PARA PEMBURU KERAMAIAN INGIN BEKERJA LEBIH TENANG

 Dimuat di KOMPAS Jawa Barat – Sabtu, 25 Sep 2004  

 
    TAMAN di antara dua ruas jalan Banda, Bandung, tampak gersang.
Pohon-pohon besar berjejer di atasnya. Namun, di antara pohon yang
satu dan lainnya, tak ada bunga-bunga atau rerumputan untuk
memperindah kota. Yang terlihat cuma tanah kosong yang gersang dan
berdebu dipenuhi daun-daun yang berguguran.

    DI atas tanah kosong itu-tepat di samping kiri lampu pengatur
lalu lintas di perempatan jalan Riau dan Banda-empat pedagang
menggelar dagangannya. Wahyu (24) ditemani dua kawannya berjualan
perkakas makan impor namun bekas pakai dan cacat. Ada macam-macam
sendok, garpu, piring, gelas, dan mangkuk. Ia juga menjual selimut,
parfum, kartu remi, keset, dan lainnya.
    Sementara itu, di depannya ada Budi (34) yang menjual perkakas
dapur mini. Mulai panci, kompor, toples, yang masing-masing
berdiameter sekitar 10 sentimeter. Ada juga oven sebesar dus
sepatu. “Biasanya yang beli anak kos,” ungkap Budi. “Tetapi, ibu-ibu
juga banyak,” ujarnya tentang para pelanggan yang kebanyakan tertarik
membeli karena keunikan ukurannya.
    Lalu, ada Anton yang menjual sandal-sandal gunung, juga seorang
pedagang lain yang menjual hamster. Pedagang hamster hanya berdagang
pada Sabtu dan Minggu. Sedangkan tiga pedagang lainnya menggelar
dagangannya setiap hari.
    Sabtu dan Minggu adalah hari panen mereka. Pembelinya tak cuma
dari Bandung, tetapi juga orang-orang dari luar kota yang berkunjung
ke beberapa factory outlet (FO) di sekitar Jalan Riau dan Jalan Banda.
    Harga yang ditawarkan para pedagang cukup menarik. Empat piring
impor dihargai Rp 25.000, mangkuk cuma Rp 5.000, selimut Rp 25.000,
toples lucu dihargai Rp 40.000, panci mini Rp 10.000, dan lainnya.
    Selain para pedagang itu, di sisi kiri-kanan trotoar jalan Banda
berjejer para pedagang kaki lima (PKL) lain yang menjajakan berbagai
jenis makanan. Bahkan, ada yang menatanya bak kafe saja, bertenda
dengan meja dan kursi seragam.
    Satu kilometer dari tempat itu, yaitu di Jalan Surapati, pedagang
mebel mini memajang dagangannya. Ada lemari, kursi, dan meja-meja
kecil. Sasaran pasar mereka adalah para pemilik kos dan anak-anak
kos. Namun, banyak juga rumah tangga yang membeli perabotan yang
dijual di sana.

                                 ***
    PARA pembeli juga tak hanya masyarakat Bandung, “Keluarga yang
sedang berwisata ke Bandung juga banyak yang membeli mebel di sini,”
ujar Adit (33), sambil menunjuk satu set kursi mini dan mejanya yang
sedang diminati orang-orang Jakarta. Selain Jakarta, Adit mengaku
sering mendapat pesanan dari Bogor dan kota lainnya.
    Jika melintas di jalan itu, perhatikan aktivitas di sana. Para
pedagang sibuk mendempul, mengamplas, dan memelitur mebel. Di sana
mereka tak hanya menjual barang, tetapi juga melakukan finishing.
Mebel- mebel setengah jadi dipasok para perajin di Sumedang dan
Tasikmalaya. Dalam seminggu satu mobil mebel dikirim ke tiap pedagang
di sana.
    Satu mobil berisi 40 mebel, lemari paling banyak. Harga satu
mobil Rp 3 juta hingga Rp 3,3 juta. Pedagang bisa membayarnya setelah
mebel dapat dijual. Mebel tersebut bisa habis dalam dua minggu.
    Dari 14 pedagang sekaligus perajin mebel di kawasan itu, hanya
satu yang berasal dari Jakarta, yang lainnya berasal dari Desa
Haurkuning Malangbong, Garut.
    Tiap-tiap pedagang rata-rata memiliki tiga karyawan yang
melakukan finishing. Mereka dibayar dengan sistem bagi hasil. Dalam
sebulan rata-rata para pekerja dan pedagang di sana mendapat
penghasilan sebesar Rp 200.000.
    Sebagian besar orang yang bekerja di sana sudah berkeluarga.
Selain itu, ada sekitar tujuh pemasok, masing-masing pemasok
mempekerjakan 10 perajin yang rata-rata sudah berkeluarga dan
memiliki dua anak. Juga terdapat lima tukang becak dan tiga sopir
mobil bak terbuka yang melakukan pengangkutan. Artinya, hanya dari
tempat ini saja, usaha kecil ini menghidupi hampir seribu jiwa.

                                 ***

    BEGITU banyaknya jiwa yang harus dihidupi, wajar jika para PKL
ini sering ketar-ketir berdagang di pinggir jalan, walaupun mereka
sudah membayar biaya “keamanan”.
    Mereka takut terjebak “permainan” yang menyebalkan, yaitu tiba-
tiba ditertibkan dan dagangan mereka disita atau dirampas oleh oknum
petugas.
    Budi dan teman-temannya, misalnya, dua bulan lalu tertimpa apes.
Oknum petugas “membersihkan” dagangannya senilai Rp 1 juta. Untuk
mendapatkannya kembali, Budi terpaksa membayar Rp 150.000. Setelah
itu, mereka pun diperbolehkan berjualan lagi di tempat yang sama.
    Budi dan tiga pedagang lain di Jalan Riau membayar Rp 200.000
sebulan pada petugas ketertiban umum. Namun, Adit dan pedagang lain
di Jalan Surapati juga membayar biaya itu, tetapi tak mau
memberitahukan siapa penerima dan jumlah uang yang disetor.
    Budi tidak tahu apakah pembayaran itu resmi atau tidak. Namun,
para pedagang ini mengaku lebih senang jika diberi peraturan resmi
untuk menggunakan area publik dan batasan-batasan yang harus
dipatuhi. “Kalau jelas bahwa kami membayar resmi, kan kami jadi
tenang,” kata Budi.
    Budi, Anton, Wahyu, maupun Adit berjualan di pinggir jalan karena
memburu keramaian yang berpotensi membeli dagangan mereka.
    “Kalau mempunyai modal banyak dan tidak terdesak kebutuhan hidup,
kami mungkin tidak akan berdagang seperti ini,” kata Anton yang
disetujui oleh PKL lain.
    PKL adalah pedagang yang berjualan di tepi jalan atau trotoar.
Kata kaki lima berasal dari kata tempat di tepi jalan yang lebarnya
lima kaki atau five feet. Oleh karena itu, pedagang yang berjualan di
tepi jalan itu kemudian diberi nama PKL.
    Biasanya PKL tidak terorganisasi, tidak teratur, menggelar
dagangannya di tempat ramai, dan tidak memiliki surat izin usaha.
Hingga kini PKL di Bandung diperkirakan berjumlah 420.000 orang.
Sementara jumlah penduduk Bandung sekitar 2,3 juta jiwa. Artinya,
sebesar 13 persen penduduk di Bandung bekerja menjadi PKL atau pelaku
usaha kecil.
    Berdasarkan rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), suatu
negara akan mampu membangun jika memiliki sedikitnya dua persen
penduduk yang berwiraswasta.
    “Gini-gini kami juga ikut membuat wisata Bandung semarak,” ungkap
Budi. Para PKL di Bandung berharap bisa bekerja lebih tenang di
tengah keramaian.  (Y09)

Foto:
Kompas/Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Mei 27, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: