Enjang Sudrajat, DARI PENGASONG MENJADI EKSPORTIR

Enjang Sudrajat (55) mengidolakan tokoh pewayangan Sunda, Dewi
Primanik, yang mampu melihat peluang masa depan. Itu sebabnya ia
menamai bengkel kerajinan patungnya dengan nama Primanik. Ayahnya
seorang pengukir. Dari ayah dan tetangganya, pria lulusan SMP ini
belajar memahat dan mengukir patung.
Namun, melihat patung-patung kayu melimpah di desanya, ia
kemudian lebih tertarik memasarkan kerajinan milik para perajin. Ia
mengasongkan barang-barang kerajinan kepada orang-orang asing sebagai
pangsa pasarnya. Keluar masuk pelabuhan dan hutan pun dilakukannya.
Kini orang-orang asing dari berbagai negara yang memburu Enjang.
Sejak zaman pendudukan Belanda, penduduk di Desa Cibeusi, Jatinangor,
Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sudah bekerja sebagai perajin patung.
Patung yang dibuat berupa patung orang Bali setengah badan
menggunakan baju tradisional. Patung-patung ini sangat disukai orang
Belanda.
Para perajin menawarkan patung-patungnya kepada orang-orang
Belanda yang bekerja di kebun teh dan karet di seberang Desa Cibeusi.
Orang-orang Belanda itu menyukai patung-patung tradisional. Selain
patung Bali, mereka juga menyukai patung primitif dari Kalimantan dan
Sumatera.
Setelah itu patung-patung Asmat dan Talimbar mulai disukai juga.
Para perajin mendapatkan contoh-contoh patung dari orang-orang
Belanda. Setelah Belanda kalah dan meninggalkan Sumedang, industri
kerajinan patung Cibeusi makin meningkat.
***

“KALAU dulu kami hanya menjual kepada orang-orang Belanda di
perkebunan sekitar Sumedang, setelah itu kami mulai memasarkan ke
luar daerah,” tutur Enjang.
Enjang merupakan generasi pertama yang mulai memasarkan ke luar
Sumedang pada tahun 1970. “Saya bawa kerajinan Cibeusi ke Pelabuhan
Tanjung Priok karena di sana banyak orang-orang kapal dari negara
lain,” tutur Enjang yang hanya mampu berbahasa isyarat dengan orang-
orang asing.
Kehidupan yang keras harus dijalaninya sebagai pengasong di
pelabuhan. “Tidak ada yang boleh berjualan di pelabuhan. Saya harus
melewati empat pos penjagaan. Tetapi dengan berbagai cara, saya bisa
lolos,” ujar Enjang yang biasa masuk kapal pagi hari dan kembali pada
sore hari.
Tak jarang ia ditangkap petugas dan harus meringkuk sehari
semalam dalam sel. “Dagangan pun tidak selalu terjual, kadang saya
tidak makan dan minum karena tak laku,” ujar Enjang.
Kalau para pelaut itu tidak mau membeli karena harga yang terlalu
mahal, Enjang menawarkan barter patung dengan pakaian, atau jam
tangan para pelaut. “Kadang mereka membayar setengah harga, sisanya
dibayar celana jins, jaket, atau jam tangan. Mereka tidak tahu kalau
harga jaket dan jins lebih mahal kalau dijual di Bandung,” kisah
Enjang.
Dari satu jaket atau celana jins, Enjang bisa membeli tiga patung
baru. “Para perajin senang sekali kalau bisa mendapat baju bekas para
pelaut,” kenangnya sambil tertawa. Pakaian-pakaian bekas itulah yang
menambah besar modal Enjang.
***

TAK hanya ke pelabuhan, ia juga memasarkan patung-patung itu ke
Bali, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah Indonesia lainnya. Semua
dilakukan untuk memburu orang-orang asing yang sedang mengerjakan
proyek-proyek di Indonesia. “Saya harus keluar masuk hutan untuk
menemui orang-orang asing yang bekerja di hutan Kalimantan,” tutur
Enjang.
Saat itu, kemampuan bahasa Inggris-nya sudah baik. “Saya mulai
rajin belajar dari kamus dan aktif menggunakannya dengan orang-orang
asing,” ujarnya.
Pada tahun 1983 Enjang bekerja sama dengan pemasar lainnya pergi
ke Kalimantan. Ia menanam modal Rp 2,5 juta untuk berjualan,
sedangkan temannya Rp 1,5 juta. Kerajinan Cibeusi sangat disukai di
sana. Tiap tiga bulan sekali ia pulang ke Cibeusi untuk mengambil
barang.
Menjelang tahun 1985, ia kembali dengan membawa keuntungan
belasan kali lipat. Dari keuntungan itu, ia bisa membeli rumah
lengkap dengan isinya, juga modal untuk membuka bengkel senilai Rp 7
juta.
Dia membuka bengkel tahun 1985 dengan tujuan mendapat keuntungan
lebih besar. “Kalau saya membuat kerajinan sendiri, harga produksinya
bisa ditekan dan keuntungan lebih banyak,” katanya.
Semakin hari, bengkelnya semakin berkembang. Kini Enjang memiliki
sekitar 50 karyawan. Sebanyak 15 orang di bagian pengerjaan akhir,
sisanya pembuat patung.
Para pembuat patung bekerja di rumah masing-masing. Mereka
tersebar di Desa Cibeusi, Cipacing, dan Tanjungsari, Sumedang.
Sementara karyawan di bagian pengerjaan akhir bekerja di
bengkelnya. “Sekaligus saya bagian kontrol kualitas,” ungkap Enjang.
***

PADA tahun 1990 hampir semua perajin patung di Indonesia
memasarkan dagangannya ke Bali. “Persaingan makin ketat. Omzet
banyak, tapi keuntungan hanya sedikit karena pesaing pandai memainkan
harga,” tutur Enjang. Agar tetap eksis, Enjang yang sudah memiliki 20
pelanggan di Bali akhirnya banting setir memasarkan dagangannya ke
Jakarta.
Tak banyak perajin yang memilih Jakarta sebagai tempat pemasaran.
Hingga saat ini ia memiliki empat pelanggan. Pelanggannya di Jakarta
merupakan agen-agen kerajinan yang memasarkan produk kerajinan
Indonesia ke berbagai negara seperti Belanda, Jerman, dan negara
Eropa lainnya.
Enjang juga mulai mengikuti berbagai pameran. Setahun ia
mengikuti empat pameran, antara lain Jakarta Fair, Pameran Produk
Ekspor, Jawa Barat Expo. Dari pameran itu ia mendapatkan para pembeli
dari luar negeri yang langsung menghubunginya. “Mereka memesan lewat
surat, telepon, atau datang langsung ke bengkel,” ujar Enjang.
Pembeli berasal dari Malaysia, Jordania, dan Panama. Kini mereka
menjadi pelanggan Enjang. Dalam Setahun masing-masing pembeli memesan
barang hingga dua kali. Pembeli dari Panama misalnya, melakukan
pembelian senilai Rp 40 juta-Rp 50 juta.
Enjang kini mulai menggunakan jasa internet untuk mempromosikan
produknya. Di situ ia mempromosikan produknya lewat dua situs. Dari
situs internet itu, pembeli dari luar negeri mulai mengirimi surat
elektronik, menelepon, atau memesan lewat faksimili.
Pada Oktober 2004 ini Enjang bahkan mampu mengekspor produknya
secara langsung ke luar negeri, yaitu Lithuania. Pembeli dari
Lithuania datang langsung dan memesan 21.000 patung Afrika.
Untuk mengekspor, Enjang bekerja sama dengan seorang rekannya
yang sudah memiliki badan usaha berbentuk perseroan komanditer
(CV). “Rekan saya mendapat keuntungan dari pengemasan dan kelebihan
selisih rupiah dari kurs dollar AS yang sudah saya tentukan untuk
sebuah produk,” ujar Enjang pula. (Y09)

 

Dimuat di KOMPAS – Sabtu, 02 Oct 2004

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: