Alun-Alun Bandung

Kompas, 25 januari 2007

 Alun-Alun Bandung
 DULU BERINGIN SEKARANG KURMA

    Rerumputan yang tumbuh di atas tanah yang ada di dalam kolom-
kolom pipa menyembul dari celah-celah blok-blok lantai halaman Masjid
Raya Bandung. Ia tumbuh bersama pohon-pohon kurma yang berjajar
mengurung taman yang panjangnya 130 meter dan lebar 108 meter itu.
Beberapa pot bunga yang dilengkapi tempat duduk juga dicat aneka
warna.
    Suasana seperti itu tentu saja jauh dari cerita tentang alun-alun
kota di Indonesia yang biasa dimuat di buku-buku sejarah. Ya, Alun-
alun Bandung yang berada di antara Jalan Asia Afrika dan Dalem Kaum
tersebut kini memang sudah berubah wajah. Penampilannya mirip mojang-
mojang Bandung yang senang mengikuti tren. Tak hanya rancang bangun
alun-alun yang berubah, fungsinya pun terus menyesuaikan diri dengan
perkembangan zaman.
    Alun-alun Bandung sudah berusia nyaris dua abad, sejak dibangun
tahun 1810.

Tradisi Mataram
    Alun-alun merupakan bagian tradisi Mataram, dengan pusat
pemerintahan biasa terdiri dari tiga komponen penting: istana atau
gedung pemerintahan, pasar, dan rumah patih. Karena pengaruh Islam,
di sana dilengkapi pula dengan masjid.
    Alun-alun sendiri merupakan bagian dari halaman istana atau
gedung pemerintahan yang ditempati pimpinan daerah seperti raja,
bupati, wedana, atau camat.
    Alun-alun sendiri berasal dari bahasa Jawa, alun yang artinya
ombak. Biasanya di alun-alun diadakan pula berbagai hiburan untuk
rakyat. Ketika penonton bersorak, mereka bergerak seperti ombak.
    Setelah Belanda masuk, di sekitar alun-alun juga dibangun kantor
pos, kandang kuda (dalam bahasa Sunda disebut banceuy), dan penjara.
    Dalam perkembangannya, menurut Prof Dr Nina Herlina Lubis, alun-
alun juga dapat berfungsi sebagai lapangan serbaguna untuk latihan
militer dan tempat menghadap pemimpin daerah.
    Rakyat yang ingin menyampaikan pendapat biasanya duduk di dekat
pohon beringin yang dipercayai sebagai lambang kekuasaan dan
pengayoman pada rakyat.
    Pada masa kolonial kegiatan seputar alun-alun berubah menjadi
tempat hiburan. Setelah Jepang menduduki Bandung, semua budaya di
zaman Belanda dan sebelumnya menjadi mati.

Kurma
    Kini Alun-alun Bandung tampil dengan desain dan fungsi baru.
Pohon palem-paleman dan kurma menjadi pilihan untuk memperkuat kesan
keislaman di alun-alun yang merupakan taman Masjid Agung.
    Menurut Gilang Nugraha, Site Manager Pembangunan Alun-alun
Bandung, ada 27 pohon kurma ditanam, selain pohon palem, sawit,
kenanga, cempaka, dan melati.
    Pembangunan alun-alun berlangsung tiga tahun. Selain itu, juga
dibangun areal parkir dua lantai yang mampu menampung 700 mobil.
    Gilang menyatakan bahwa selain bisa beristirahat, masyarakat bisa
juga menikmati pemandangan Bandung dari menara masjid yang tingginya
85 meter.
    Askari Wirantaatmadja, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung,
mengatakan, Alun-alun Bandung akan tetap menjadi ruang publik meski
kurang nyaman untuk berkegiatan seni budaya. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: