ALAM MEMBUAT MAX BANGUN LABORATORIUM DI RUMAH

Kompas, 21 April 2006
    Lahir di daerah yang tandus, Sumba, Nusa Tenggara Timur, tidak
membuat Maxentius Umbu Hina (39) menganggap bangsanya miskin. Ia
justru melihat kekayaan alam Indonesia yang melimpah berpotensi
membuat bangsa dan negara ini mandiri.
    Max kurang mendapat dukungan keluarga untuk menjadi peneliti.
Padahal, minat meneliti sudah muncul sejak ia duduk di kelas dua
sekolah menengah atas (SMA).
    Saat itu ia membuat mesin perontok padi. “Orang Sumba merontokkan
padi dengan cara menginjak-injak padi ramai-ramai. Ongkosnya sangat
mahal. Makanya saya buatkan mesin yang murah dan cepat kerjanya,”
kata Max.
    Saat mesin dari kayu dan paku itu akan diikutsertakan dalam lomba
penelitian yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
orangtuanya tidak setuju.
    Keinginan anak pertama dari tiga bersaudara ini hampir terwujud
saat ia dipanggil Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur
Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Sayang ia batal jadi
mahasiswa karena telat mendaftar.
    Dengan uang Rp 500.000, ia pulang ke rumah pamannya di Bandung
dan kuliah di Teknologi Pangan, Universitas Bandung Raya. Uang yang
dimilikinya sebetulnya masih kurang. Untung ia mendapat bantuan dari
beberapa orang.
    “Saat orientasi mahasiswa baru, saya tidak pernah membawa makanan
karena tidak punya uang. Untung teman-teman banyak yang memberikan
makanannya. Dari makanan pemberian itu, saya bisa bertahan.
    Saat kuliah, Max mulai meneliti tentang enzim papaine dalam bir
yang diaplikasikan pada virgin coconut oil (VCO). Ia meneliti selama
setahun dan lulus dengan nilai baik tahun 1992.  
    Setelah lulus, Max sempat bekerja di perusahaan konsultasi
hidrologi dan kehutanan, serta di berbagai asuransi. Saat bekerja di
perusahaan asuransi, Max mulai menerapkan kesukaannya dalam bidang
penelitian dengan menjadikan para peneliti di lembaga penelitian
sebagai kliennya.
    Untuk membantu kliennya membayar premi, Max menyarankan untuk
mengumpulkan uap air dari pabrik pengalengan nanas. Uap tersebut
bisa dijadikan air amidis dan dijual dengan harga lumayan mahal. 
Air amidis baik untuk kesehatan karena hanya mengandung 0,001
polutan. Salah satunya mengembalikan tekanan darah tinggi ke normal.
    Namun, bekerja sebagai pegawai asuransi membuat Max sering
disepelekan oleh calon kliennya. “Tapi justru kondisi itu menguatkan
mental saya,” ujar Max.
    Pekerjaan itu terpaksa ditinggalkannya karena ia mengalami sakit
akibat pembuluh darah di daerah anus melebar. Seorang teman datang
membawakan obat cair kombuja yang biasa dijadikan obat oleh orang
China.
    Jika didiamkan beberapa hari, cairan tersebut akan menghasilkan
semacam daging yang terus membesar dan mengambang di dalam wadah.
Setelah meminum cairan tersebut, ia pun sembuh.
    “Tapi saya tertarik dengan cairan yang menumbuhkan semacam daging
tersebut sehingga saya memperbanyak cairan tersebut dengan gula dan
air, lalu dituangkan dalam beberapa wadah. Ternyata benda semacam
daging tersebut cepat tumbuh di setiap wadah,” tutur Max yang segera
mencari literatur yang berhubungan dengan benda tersebut.

Laboratorium
    Ia menduga, daging tersebut adalah polimer. Untuk membuktikannya,
ia menyetrika selembar daging. Hasilnya, daging tersebut berubah
bentuk seperti selembar plastik. Namun jika dibakar, sifatnya seperti
kertas.
    Ia mulai membuat laboratorium di rumahnya yang sempit di sebuah
gang di kawasan Awiligar, Bandung Utara, untuk mengamati benda
tersebut. Dalam meneliti, ia dibantu oleh istrinya Ena Harianti (37).
Setahun lalu, ayah dua anak ini terpaksa memindahkan laboratoriumnya
ke dalam gudang yang sempit karena anak bungsunya mulai belajar
berjalan.
    “Bagaimanapun kalau laboratorium ada di rumah, bisa terpaksa
digusur demi kepentingan keluarga,” ujarnya.
    Beberapa zat yang berhubungan dengan polimer disimpan dalam
beberapa wadah. Ia juga meneruskan penelitiannya dengan mengetes
berbagai elemen dalam cairan tersebut. Hasilnya diketahui, cairan
tersebut adalah selulosa yang bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar
karena mengandung etanol yang tinggi, fiber, kertas untuk uang, dan
lainnya.
    Setelah itu, ia makin rajin meneliti. Beberapa hasil
penelitiannya dipasarkan melalui internet. Harganya cukup murah.
Salah satu produk yang dipasarkannya adalah zat pembersih limbah
untuk pabrik. Ia menjualnya Rp 10.000 per liter.
    Ia juga amat cekatan meneliti terutama ketika mendapat kabar
bangsa ini memiliki masalah. Ia mencoba mengulik bahan alam untuk
memecahkan masalah. Salah satunya meneliti tanaman untuk bahan
bakar, asam amino dari santan untuk mengatasi busung lapar, meneliti
getah pepaya untuk obat demam berdarah, dan lainnya.
    Dari gang sempit di depan rumahnya, orang bisa melihat beberapa
botol berisi minyak teronggok di setiap sudut halaman. Botol-botol
tersebut berisi bahan bakar yang dihasilkannya dari berbagai
tumbuhan.
    “Ini minyak dari kemiri, sangat baik untuk dijadikan solar,” kata
Max sambil memperlihatkan minyak kemiri, lalu menyeruput teh yang
menurutnya bisa mengikat virus.  (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

2 Tanggapan to “ALAM MEMBUAT MAX BANGUN LABORATORIUM DI RUMAH”

  1. Terlalu sedijit pionir di bangsa kita yach,nanyak potensimbanyak penemu tapi pengausa diam saja….

    • kadang kita tdk bs mengandalkan penguasa mengurus segalanya, apalagi klo kita terlanjur milih penguasa yang suka sibuk sendiri. pertemuan antara sesama rakyat lah yg seringkali memberi makna besar bagi kemajuan bangsa ini. semoga website ini bisa mempertemukan individu2 hebat itu.amiiinnnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: