ANAK PELADANG BERMAIN UNTUK MENGUSIR SEPI

Kompas, 31 Januari 2007

ANAK PELADANG BERMAIN UNTUK MENGUSIR SEPI

    Seorang anak berdiri di atas bukit di Kampung Pasir Ipis, Desa
Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. Ia berdiri di luar
kebun labu siam yang buahnya siap dipanen.
    Sang anak diam. Suasana alam yang diselimuti awan mirip bunga kol
pun sunyi. Hanya terdengar suara…seng…seng…seng…, dari gasing
bandering. 
    Gasing bandering terbuat dari bambu tipis yang dilubangi dan
diikat tali kasur. Alat ini dimainkan dengan cara dipegang benangnya,
lalu diputar dengan sebelah tangan. Anak-anak Pasir Ipis menggunakan
bahan-bahan dari alam untuk bermain.
    Kebun yang luas adalah tempat mereka bermain. Biasanya saat pulang
sekolah, anak-anak bermain di kebun yang digarap oleh orangtuanya.
    Inilah sebagian kecil gambaran hidup masyarakat Sunda. Kehidupan
orang Sunda di masa lalu tercermin dari permainan tradisional
masyarakatnya. Orang Sunda dahulu dikenal sebagai peladang. Mereka
bekerja sendiri atau dengan keluarganya. Mereka membuka ladang di
gunung atau bukit. Para peladang jarang bertemu satu dengan yang lain
karena luasnya areal yang mereka buka.
    “Kehidupan sebagai peladang memengaruhi permainan tradisionalnya,”
kata M Zaini dari Hong, perkumpulan pencinta dan peneliti permainan
tradisional.
    Hong adalah kata yang diambil dari permainan tradisional Sunda.
Saat bermain, anak-anak Sunda yang saling bertemu biasanya adu cepat
berkata, “Hong”.
    Menurut Zaini, anak-anak para peladang biasanya pergi bersama
orangtuanya ke gunung untuk menggarap ladang.
    Karena hanya pergi dengan keluarga, biasanya mereka bermain
sendiri. Itu sebabnya banyak sekali permainan tradisional Sunda yang
dimainkan hanya oleh seorang pemain, antara lain katapel, wawayangan
atau wayang-wayangan yang terbuat dari batang singkong, gasing, serta
berbagai alat pukul dan tiup dari bambu atau kayu.
    “Yang paling banyak adalah permainan tradisional yang bisa
mengeluarkan bunyi untuk mengusir rasa sepi saat di ladang,” kata Zaini.
    Permainan tradisional yang dimainkan bersama biasanya dilakukan
pada sore hari. Sebab, anak-anak peladang bekerja bersama orangtuanya
dari pagi hingga menjelang sore. Dari sedikit permainan berkelompok
itu, antara lain terdapat ciciwitan, ucing-ucingan, oray-orayan, dan
masak-masakkan, atau serok.
    Banyak juga permainan tradisional yang dimainkan saat anak-anak
peladang bekerja, misalnya permainan pengusir burung atau hama padi.
Dengan berkembangnya pekerjaan masyarakat Sunda, jenis permainan pun
makin beragam, tetapi banyak juga yang ditinggalkan.
    Ubay (22), pria asal Maribaya, mengaku sudah lama tidak mendengar
suara seruling yang dimainkan para penggembala. “Dahulu waktu saya
masih kecil, saya masih sering mendengarnya, bahkan saya juga suka
melakukannya,” kata Ubay, yang senang main katapel dengan membidik
burung kecil di kebun. 
    “Jika bulunya bagus atau kicauannya merdu, mereka dibawa pulang
untuk dipelihara. Wah, kalau dahulu, permainan tradisionalnya sangat
dekat dengan alam,” tutur Ubay. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: