MEREKA YANG MERANA DI KOTA BANDUNG

 Dimuat di KOMPAS Jawa Barat – Sabtu, 02 Oct 2004   

    “AKU pingin rumah yang seperti itu,” kata Haryati (8) sambil
menunjuk rumah besar bercat hijau di Jalan Bengawan, persis di depan
Taman Anggrek, Bandung. “Tetapi, warnanya kuning,” lanjutnya lagi.
    AKU juga pingin tidur di ranjang bertingkat. Aku yang di atas,
kakakku tidur di ranjang bawah,” khayalnya sambil menyusut ingus.
    Bukan tanpa alasan kalau gadis kecil itu berkhayal demikian.
Maklum, selama hidupnya, ia tidak pernah mempunyai rumah yang layak.
Sejak bayi, ia tinggal di sebuah kios tripleks berukuran 5 meter x 3
meter di Jalan Anggrek, di belakang SLTP Providentia. Sementara di
sekitarnya berdiri rumah- rumah megah.
    Dua minggu lalu rumah mereka diporak-porandakan oleh oknum
Ketertiban Umum Kota Bandung. Dengan uang Rp 200.000 dari hasil
penjualan televisi, ayahnya, Misbah (60), membuatkan rumah berukuran
sama di atas Taman Anggrek. Sayang, baru dua hari ditempati, rumah
dari tripleks itu diangkut lagi oleh oknum dari institusi yang sama.
    Dan, kini Haryati harus tidur di atas tenda ala kadarnya di
tengah taman yang sama. “Rumah” baru Haryati berbentuk segitiga siku-
siku, berangka kayu, beratap plastik biru, dan berlantai semen. Tak
ada pintu, tak ada jendela. Kedua sisinya terbuka.
    Di dalamnya, pakaian, bantal, tas, buku-buku, panci, dan perkakas
rumah tangga bertumpukan. Di atas barang-barang itu, Haryati tidur
dengan orangtua dan seorang kakaknya. Di luar tenda kayu terdapat
sebuah gerobak berisi kompor dan penggorengan.
    Di tempat itu, Imas (40), ibu Haryati, memasak. Di bawah gerobak
terhampar rongsokan. Ada botol dan gelas plastik, kardus, baterai
ponsel, kaleng biskuit, dan lainnya.
    Barang-barang itu dikumpulkan Imas yang bekerja sebagai pemulung
dari tempat- tempat sampah di Jalan Salam, Jamuju, dan Cicadas.

                                 ***

    DARI usaha menjadi pemulung, Imas bisa mengumpulkan uang Rp
20.000. Kemudian, uang itu digunakan untuk jajan anak-anaknya dan
menabung.
    Ia juga menyapu halaman rumah warga di Jalan Salam. Upahnya
sebulan Rp 50.000. Uang itu ia tabungkan di kantor pos. Tabungannya
kini sudah Rp 150.000.
    “Tabungan itu buat beli rumah,” ujarnya polos. Ia selalu bermimpi
membawa dua buah hatinya hidup dengan tenteram di rumah sendiri.
    “Kalau punya rumah, hidup tidak sengsara seperti ini,” ujar Imas
yang bersuami seorang tukang parkir di Kantor Pemerintah Kota Bandung.
    “Selama menikah, saya belum pernah diberi uang. Saya pun tak tahu
upahnya berapa. Tetapi, setiap hari upahnya dibelikan beras dan lauk
pauk,” kata Imas.
    Hidup di tempat terbuka membuat Imas dan anak-anaknya dihantui
ketakutan. Jika malam tiba, mereka hanya menyalakan lampu badai di
sisi tenda. “Setiap malam saya mimpi yang seram-seram,” kata
Haryati. “Saya juga. Mimpi hantu,” timpal Suryati (11), kakak Haryati.
    Sementara itu, Haryati takut sekali didatangi orang jahat. “Takut
ada yang mencuri barang kami dan kami dibunuh,” katanya. Meski barang-
barangnya cuma rongsokan, mereka pernah dua kali kecurian.
    “Kemarin sepeda Bapak dicuri, padahal masih bagus,” kata Haryati
yang sebelumnya juga kehilangan sepeda yang biasa ia gunakan bermain
di sekitar gubuknya.
    Tak hanya itu, kesengsaraan mereka, di siang hari, jika perut
membelit ingin buang air besar, tak jarang Imas dan anak-anaknya
harus menahan hajat sebab ada rasa malu melangsungkan hajat di
selokan.
    Mau menumpang di rumah orang pun sama saja. “Suka juga menumpang
di pos satpam di rumah sebelah sana, tetapi kalau siang, saya enggak
mau ke sana,” kata Suryati sambil menunjuk sebuah rumah di Jalan
Salam.
    Untuk mandi, mereka pun bisa melakukannya sore hari. “Kalau siang
enggak ada air. Cuma cukup buat masak. Kalau sore kami bisa mandi di
ledeng dekat selokan. Bareng tukang- tukang becak,” kata Haryati
lagi. Selokan berada sekitar 20 meter dari “rumah” mereka.
    Jika persediaan air ledeng banyak di pagi hari, Imas buru- buru
menampungnya di dalam baskom untuk memandikan anak-anaknya di taman.
    Ia ingin anaknya pergi belajar dengan wajah yang tidak kusut.
Tiap hari, dari pukul 09.00- 11.00, Suryati dan Haryati belajar
membaca dan menulis secara gratis di sebuah rumah warga di sekitar
taman.
    Imas ingin anaknya punya pengetahuan yang cukup. “Maunya sih
mereka sekolah di sekolah biasa. Tetapi, anak-anak saya bandel.
Kemarin Suryati sudah kelas dua dan Haryati kelas satu. Tetapi, malah
berhenti,” kata Imas.
    Anak-anak itu berhenti karena tak tahan bersekolah di sekolah
anak-anak orang kaya. “Teman-teman saya bandel. Buku PR saya suka
dicorat-coret karena mereka orang kaya dan kami orang miskin,” kata
Haryati. Suryati membenarkan kata-kata adiknya.
   
    “Saya juga mau sekolah. Tetapi, jangan di sekolah itu (untuk
orang-orang kaya). Cita- cita saya mau jadi orang yang bisa baca,”
ujar Suryati sambil terkikik.
    “Kalau untuk ke dokter, saya sudah bikin kartu sehat. Dibuatkan
dokter kenalan saya di Jalan Salam. Jadi, kalau berobat, gratis,”
ungkapnya sumringah.
    Imas berasal dari Lembang, Bandung. Karena hidup di desa miskin,
ia pergi ke kota untuk melamar kerja sebagai pembantu rumah tangga.
Tempat yang pertama didatanginya adalah Jalan Cilaki, Bandung.
    Belum sempat mendapat pekerjaan, Imas bertemu dengan Misbah di
sana. Waktu itu Misbah bekerja sebagai tukang parkir di sebuah
restoran ayam goreng. Ia tinggal di sebuah kios di Jalan Cilaki.
    Tak lama berkenalan, mereka pun menikah. Imas tinggal di kios itu
selama tiga hari. Karena tak cukup besar, suaminya membuat kios baru
di Jalan Anggrek. Di kios itu, mereka tinggal selama 24 tahun.
    Di kios itu juga, Imas mengandung tujuh kali. Anak pertama hingga
keempat meninggal dalam kandungan. Suryati dan Haryati adalah anak
kelima dan enam. Sementara si bungsu meninggal beberapa bulan lalu
karena ditabrak mobil yang disopiri orang mabuk.
    Waktu itu Imas hendak menjemput Suryati dan Haryati pulang
sekolah. “Sudah jalan di pinggir masih ditabrak juga,” ujar Imas
pedih. Meski semua keperluan pemakaman ditanggung penabrak, Imas tak
mendapat santunan. “Ah, sudah nasib,” ujarnya getir.
    Kata-kata itu juga yang membuatnya bersikukuh untuk hidup
sengsara di kota. “Habis suami saya kerjanya di kota. Saya harus
mengikuti dia,” ujar Imas.
    Untuk kembali ke desa pun, ia tak tahu harus berbuat
apa. “Orangtua saya sudah meninggal. Harta warisan dikuasai kakak
saya. Saya hanya diberi uang Rp 100.000. Buat makan saja habis,”
ujarnya.
    Kembali ke desa pun mungkin membuat ia bertambah sengsara. “Kalau
di sini masih banyak sampah yang bisa saya pungut,” ucapnya.
    Kini, di taman yang dilengkapi dengan lapangan badminton, tempat
duduk untuk bercengkerama, tanaman, dan permainan anak-anak, Imas
selalu dirundung kecemasan.
    “Saya takut digusur lagi. Tak tahu lagi mau ke mana. Uang pun
kami tak punya,” ujar Imas didampingi anak-anaknya yang tampak selalu
tersenyum ceria. Mereka seolah tak mengerti betapa sengsara hidup
yang dijalani orangtuanya.  (Y09)

Foto:
Kompas/Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: