120 TAHUN INGGIT GARNASIH

Dimuat di Kompas, 28 Feb 2008 

120 TAHUN INGGIT GARNASIH 
 Perempuan Mandiri Pengantar Kemerdekaan

    Batang pohon cempaka yang meranggas, kering, dan keriput itu masih
berdiri di halaman rumah Inggit Garnasih yang meninggal dunia 24 tahun
lalu. Setiap hari Inggit mengambil bunga cempaka dan mencampurnya
dengan ramuan lain untuk dijadikan bedak dan lulur yang ia jual di
sekitar Bandung.
    Kini rumah mantan istri Presiden RI Soekarno di Jalan Inggit
Garnasih Nomor 8, Kota Bandung, itu sudah sepi. Rumah yang tahun 1994
dibeli Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut hanya dijaga oleh
keluarga petugas dari Biro Umum Pemerintah Provinsi Jabar. Beberapa
ruangan di rumah itu kosong. Hanya cempaka, lukisan Inggit
berdampingan dengan Soekarno, serta lukisan Soekarno yang mengingatkan
pada kisah hidup pemiliknya. 
    Semasa hidup, Inggit sering bercerita kepada Tito Asmara Hadi,
cucu keempat Inggit dari anak angkatnya, Ratna Juami atau Omi.  
Menurut Tito, Inggit yang lahir di Kamasan, Banjaran, Kabupaten
Bandung, 17 Februari 1888, itu menikah dengan Koesno atau Soekarno
pada 24 Maret 1923. Sebelumnya, Inggit pernah menikah dengan saudagar
Bandung, Sanusi.
    Saat menikah, Soekarno masih kuliah di Technische Hoogeschool te
Bandung atau Institut Teknologi Bandung. Ia sering berkumpul untuk
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. “Soekarno bukan tipe lelaki yang
bisa mencari nafkah sehingga Bu Inggit harus bekerja untuk keluarga
dan kegiatan pergerakan,” kata Tito.
    Diskusi, berpidato ke berbagai tempat, dan lain-lain dilakukan
Soekarno setiap hari dari pagi hingga pagi. Jika diskusi dilakukan di
rumah mereka, Inggit menyediakan konsumsi. Inggit mendapatkan uang
dari membuat dan menjual bedak, lulur, pakaian, dan kutang. Ia juga
menjadi agen cangkul, parang, dan sabun. Soekarno sempat ditawari
menjadi dosen dan pegawai pemerintah, tetapi ditolak. Soekarno hanya
bertahan beberapa bulan membuat biro teknik tahun 1926. Inggit sering
mendampingi Soekarno berpidato dan menjadi penerjemah bagi orang Sunda
yang tak bisa berbahasa Indonesia.
    Meski penuh derita, Inggit menjalankan tugasnya dengan ikhlas dan
bersemangat. Bahkan, tak jarang ia melakukan hal berbahaya untuk
membantu Soekarno. Saat Belanda memenjarakan Soekarno di Banceuy, di
perutnya Inggit menyelipkan buku sebagai bahan pembelaan Soekarno.  
Saat penjaga penjara lengah, secepatnya ia menyerahkan buku itu kepada
Soekarno. Berkat buku itu, Soekarno bisa menulis Indonesia Menggugat.
Pangkat untuk rakyat
    Ketika Soekarno dipindahkan ke Penjara Sukamiskin, Inggit berjalan
kaki 10 kilometer  mengunjungi Soekarno. Ia tak punya uang untuk
ongkos naik delman. 
    Ketika Soekarno dibuang ke Ende tahun 1933, Inggit membawa Omi dan
ibunya, Amsi, untuk menemani Soekarno di pembuangan. Ia juga turut
serta saat Soekarno dibuang ke Bengkulu tahun 1938. Di pembuangan, 
Inggit tetap bekerja membuat bedak, lulur, dan pakaian. Ia juga pernah
dengan berani berjalan kaki menemui Soekarno dari Bengkulu ke Padang
melewati hutan. Ia hanya berhenti saat makan sambil berdiri karena
jika duduk ia takut tak bisa kembali berdiri.
    Di Bengkulu, Inggit dan Soekarno mengangkat Fatmawati sebagai anak
mereka. Sebelumnya, Fatmawati adalah teman main Omi. Namun, tahun
1942, Soekarno meminta izin menikahi Fatmawati. Karena tak
mengizinkan, Inggit meminta bercerai dan kembali ke Bandung. “Bu
Inggit menikah 20 tahun dengan Soekarno dan selama 14 tahun
mendampingi di pembuangan,” kata Tito.
    Pulang ke Bandung, rumah Inggit sudah hancur. Teman-temannya
membangunkan kembali beberapa tahun kemudian. Meski sudah bercerai,
Inggit yang berusia lebih tua 12 tahun dari Soekarno tetap berhubungan
baik. Soekarno pernah mengunjunginya tahun 1964 dan 1966. Saat
bertemu, Inggit selalu mengingatkan Soekarno bahwa baju berpangkat
yang dipakainya berasal dari rakyat. Karena itu, ia harus terus
berjuang untuk rakyat.  
    Inggit meninggal tahun 1984. Di hari sebelum meninggal, ia tetap
membuat lulur dan bedak untuk menyambung hidup. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: