800.

    DI salah satu toko kue tersebut ia menjual produk seberat 500 
gram. Mereka telah membuat perjanjian khusus seperti itu. "Karena 
mereka memberi order yang pasti, maka kami terima," kata Yanti. Di 
toko lain ia menjual produk seberat 100 gram yang harganya berkisar 
Rp 3.600-Rp 3.900.
    Selain pesanan yang sudah pasti itu, Yanti mempekerjakan seorang 
wiraniaga. Dalam sehari ia bisa menjual 100-200 bungkus dari dua 
ukuran. Meski sudah memiliki wiraniaga, suaminya tetap mencari 
pesanan. "Sebab di luar, informasi tentang produk dan kemasan baru 
cepat sekali. Kalau terlambat mendapatkan informasi itu, kami bisa 
jatuh," kata Dicky, yang sering jalan-jalan untuk mencari inspirasi.
    "Alhamdulillah, kami tidak pernah kehilangan ide," kata Dicky, 
yang selalu berusaha mengeluarkan dua produk baru dalam setahun. 
Yanti dan Dicky telah memasarkan tongkat keju  rasa pizza, keju, 
jagung, serta pizza roti. Selain bermerek Chrispy, mereka membuat 
merek Raosta dan Maldy.
    Dicky sudah memikirkan membuat bakpao pizza, tongkat keju 
barbeque, dan lain-lain. "Sebetulnya untuk mendiversifikasikan produk 
itu gampang kok," kata Dicky.
    Beberapa waktu lalu mereka juga pernah memasukkan ke pasar 
swalayan di Bandung. "Tapi ternyata kami belum siap. tongkat keju 
dikemas dengan plastik mudah patah, seharusnya pakai kardus. Tahun 
depan kami akan mencoba membuat kemasan baru dari kardus dan stoples 
plastik," ujar Dicky.

    DICKY mengaku tidak pandai memasak. Ia menyerahkan urusan membuat 
adonan pada istrinya. "Saya sih enggak bisa buat kue. Istri saya jago 
sekali," katanya.
    "Sejak muda, saya memang senang membuat kue, sedangkan suami saya 
jago pemasaran. Kloplah. Untung sekali punya suami yang cocok dan 
bisa saling mendukung. Jadi saya enjoy menjalankan hidup," ujar Yanti.
    Yanti dan Dicky pernah kuliah di Jurusan Teknologi Makanan 
Universitas Bandung Raya. Keduanya berasal dari keluarga 
wiraswastawan. Ayah Yanti pedagang benang di Bandung, sedangkan 
sebelas kakaknya bergelut pada bidang makanan jadi.
    Dicky memiliki orangtua pengusaha batik di Tasikmalaya. "Sejak 
kecil kami terbiasa bekerja apa saja untuk membantu orangtua," kata 
Dicky, yang sebelumnya pernah menjual dodol dari kampung halamannya 
ke kios-kios di Kota Bandung.
    Sedangkan Yanti pernah bekerja di perusahaan pembuatan tongkat 
keju milik kakaknya. "Walaupun sekarang kami bersaing, hubungan kami 
tetap baik. Bahkan kami sering saling bertukar bahan kue yang langka 
di pasar," kata Yanti, yang juga menerima pesanan kue basah dan kue 
kering untuk Lebaran.
    Pada masa Lebaran, Yanti bisa menerima pesanan hingga seribu 
bungkus tongkat keju dan roti pizza. "Saya dan karyawan kerja sampai 
sehari sebelum Lebaran. Sebab sampai dua hari setelah Lebaran omzet 
naik. Kadang kami tidak sanggup menyediakannya," kata Yanti lagi.
    Omzet mereka sebanyak Rp 30 juta per bulan. Namun 70 persen 
digunakan untuk membiayai produksi, termasuk membayar gaji karyawan. 
Mereka sudah memiliki karyawan sejak enam bulan membuka usaha. 
Sekarang karyawan pasangan suami istri ini empat orang. Satu orang 
bidang penjualan, sisanya di bagian produksi. Upah karyawan Rp 17.500 
sehari. Jika order banyak, bisa mencapai Rp 25.000 sehari.

    KARYAWAN di bidang produksi harus lajang. Yanti sengaja membuat 
perjanjian itu dengan calon karyawannya. "Saya enggak mau ambil 
risiko. Kalau sudah menikah, konsentrasi ke mana-mana, tenaga 
berkurang, apalagi kalau hamil, tidak boleh kecapekan dan mengangkat 
yang berat-berat," kata Yanti.
    Yanti selalu mengajari karyawannya membuat aneka kue. Ia juga 
tidak pernah merahasiakan resep makanannya. "Saya mau, setelah keluar 
dari sini, mereka mandiri," ujar Yanti.
    Ia tidak khawatir resep makanannya ditiru orang lain. "Ah, rezeki 
orang beda-beda ya. Di tangan orang lain, resep sama pasti bisa beda 
rasanya," ujar Yanti, yang pernah diminta menjual resep dengan harga 
lebih dari Rp 50 juta oleh dua toko kue besar di Bandung.
    "Saya jelas enggak mau. Ini warisan buat anak-anak. Kalau dijual, 
kami enggak bisa memproduksi makanan dengan resep itu," ujar Yanti. 
Dua anak mereka, Goldi Fatihadi Mohammad (13) dan Maudy Dwi Hardina 
(6), sudah pandai membuat tongkat keju.
    Setiap liburan, Yanti sering meminta anaknya magang. Upahnya 
Rp 5.000 per hari. "Kami mengajarkan mereka budaya kerja. Itu penting 
sekali. Mereka harus punya bekal sejak muda. Apalagi sekarang, banyak 
sarjana menganggur," ujarnya memberi alasan. (Y09)

Foto:
Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

6 Tanggapan to “Diah Damayanti,MENJUAL MOBIL DEMI TONGKAT KEJU”

  1. kisah yg menarik🙂
    semoga tambah sukses ya..

  2. wah wah waaaah…. cerita yang bebas pemikirannya… ayo dilanjutkan nulis cerita2nya…. wah wah waaaah

    • thx mas. kebetulan itu tulisan saya waktu msh kerja di koran. btw, kalo pak dadan punya cerita boleh juga ditulis di warungminum

  3. Sangat menarik kisahnya……Salut deh….
    Kukashi Jempol ya….

  4. hmmm kisah yg inspiratif. saya pernah mencoba pizza kering Maldy. rasanya sangat nikmat sekali. kebetulan saya juga memiliki usaha minimarket di Jakarta, dan saya sangat ingin sekali produk Maldy masuk ke toko saya. apakah mbak bisa membantu saya menghubungi mbak Diah? jika bisa apakah boleh saya minta nomor kontaknya? thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: