INDUSTRI SENAPAN ANGIN DI CIKERUH YANG SEMAKIN KERUH

Dimuat di KOMPAS Jawa Barat – Jumat, 01 Oct 2004

Bandung, Kompas   
    Sisa-sisa bengkel senapan masih tampak di beberapa bagian rumah
penduduk di Desa Cikeruh, Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Beberapa
meja dengan alat bor dan seperangkat kikir besi tergeletak di atas
meja-meja tua dan berdaki.
    Namun, tidak ada aktivitas di bengkel tersebut. Bengkel-bengkel
itu seperti memperlihatkan “detak kehidupan” industri kerajinan
senapan Cikeruh yang sudah tak mampu lagi berdesing dengan kuat.
    Di bengkel milik Idih Sunaedi (62), alat-alat kerja terbilang
lengkap. Namun, tidak ada yang menyentuh benda-benda itu selain Idih
dan seorang anaknya. Padahal, tujuh tahun lalu ada tujuh karyawan
yang sibuk menghasilkan beberapa senapan angin setiap harinya.
    Pesanan datang dari Poso (Sulawesi Tengah), Maluku, Irian, dan
Aceh. Dalam sebulan, perajin yang bergabung dalam Unit Perajin
senapan Angin Bina Karya, Koperasi Unit Desa (KUD) Cikeruh bisa
memproduksi sebanyak 3.000 pucuk senapan.
    Jumlah perajinnya sendiri mencapai 300 orang dengan jumlah
pedagang sebanyak 20 orang. Bahkan industri ini mampu menyerap 1.512
orang pekerja. “Kami mampu menampung dan membimbing anak-anak putus
sekolah di bengkel kami,” ujar Idih yang juga Ketua Koperasi Industri
Kerajinan Rakyat Senapan Angin Bina Karya.
    Para buruh bengkel mendapat gaji melebihi upah minimum regional
di daerah itu. Oleh karena itu, tidak heran kalau senapan angin
Cikeruh memberi warna tersendiri dalam dunia usaha kecil menengah di
wilayah Sumedang.
    Menurut Idih, industri kecil dan menengah di Cikeruh sudah ada
sejak tahun 1.800-an. Awalnya, industri yang marak di sana adalah
pembuatan senjata samurai.
    Senjata ini banyak dipesan oleh orang-orang Belanda yang bekerja
di perkebunan di sekitar Cikeruh. Di sana terdapat perkebunan teh dan
karet.
    Bekas perkebunan itu sekarang berubah fungsi menjadi gedung-
gedung perguruan tinggi antara lain Universitas Padjadjaran (Unpad),
Universitas Winaya Mukti (Unwim), Institut Koperasi Indonesia
(Ikopin), dan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).
   
                               ***

    Selain pemesanan samurai redup, pemesanan berongsong anjing mulai
meningkat. Sebelum pendudukan Jepang, industri jarum mesin jahit juga
semarak di sana. Industri kecil Cikeruh lumpuh ketika Jepang
berkuasa. “Para penduduk banyak yang berjuang dan beralih menjadi
petani,” kata Idih.
    Industri di sana semarak lagi setelah tahun 1952. Saat itu Saud
(70), yang telah bekerja di pabrik senjata di Batalyon 29,
Tasikmalaya, mengundurkan diri dan kembali ke desanya, Cikeruh. Di
desa itu, ia menerima permintaan memperbaiki senapan angin.
    Sejak saat itu Saud juga mulai membuat sendiri senapan secara
manual. Hampir seluruh bagian senjata dibuat dengan tangan.
    Senapan yang diciptakan Saud adalah senapan angin dengan pompa
dan berpelatuk. Kalau Anda pernah memiliki senapan angin ini, bisa
dipastikan benda itu berasal dari Cikeruh karena hanya diproduksi di
daerah ini.
    Sampai tahun 1979, ada 200 perajin senapan di sana dan 9 di
Cipacing. Cipacing berada sekitar satu kilometer dari Cikeruh.
    Biasanya perajin dari Cikeruh menjual senapan mereka ke Cipacing
karena di sana banyak penduduk Cipacing membuka kios penjualan
senapan. “Jadi, produksinya di Cikeruh, pemasarannya di Cipacing,”
kata Idih.
    Seperti telah diceritakan di atas, masa kejayaan industri ini
terjadi pada tahun 1992. Setelah itu, industri senapan terpuruk pada
tahun 1997 apalagi pada saat terjadi kerusuhan tahun 1998 dan konflik
di berbagai daerah di Tanah Air.
    Konflik tersebut justru terjadi di empat pasar potensial para
perajin Cikeruh, yaitu Poso, Maluku, Irian, dan Aceh. “Setelah
kerusuhan, makin sulit memasarkan senapan ke sana,” kata Idih.
    Menurut Idih, senapan dari Cikeruh digunakan penduduk di daerah
konflik itu bukan untuk berperang, namun untuk mengusir hama
pertanian, seperti tupai yang banyak menghabiskan pohon kelapa.
    Sebelum kerusuhan, tenaga pemasaran senapan dari Cikeruh secara
rutin mendatangi empat wilayah itu. Namun, kini tenaga pemasaran
hanya mendatangi Sumatera dan kalimantan.
    Para tenaga pemasaran kini hanya mengandalkan penjualan ke toko-
toko olahraga di Bandung dan Jakarta, serta orang- orang yang hobi
berburu burung dan berlomba menembak sasaran.
    “Paling seminggu saya hanya beli tiga senapan,” kata Hamzah,
pemasar dari Subang yang tengah memesan senapan di salah satu bengkel
di Cikeruh.
    Perajin lain, Syamsudin, mengaku hanya mampu menjual seratus
senapan per bulan sebelum pemilu legislatif, 5 April 2004. Namun
kini, ia hanya mampu menjual 75 pucuk senapan.
    Syamsudin, Idih, dan beberapa perajin mengaku, selain kesulitan
memasarkan produk, produk mereka kini mendapat saingan dari Surabaya
yang memiliki kualitas lebih baik.
    Senapan dari Cikeruh lebih banyak dibuat secara manual. Hanya
beberapa bagian senapan angin yang dibubut.
    “Kolep (bagian kayu yang terdapat dalam senapan angin) saja masih
dibuat dengan tangan,” kata Dani (40), perajin kolep yang menjual
satu kolep kecil seharga Rp 11.000 dan kolep besar seharga Rp 25.000.
    Dani bisa membuat dua buah kolep besar dalam sehari, sedangkan
kolep kecil bisa tiga. Kolep-kolep dibuat dari kayu mahoni dengan
harga sebesar Rp 800.000 per satu kubik. Satu kubik bisa menghasilkan
70 kolep besar.  (Y09)

Foto:
Kompas/Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: