FILOSOFI SUNDA DALAM PATUNG CIBEUSI

 Dimuat di KOMPAS – Sabtu, 02 Oct 2004   
    SATU set patung Asmat digambarkan tengah menutup mata, mulut, dan
telinga. Satu set patung terdiri dari tiga patung dengan tinggi 20
sentimeter dan diameter 7 sentimeter. Tapi, patung yang menggambarkan
adegan tak melihat, tak bicara, dan tak mendengar ini juga ada yang
dirangkai dalam satu patung dengan orang yang bertumpuk ke atas.
Tingginya sekitar 35 cm.
    AKSI tutup mata, mulut, dan telinga ini sebetulnya diambil dari
filosofi Sunda yang berisi moal sadenge-dengena, moal saomong-
omongna, moal satingali-tingalina (tidak sekadar mendengar, tidak
sekadar berbicara, tidak sekadar melihat).
    “Saya sengaja membuatnya untuk mengingatkan saya dalam berbisnis
patung,” ujar Ade Ramlan (58), perajin patung dari sanggar Karya
Putra Lestari yang berada di Cibeusi, Jatinangor, Kabupaten Sumedang,
Jawa Barat.
    Persaingan bisnis yang tinggi di daerah itu membuat Ade harus
tahan tidak mendengar hasutan. “Misalnya, soal harga. Kalau ada yang
memanas-manasi bahwa perajin A menjual patungnya lebih mahal, saya
tidak peduli. Biarlah, rezeki orang sudah diatur. Saya memberi harga
sudah masuk akal. Sesuai dengan biaya produksi dan sedikit
keuntungan,” katanya.
    Ia tak ingin menjadi dengki karena melihat perajin lain berhasil.
Juga tak ingin asal bicara, misalnya menghasut orang lain untuk
menjatuhkan bisnis perajin yang lain.
    Diakui Heru (28), perajin lain dari sanggar Pramanik, persaingan
antarperajin di desa itu cukup tinggi. Ada beberapa perajin yang
menjual hasil kerajinan dengan harga murah pada pelanggan dari
perajin lain. “Sebetulnya dulu sempat mau dibuat koperasi agar bisa
lebih menyatu, tapi tidak teralisasi juga,” katanya.
                              ***

    BISNIS patung di desa ini sudah berkembang sejak tahun 1940-an.
Desa Cibeusi berada sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Bandung.
Desa ini berada di seberang Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri
(STPDN), Jatinangor. Para perajin berada tepat di jalan Pengrajin.
Nama tersebut diambil karena sebagian besar penduduknya bekerja
sebagai perajin.
    Menurut Asep Dedi, Ketua Jaringan Kerja Produksi Usaha Kecil
Menengah/Industri Kecil Menengah, Kabupaten Sumedang, ada sekitar 30
pengusaha patung di desa itu. Mereka adalah perajin yang mampu
memasarkan sendiri produknya.
    Penduduk lainnya, sebagian besar juga menjadi perajin patung yang
memasok patung-patung pada pengusaha patung atau menjadi perajin di
sanggar para perajin besar. Masing-masing mempekerjakan karyawan
sekitar 15 hingga 30 karyawan. Selain dari Cibeusi, para pengusaha
memesan patung dari desa lain di sekitar Cibeusi, seperti Cipacing
dan Tanjungsari.
    Dulu, daerah tersebut lebih banyak berupa kebun karet. Penduduk
biasanya memanfaatkan kayu pohon karet untuk dibuat patung. Patung
pertama yang berkembang di sana adalah patung orang Bali setengah
badan yang menggunakan pakaian tradisional. Patung-patung itu dijual
di Jakarta. Ada yang menjualnya pada para pelaut di Pelabuhan Tanjung
Priok, Pasar Baru, atau sentra barang antik di jalan Surabaya,
Jakarta.
    Untuk mempromosikan hasil kerajinannya, para pengusaha juga rajin
mengikuti pameran, biasanya di Jakarta. Dari sana mereka membuka
jaringan dengan para agen ekspor dari Bali dan Jakarta. Dari mereka,
patung-patung itu kemudian diekspor ke berbagai negara.
    “Sekarang kami sedang berusaha melakukan ekspor langsung. Bulan
Oktober ini kami mendapat pesanan mengirim patung orang Afrika ke
Lituania sebanyak 21.000 buah,” tutur Heru. Pemesan dari Lituania itu
memesan langsung ke sanggarnya.
                              ***

    “BANYAK turis datang ke Cibeusi pada September lalu,” kata Ade.
Beberapa hanya berwisata dan membeli sejumlah patung, tetapi ada juga
yang sengaja datang untuk memesan banyak patung untuk diekspor.
    Para pembeli eceran di antaranya para pendatang di sekitar
Cibeusi. Maklum, Cibeusi berada di kawasan pendidikan Jatinangor. Di
sana terdapat empat perguruan tinggi, antara lain STPDN, Institut
Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Universitas Winaya Mukti
(Unwim), dan Universitas Padjadjaran (Unpad).
    Sebagian besar mahasiswa itu pendatang, dan mereka kos di sekitar
Jatinangor. Pada musim liburan tahun ajaran banyak keluarga anak-anak
kos berkunjung ke Cibeusi.
    Para perajin menghargai patung-patungnya dalam rupiah untuk semua
pembeli. Harga-harga patung berkisar dari Rp 7.500 hingga Rp 250.000.
Namun, selain patung, ada juga yang menjual berbagai alat musik dan
mebel. Alat musik yang dibuat adalah alat musik tradisional
Indonesia, Afrika, Aborigin. Barang-barang tersebut dibuat dari kayu
dan bambu. Khusus untuk mebel, harganya bisa mencapai Rp 3,5 juta.
    Kayu yang dipilih jenis mahoni yang berserat halus, namun
berharga murah. Dari patung-patung itu, Ade bisa mendapatkan omzet Rp
20 juta, sedangkan 80 persen dari omzet digunakan untuk membiayai
produksi patung. Sedangkan Heru menghitungnya dari jumlah barang yang
berhasil dijual. Dalam setahun, ia bisa menjual puluhan ribu patung
dan ribuan alat musik.
    Meskipun mereka memasarkan patung-patungnya ke luar negeri
melalui agen-agen di Jakarta dan Bali, perusahaan mereka tak banyak
terganggu karena isu bom Bali maupun bom Kuningan yang lalu. “Waktu
terjadi ledakan bom di Bali, memang penjualan menurun hingga 50
persen. Tetapi, kami bisa memaklumi situasi. Satu tahun kemudian
meningkat lagi,” tutur Ade.
    Menurut Heru, patung yang banyak dijual sekarang adalah patung
Afrika, dan sudah tiga tahun ini bertahan. Patung Afrika yang
dimaksud menggambarkan lelaki hitam berkepala botak dan menopang dagu
dengan punggung tangan kanannya. “Kami mendapat sampelnya dari
buyer,” ujar Heru.
    Dalam memasarkan patung-patung itu, kreativitas tetap
penting. “Kalau terlalu mirip dengan aslinya, kami takut dituntut
karena melanggar hak cipta,” ujar Ade.
    Jadilah ia dan perajin lainnya memodifikasi berbagai gaya pada
patung-patung itu. Misalnya, kalau pembeli memberikan sampel patung
Afrika lelaki, “Kami juga membuat patung Afrika perempuannya,
sehingga kami bisa jual satu set, dua patung. Selain tidak sama
dengan aslinya, kami juga bisa meningkatkan penjualan jumlah patung
karena mereka harus membeli dua sekaligus,” ungkap Ade yang pernah
bermasalah karena dituntut perajin dari Talimbar, Maluku.
    “Waktu itu kami membuat patung Talimbar. Eh, tidak tahunya ada
perajin dari sana menuntut. Saya serahkan masalah ini kepada pembeli
yang memesan, soalnya kami kan hanya mengikuti keinginannya saja,”
tutur Ade. Patung Talimbar adalah patung manusia yang berbadan tipis
dengan sebuah antena di atas kepalanya.
    Menurut Heru, karena mereka harus mengikuti keinginan pembeli,
maka untuk membuat kreasi sendiri sangat sulit. “Kami takut nantinya
tidak bisa dijual. Lebih baik yang sesuai pesanan saja dulu,” ujar
Heru.
    Pesanan yang banyak diminta sekarang adalah patung Afrika,
padahal dulunya patung Asmat dan Talimbar sangat digemari. Salah satu
patung yang sempat populer di sana adalah patung tutup mata, mulut
dan telinga.
    Meskipun patung yang terinspirasi filosofi Sunda itu sudah tidak
laris seperti dulu, isi filosofinya agaknya masih tetap dipegang erat
para perajin di tengah persaingan bisnis yang sangat ketat. (Y09)

Foto:
Lucky Pransiska

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

Satu Tanggapan to “FILOSOFI SUNDA DALAM PATUNG CIBEUSI”

  1. seru juga yach !……………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: