ANAK PUN HILANG SAAT MENGANTRE DAGING KURBAN

Kompas, 21 Des 2007
    Sejak pagi, Masjid Raya Bandung ramai didatangi kaum duafa. Mereka
bukan hanya penduduk sekitar masjid. Banyak juga yang datang dari
Cimahi dan Kabupaten Bandung. Mereka berharap mendapatkan 3 ons daging.
    Kamis (20/12) adalah Idul Adha. Saat itu umat Islam yang mampu
menyembelih hewan kurban, seperti kambing, domba, dan sapi, untuk
dibagikan kepada kaum papa.
    Masjid Raya Bandung merupakan salah satu tempat yang memiliki
tradisi  menyembelih dan membagikan hewan kurban pada hari Idul Adha.
    Imas (25) bersama beberapa tetangganya dari Cimahi mengaku sejak
pagi bertandang ke masjid-masjid di wilayah Cimahi dan Masjid Raya
untuk mendapatkan daging kurban. Ia tak lelah terus mengantre dari
masjid ke masjid.
    Sekitar pukul 13.00, di Masjid Raya Bandung sudah sekitar 2.000
orang mengantre untuk mendapatkan jatah daging kurban. Ketika pintu
masjid bagian atas dibuka, ribuan orang menyerbu. Karena
berdesak-desakan, seorang bayi terjatuh dari  gendongan  ibunya.  
Banyak yang sengaja membawa anak-anak, bahkan bayi, agar bisa
mendapatkan bingkisan daging kurban lebih banyak.
    Petugas yang berjumlah belasan orang kewalahan menghadapi desakan
massa. Akibatnya, massa berdesak-desakan, saling injak, saling sikut
hingga bercucuran keringat. Beberapa anak dan orangtua menangis.
Seorang bapak terpaksa dibopong karena pingsan.
    Anak-anak pun terlepas dari orangtuanya. Beberapa anak diungsikan
panitia ke luar masjid, menanti orangtuanya yang mencari si anak.  
“Anak saya perempuan, pakai baju putih. Tolong suruh keluar,” kata
seorang ibu.
    Begitu banyak anak yang terlepas dari genggaman orangtuanya
membuat seorang warga kesal. “Ibu ini gimana sih, lebih mementingkan
daging kurban daripada anak,” katanya.
   Dalam suasana seperti itu semakin jelas gambaran kemiskinan di
negeri ini. Desak-desakan demi sepotong daging di masjid saat Idul
Adha menjadi gambaran nyata.
    Seorang ibu  keluar dari masjid bersama dua anaknya, masing-masing
menjinjing sekantong daging. Meski berkeringat, mereka bersuka cita
mendapatkan daging. Padahal, kalau dihitung-hitung, nilai dari kaus,
celana jins, kalung emas, tas, dan sandal yang mereka kenaikan lebih
dari cukup untuk membeli 5 kilo daging kambing. 
    Andri (14), pengamen dari Pasirkoja, datang bersama tiga adiknya
sejak pukul 09.00 ke masjid tersebut. Lelaki lulusan sekolah dasar itu
menengadahkan tangan kanannya, meminta uang pada pengunjung masjid.
    “Sebungkus daging kurban tidak bisa melepaskan mereka dari
kemiskinan. Hari ini mereka gembira dapat daging, esok bagaimana. 
Memberantas kemiskinan tetap pekerjaan rumah bagi pemerintah yang
berjanji akan menyejahterakan rakyat,” kata Zul, panitia kurban Masjid
Raya Bandung. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: