ADAT KAMPUNG MAHMUD NYARIS HILANG

Dimuat di Kompas, Sabtu (3/3/2007)

 ADAT KAMPUNG MAHMUD NYARIS HILANG
 Kawasan Itu Sudah Tidak Asli Lagi

Bandung, Kompas
    Perubahan zaman, termasuk gaya hidup, di sekitar Kampung Mahmud,
Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Marga Asih, Kabupaten Bandung, telah
banyak mengubah kampung adat tersebut. Banyak anggota masyarakat adat
tak lagi mengindahkan aturan adat kampung. Bahkan, beberapa kaum tua
yang dulu memberi nasihat kepada kaum muda juga mulai nyaman melanggar
larangan adat.
    “Saat yang tua-tua sekarang ini masih hidup saja, di zaman ini
sudah banyak orang Kampung Mahmud yang melanggar. Tak peduli pada
larangan adat, apalagi mungkin puluhan tahun lagi, saat kampung ini
dipimpin generasi anak-cucu kami,” kata Syafe’i (51), salah satu tokoh
yang dituakan sekaligus Pemimpin Madrasah Mahmudiyah, Jumat (2/3).
    Menurut Syafe’i, adat Kampung Mahmud melarang masyarakatnya
membunyikan beduk dan gong, serta memelihara kambing dan angsa karena
membuat desa bising. Masyarakat juga tidak boleh membuat rumah
bertembok, menggunakan genteng mewah, dan kaca. 
   “Tapi lihat saja, sudah banyak keluarga yang membangun dan
merenovasi rumah biliknya dengan rumah bertembok, berkaca, dan pakai
genteng bagus,” ujar Syafe’i.
    Menurut Syafe’i, kini telah terbukti mereka yang melanggar
biasanya sakit, rumah tangganya tidak rukun, atau ekonominya mandek.
“Bukan karena sumpah leluhur, tapi karena perilaku mereka
sendiri, kata Syafe’i yang menjelaskan adat masyarakatnya memang
menerapkan keseragaman agar masyarakat tak saling menonjolkan diri,
berperilaku sederhana, dan menekan rasa sombong.
    “Namun, dengan menonjolkan perbedaan, mereka menuntut dirinya
sendiri memiliki sesuatu berlebihan sehingga melebihi pendapatannya,”
kata Syafe’i.
    Syafe’i mengakui, yang merusak adat kampung tersebut adalah
anggota masyarakatnya yang nakal. “Tidak semua baik-baik, ada juga
yang nakal,” ungkap Syafe’i yang menyesalkan ada juga kaum tua yang
dulu menasihati kini justru melanggar adatnya.
    Pelanggaran adat lainnya adalah pembuatan sumur. “Dulu orang
Kampung Mahmud mandi, minum, dan mencuci dari Sungai Citarum. Tapi
pada tahun 1980-an, sungai kotor karena dipakai membuang limbah
pabrik. Akibatnya, masyarakat tak bisa lagi memakainya. “Akhirnya,
adat memperbolehkan membuat sumur demi kebaikan masyarakat semua. Atas
keputusan tersebut saya tak pernah melihat bencana di desa ini.
Mungkin karena dilakukan untuk kepentingan semua orang,” ujar Syafe’i.

Tidak asri
    Kampung Mahmud kini tak lagi asri. Kebun-kebun bambu milik
penduduk kampung dijual kepada masyarakat kota untuk dijadikan
lahan-lahan pemakaman. “Saya tidak tahu, bagaimana nanti kalau mereka
sudah meninggal, ke mana mereka akan memakamkan keluarganya?” ungkap
Syafe’i.
    Ijon (17), anak muda yang bekerja sebagai perajin mebel, mengaku
senang tinggal di kampung tersebut karena masih ada pekerjaan yang
memadai tanpa harus merantau. (ynt)

Kampung Adat di Jabar :
– Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Pangalengan, Bandung
– Kampung Kuta, Desa Karangpaningal, Tambaksari, Ciamis
– Kampung Mahmud, Desa Mekarrahayu, Margaasih, Bandung
– Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Cisolok,
  Sukabumi
– Kampung Dukuh, Desa Cijambe,  Cikelet, Garut
– Kampung Naga, Desa Neglasari, Sawalu, Tasikmalaya
– Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Leles, Garut
– Kampung Urug, Desa Kiarapandak, Sukajaya, Bogor

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat 

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: