MEMACU REZEKI DARI KUDA TUNGGANGAN

Dimuat di KOMPAS Jawa Barat – Jumat, 08 Oct 2004

    DUA mobil Kijang memasuki Jalan Cisangkuy, Bandung. Lampu rem
kedua mobil menyala. Serta-merta, belasan lelaki berlari mendekat.
Salah satu tangannya memegang tali kendali kuda. Sekejap saja, mobil-
mobil itu sudah dikepung kuda-kuda dan orang yang menyewakan kuda.
    PEMILIK mobil membuka jendela, lalu meneliti kuda-kuda yang
mengelilinginya. Ketika kudanya diamati, belasan lelaki itu hanya
terdiam. Namun, wajah mereka tampak berharap kudanyalah yang
terpilih. Lili (40), salah seorang tukang menyewakan kuda, mengelus-
elus kudanya agar lebih jinak dan menawan hati calon penyewa.
    Pemilik mobil menunjuk kuda berbulu coklat. Lili dan teman-
temannya membubarkan diri karena kudanya tidak terpilih. Mereka
beranjak ke pinggir-pinggir Taman Cisangkuy.
    “Begitulah kami bersaing dalam mencari rezeki. Kadang sampai
siang, kuda saya belum terpilih juga,” kata Ocay (24), pemilik kuda
sewa lainnya.
    Ocay sudah sebelas tahun menyewakan kuda. Semula ia hanya
membantu ayahnya yang juga menyewakan kuda di kawasan Ganesha,
Bandung. Delapan tahun lalu ia mulai mandiri. “Saya pinjam satu kuda
pada bapak dan membayar setoran setiap hari,” kata Ocay yang pindah
ke Taman Cilaki tiga tahun lalu.
    Sebelum tahun 1995, hanya di daerah Ganesha para pengunjung bisa
berkuda. Kawasan Ganesha berada di depan Kebun Binatang Bandung, di
belakang Institut Teknologi Bandung.
    Namun, karena pemberi sewa kuda sudah lebih dari 100 orang,
persaingan makin ketat, sebagian pemberi sewa kuda pindah ke Taman
Cilaki. Wisata berkuda di Taman Cilaki ada sejak sekitar tahun 1995,
namun baru tiga tahun semarak. Ada 70 kuda sewaan di sana.
    Taman Cilaki berada di sebelah kanan Gedung Sate. Taman tersebut
diapit oleh Jalan Cilaki dan Cisangkuy. Oleh karena itu, taman ini
juga dikenal sebagai Taman Cisangkuy. Taman Cilaki dipisahkan oleh
Jalan Cimanuk. Taman Cilaki di antara Jalan Cimanuk dan Citarum-lah
yang dijadikan lintasan kuda tunggangan.
    Ocay yang tinggal di Desa Mekarwangi, Dago, berangkat pukul
07.00. Dari desanya, ia menuntun kuda sampai ke Jalan H Djuanda. Dari
jalan besar itu, ia menunggangi kudanya sampai Taman Cisangkuy. Jarak
yang ditempuh sekitar dua kilometer.
    Sampai di Taman Cisangkuy, kuda dipajang di pinggir taman. Para
penyewa yang sebagian besar anak-anak mulai datang pukul 07.00.
Mereka biasanya menyewa lebih dari tiga putaran. “Ada juga yang
menyewa selama satu jam,” kata Ocay.
    Untuk satu putaran, harga sewanya sebesar Rp 3.000. Sementara
ongkos sewa satu jam Rp 60.000 hingga Rp 75.000.
    Pada hari biasa Ocay bisa mengumpulkan uang Rp 15.000 hingga Rp
20.000. Sementara pada hari libur bisa mendapat Rp 50.000. Semua
penghasilan ia setorkan kepada bapaknya sebagai pemilik kuda. “Tetapi
biasanya, setiap hari bapak saya memberi uang rokok,” ujar ayah satu
anak ini. Ocay menyewakan kuda hanya empat kali seminggu. Tiga hari
lainnya dipakai untuk bertani tomat di kebunnya.
    Selain Ocay, ada Eri (24), tukang bangunan yang datang ke Taman
Cisangkuy jika tak ada pekerjaan. Ia tidak memiliki kuda, tetapi bisa
menyewakan kuda dengan sistem bagi hasil. Ia mendatangi pemberi sewa
kuda lain yang sudah letih bekerja. Jika ada yang ingin menyewa, Eri-
lah yang melayani.
    Uang hasil menyewakan kuda yang didapat Eri dibagi dua dengan
pemilik kuda. “Kadang sehari saya membawa uang Rp 10.000. Pada hari
libur baru bisa Rp 30.000,” ujar lajang ini.
    Eri tinggal satu desa dengan Ocay dan beberapa pemberi sewa kuda
lain yang beroperasi di Taman Cisangkuy. Untuk menambah
penghasilannya, Eri ikut merawat kuda-kuda tersebut. Dari pekerjaan
itu, ia mendapat tip.
    Selain Eri, wisata berkuda ini juga memberi rezeki buat Nana,
tukang parkir di daerah itu. Pada hari Sabtu dan Minggu Taman
Cisangkuy biasanya ramai. Ratusan mobil dan motor diparkir di sana.
Banyak pengunjung yang ingin menyewa kuda. Di antara para pengunjung,
banyak artis terkenal menyewa kuda untuk anak-anaknya.
    “Untungnya taman ini terbuka, jadi orangtua anak-anak itu enggak
perlu mengkhawatirkan anaknya karena mereka bisa melihat dan
mengawasi anaknya saat berkuda,” kata Ocay.
    Karena sebagian besar penyewa adalah anak-anak, pemberi sewa kuda
harus waspada. “Risikonya besar, kami takut anak tersebut jatuh.
Makanya, kami tidak mau kalau penyewa ngotot menunggangi kuda tanpa
kami dampingi,” kata Eri.
    Oleh karena itu, para pemberi sewa kuda biasanya berlari di
samping kuda menjaga keamanan penyewa.
    “Makanya, capek sekali. Apalagi kalau penyewa berputar berkali-
kali. Capek lari, tetapi nanti uangnya lumayan,” ujar Eri. “Uang yang
didapat sedikit, tetapi risikonya besar,” ujar Ocay.
    Fahmi (4,5) yang baru pertama kali menunggang kuda mengaku
senang. “Kami sudah sering lewat jalan ini dan melihat kuda-kuda itu.
Tetapi, dia belum mau karena takut,” kata Amri (34), asal Palembang.
    Saat Fahmi menunggang kuda, giliran Amri yang waswas. “Habis di
sini kuda dan kendaraan bermotor berada dalam satu lintasan. Saya
takut terjadi apa-apa,” katanya.
    Menurut Amri, wisata berkuda sebaiknya dikembangkan di tempat
yang teduh. “Tetapi, kalau bisa ada pengaturan jam untuk kendaraan
bermotor. Misalnya, ada jam-jam pengendara kendaraan tak bisa
melewati daerah ini. Mungkin di sini hanya cocok untuk sepeda dan
kuda saja,” tutur Amri.
    Meski risiko yang mereka tanggung cukup besar, Ocay tak ingin
berkomentar soal kendaraan dan kuda yang berada di lintasan yang
sama. “Ada juga kuda yang bandel, suka menendang kendaraan yang
lewat, tetapi kami berusaha membuat kuda-kuda kami tak membahayakan
orang,” ujar Ocay. (y09)

Foto:
Kompas/Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: