AIR MATA UNTUK PEMBAURAN

Kompas, 3 maret 2006

AIR MATA UNTUK PEMBAURAN 

    Pagelaran tarian dan nyanyian yang menceritakan perjalanan
Indonesia meraih kemerdekaan, memperlihatkan keharmonisan meskipun
kemampuan 142 pelajar sekolah luar biasa itu berbeda-beda. Di atas
panggung, perbedaan tersebut tidak menonjol. Yang tampak adalah usaha
mencapai keharmonisan.
    Meski gerakannya sering terlambat, Ananda I Prawira (23) menari
sungguh-sungguh. Tarikan tubuh dan entakan kakinya berenergi dan
teratur. Seperti menyadari terlambat bergerak, Ananda sering
memperhatikan gerak penari lainnya untuk menyesuaikan gerakan.
    Selama di atas panggung, siswa tuna grahita dari Sekolah Luar
Biasa Yayasan Pendidikan dan Latihan Anak Berkelainan (SLB YPLAB)
Kota Bandung ini diliputi keharuan. Ia terdorong memberikan yang
terbaik bagi penonton yang menyaksikan pagelaran Oratorium Pelangi
Nusantara bertema “Kami Juga Bisa” yang dimainkan oleh anak-anak
berkebutuhan khusus di Teater Tertutup Taman Budaya Dago, Bandung,
Kamis (2/3).
    “Saya bangga dan sedih melihat banyak sekali penonton,” kata
Ananda di belakang panggung. Pagelaran ini ditonton oleh sekitar 500
orang. Kursi penonton penuh saat pagelaran berdurasi 39 menit ini
dimulai pukul 13.00.
    Selama ini Ananda tak sering bergaul dengan orang-orang normal.
Ia hanya berteman dengan sesama tunagrahita di sekolah serta
keluarganya. “Saya tidak mau main sama tetangga. Sebab kalau bicara,
omongan mereka jelek,” kata Ananda yang sering dijahili atau diejek
oleh orang-orang yang masih menganggapnya berbeda.
    Mata Beben (14), siswa SLB tuna rungu di Jalan Cicendo, Kota
Bandung, berbinar ketika menarikan tarian Sunda Sisingaan. Gerak
tubuhnya selaras meskipun seumur hidup ia berada di dunia yang sepi.
Tidak ada suara didengar, termasuk musik Sisingaan yang mengentak dan
mengatur gerak penari.  
    Sambil menyanyikan lagu-lagu daerah, Kamal (18) juga menari.
Karena tak bisa melihat, gerakan tangannya berbeda dengan siswa
tunanetra lain. Namun, suara Kamal dan teman-temannya tetap harmonis.
    Dalam keseharian, remaja asal Aceh yang tinggal di Asrama Panti
Netra Wiyata Guna, Kota Bandung, ini, merindukan berkeliling Kota
Bandung tempatnya tinggal. Namun, ia tidak punya banyak teman yang
mengajaknya berkeliling Bandung.

Tangis bahagia
    Di kursi penonton, beberapa orang tampak menyeka air mata. “Entah
kenapa saya menangis,” ujar Anisa (32), seorang penonton. Setelah
berpikir sejenak, ia melanjutkan kata-katanya. “Saya bahagia
menyaksikan pagelaran ini,” ujar Anisa. 
    Koreografer acara, Rosikin WK, menangis di ujung panggung. “Saya
bangga mereka menari dengan baik. Sejak awal saya yakin mereka bisa,”
ujarnya.
    Selama menata tari, Rosikin mengaku mengalami suasana hati
berbeda ketika mengajarkan tari pada anak-anak berkelainan
tersebut. “Nurani saya gembira. Rasanya puas melatih mereka menari.
Apalagi saya mendapat banyak ilmu baru. Saya belajar menata tari
dengan bahasa isyarat dari anak-anak tuna rungu,” ujar Rosikin.
    Sejak Rosikin melatih tari, sekitar empat bulan lalu, seniman
yang sering menata tari penari profesional ini sering terharu.
Beberapa anak tuna grahita yang lemah daya tangkapnya sering
mendekatinya sambil berkata, “Pak, apa saya bisa menari seperti teman-
teman yang lain?”
    “Saya selalu katakan, mereka bisa,” kata Rosikin.
     Far (34), guru SLB Sukagalih, Kota Bandung, bercerita, selama
membimbing menari, murid-murid menemuinya sekadar mengatakan, “Bu,
jangan lupa ya, kalau gerakan saya salah, tolong dibetulkan,” ujar
Far menirukan kata-kata siswa.
    Kesungguhan pelajar luar biasa, yang sering disebut penyandang
cacatitu, mendatangkan keharuan. Saat acara berakhir, Ade Ridwan
memberi buket bunga pada seorang pejabat sambil mengucapkan terima
kasih. Lalu, ia memeluk seolah memeluk orangtuanya sendiri dengan
mata berkaca-kaca. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: