AKTIF MENYULUH AGAR ANAK MAKIN SEMANGAT

Kompas, Jumat, 12 Jan 2007
    Dini (61) tampak lebih muda dari usianya. Wajahnya selalu
tersenyum. Ia juga amat sabar. Mungkin ini rahasianya ia mampu
bertahan dan lebih berdaya selama mendampingi anaknya yang terinfeksi
HIV.
    Kamis (11/1) siang di ruang tamu rumahnya yang sederhana, amat
bersih, dan rapi di kawasan Kiaracondong, Kota Bandung, ia melayani
dua  tamu laki-laki. “Mereka tukang ojek yang ingin melakukan tes
HIV/AIDS,” ujarnya ketika tamu-tamunya sudah pergi.
    Sejak merawat anak bungsunya yang terinfeksi HIV sejak tahun 2001,
Dini kini aktif memberikan penyuluhan kepada masyarakat di dekat
lingkungannya untuk peduli HIV. Ia datang di kegiatan-kegiatan
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk membagikan pengetahuan
tentang HIV/AIDS.
    Beberapa ibu hamil bersedia untuk dites. Begitu juga dengan
tukang ojek. Banyak di antara mereka memiliki perilaku yang berisiko
HIV/AIDS. Tak hanya itu, di sekitar lingkungannya banyak anak remaja
yang sudah terdeteksi mengidap HIV. “Jumlahnya sekitar 19 orang,”
ujarnya prihatin.
    Ia juga mendekati belasan waria untuk membagikan pengetahuannya.
Kedekatan dengan waria terjadi begitu saja. Suatu hari seorang waria
pengamen melintas di depan rumahnya. Karena waria merupakan salah satu
kelompok yang berisiko terinfeksi HIV/AIDS, Dini dan anaknya
memanggil. Lalu mereka bercakap-cakap. Waria tersebut kemudian
memperkenalkan Dini kepada beberapa belasan waria lain.
    Ternyata, masih banyak waria yang mendapatkan perlakuan yang tidak
nyaman saat berobat ke pusat-pusat pengobatan. Itu sebabnya ada waria
yang terpaksa membiarkan penyakit herpes menggerogoti tubuhnya.
    “Saya kasihan sekali kepada mereka. Kalau saya yang menjadi
mereka, bagaimana?” kata Dini.
    Karena empatinya pada komunitas-komunitas marjinal tersebut, Dini
bersedia dan amat senang jika dirinya dipercaya menjadi “ibu” bagi
mereka yang kehilangan sosok penting itu. Ia bersedia memberikan waktu
untuk mendengarkan curahan hati anak-anak yang merasa tak biasa
terbuka kepada orangtuanya. Beberapa pengidap HIV/AIDS sering datang
kepadanya karena mengeluh sakit dan meminta solusi. Tak jarang mereka
mengatakan, “Ibu, aku pingin ibu jadi ibu saya,” ujar Dini menirukan
permintaan beberapa pengidap HIV/AIDS.
    Dini mengaku kini aktif menyuluh kepada masyarakat tentang
HIV/AIDS karena pengalamannya mendampingi anak bungsunya yang mengidap
HIV. Ia tidak ingin makin banyak orangtua yang mengalami hal serupa
dengannya.

Memakai narkoba
    Ia bercerita, tahun 1996, anak bungsunya, sebut saja Ris, sering
pulang dalam keadaan mengantuk. Saat itu ia sering merasa curiga
dengan tingkah anaknya yang ia sebut bandel tetapi lucu itu.
    Kecurigaannya makin tinggi saat ia menemukan alat suntik dalam
kamarnya. Namun, anaknya yang amat dekat dengannya itu selalu
mengelak, ia memakai narkoba. Sampai suatu hari anaknya pulang dalam
keadaan amat mengantuk. Ia juga tampak tak sadarkan diri karena terus
buang air besar di tempat yang tidak semestinya.
    “Saya bawa dia ke rumah sakit. Baru diketahui dari dokter bahwa
anak saya overdosis obat terlarang. Tandanya ada buih di sudut
bibirnya,” kata Dini.
    Selama tiga hari anaknya tak sadar. “Saya menangis terus. Namun,
saya pasrah apakah ia akan terus bertahan atau meninggal,” tutur
Dini.
    Setelah seminggu dirawat, anaknya sembuh. Ris kemudian dijauhkan
dari lingkungannya dan dibawa kakaknya tinggal di Semarang. Namun,
tanpa diduga, di Semarang ia menemukan komunitas yang sama. Akhirnya,
Ris kembali menjadi pengguna narkoba dan dipulangkan lagi ke Bandung.
    Tahun 2001, Ris diajak bergabung ke lembaga swadaya masyarakat dan
mulai mengikuti tes HIV/AIDS. Ternyata, hasilnya menunjukkan ia
positif terinfeksi HIV.
    “Saya masih mengingat raut wajahnya waktu memberitahu kepada saya
ia positif HIV. Saya pasrah saja. Kematian itu takdir Tuhan. Tapi,
anak saya berjanji pada dirinya sendiri untuk patuh pada aturan
dokter,” kata Dini.
    Dini bersyukur, anaknya tak lagi menggunakan narkoba dan patuh
meminum obatnya. Ia juga aktif menyuluh dan membagi  pengalamannya
untuk orang lain.
    “Saya selalu berkata kepadanya bahwa saya tak ingin memaksakan
keinginan saya padanya. Saya ingin dia sadar atas keinginannya.
Ternyata, mungkin dia bahagia memiliki kesadaran itu,” kata Dini yang
mengaku tak bisa tidur tanpanya.
    Kini ia mengaku menjadi penyuluh untuk memperbesar semangat
anaknya mengabdi kepada masyarakat. “Demi Ris, saya menyuluh. Saya
senang melakukannya. Mudah-mudahan Ris juga makin bersemangat,” kata
Dini yang selalu menyimpan dalam hati perkataan anaknya.
    “Dia bilang, dia tidak akan melakukan hal yang seperti dulu lagi
karena selalu ingat wajah saya,” kata Dini yang merasa tak sulit
berlega hati. Ia makin bahagia karena dalam waktu dekat anak bungsunya
akan menikah. Calon menantunya pun terinfeksi HIV. Keduanya sepakat
untuk tidak memiliki anak, tetapi mengasuh anak yang dilahirkan orang
lain. “Tak apa asalkan mereka masih punya cita-cita. Merawat orang
lain pun tindakan yang baik,” kata perempuan yang diberi penghargaan
sebagai Warga Peduli AIDS oleh Wali Kota Bandung ini.
    Kesabaran, kelegaan hati, dan luas kasih sayangnya mungkin menjadi
pertanda ia memang memiliki kekuatan untuk menjadi ibu yang
menenteramkan bagi para penderita HIV/AIDS. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: