ANDAIKAN BENTENG ALAM ITU MASIH ADA

Kompas, 20 Juli 2006

    Ketika alam tidak lagi punya benteng, ia tak kuasa melindungi
masyarakat di sekitarnya. Begitupun di pesisir pantai Jawa Barat.
    Dengan “tubuh”-nya yang sudah dirusak, pantai di Jawa Barat harus
merelakan jatuhnya korban jiwa hingga ratusan orang.
    Andaikan saja benteng-benteng alam itu masih ada di sana, situasi
mungkin akan berbeda. Tangis duka tidak akan “sekeras” saat ini.
    Dulu, di sepanjang pesisir pantai selatan Jawa Barat (Jabar)
telah terbentuk benteng-benteng alam. Benteng-benteng itu berupa 
bukit pasir atau sandune setinggi 20-30 meter.
    Di balik sandune terdapat rawa, lalu diikuti dengan barisan pohon-
pohon kelapa yang tumbuh berlipat-lipat ke belakang hingga mendekati
rumah dan persawahan milik penduduk.
    Namun, bukit-bukit pasir itu sudah lama menghilang karena ulah
manusia. Sandune, rawa, dan jejeran pohon kelapa itu dibabat habis 
untuk kepentingan tempat tinggal manusia.

Hutan hotel
    Kawasan benteng alam itu kini berubah menjadi hotel-hotel, rumah,
serta bangunan lainnya. Sementara di daerah pesisir pantai, yang
jarang ditinggali manusia, benteng-benteng pasir yang dibentuk oleh
alam itu masih ada. 
    Menurut T Bachtiar, ahli geografi, sekaligus Ketua Masyarakat
Geografi Indonesia, sandune, rawa, dan barisan pohon kelapa itu
merupakan benteng alam yang paling baik, dan tentu saja indah.

Koral tergerus
    Sandune terbentuk dalam jangka waktu yang sangat lama. Ia berasal
dari koral yang tergerus menjadi pasir dan terbawa air laut hingga
ke garis pantai. Pasir tersebut makin lama membentuk bukit.
    Jika terjadi tsunami, gelombang yang tiba-tiba meninggi akan
dihadang oleh sandune.
    Empasan air dari laut kemudian akan diredam energinya ketika
turun ke rawa di balik sandune. Lalu, sisa-sisa gelombang dengan
energi yang sudah dilemahkan itu akan diteruskan ke pantai melalui
barisan-barisan pohon kelapa rapat yang siap menghadang, dan 
memperkecil, serta memperlambat empasan air.

Sabuk hijau
    Keberadaan benteng alam ini menjadi sangat penting, terutama di
sepanjang pesisir pantai selatan Jabar yang berteluk-teluk.
    Teluk yang terbentuk oleh pergerakan lempengan tanah ini menjorok
ke dalam daratan. Saat tsunami datang, air yang terperangkap di teluk
akan memiliki energi berlipat ganda sehingga memperbesar fempasan
air ke darat. Energi yang besar akan terus diperkecil hingga ke darat
oleh benteng alam. 
    Sayang, pemerintah tidak memiliki kepedulian pada lingkungannya.
Akibatnya, sempadan pantai yang seharusnya dimiliki negara beralih
ke perorangan.
    Akibatnya, dengan leluasa pemilik tanah secara perorangan itu
bisa menghilangkan benteng-benteng alam tersebut.
    “Pemerintah harus mengoreksi kembali pembangunan di sekitar
pantai yang sudah jelas diketahui berpotensi gempa dan tsunami,” kata
Bachtiar.
    Salah satu pembangunan yang penting dilaksanakan di sepanjang
pesisir pantai Jabar adalah pembangunan sabuk hijau sebagai langkah
awal mengembalikan kembali benteng alam. Tanaman yang cocok di
pesisir selatan Jabar adalah ketapang.

Pemberdayaan
    Menurut Bachtiar, pemerintah juga bisa memberdayakan masyarakat
untuk ikut membangun sabuk hijau yang produktif di pesisir pantai
Jabar, antara lain dengan menanam pohon mangga, dan sawo yang cocok
di daerah panas.
    “Selain masyarakat bisa memanen buahnya, dalam waktu lama, air
laut akan menyangkutkan pasir yang terbawa olehnya di sekitar pohon-
pohon tersebut sehingga membentuk bukit pasir kembali,” ujar
Bachtiar.
    Tanaman ketapang, sawo, dan mangga bisa memiliki tinggi lima
meter sehingga ketika tsunami terjadi, air bisa dihadang. Sebagai
perbandingan, gelombang tsunami yang terjadi di pesisir Jabar dan
Jateng pada Senin (17/7) setinggi 2-4 meter.
    Pembangunan sabuk juga murah. “Pemerintah setempat bisa menggilir
penduduknya menanam tanaman di sekitar pantai. Berbeda jika Indonesia
membuat tsunami wall, atau benteng penghalang tsunami, seperti di
Jepang yang biayanya sangat tinggi. Proyek seperti itu mungkin akan
menambah kembali utang Indonesia,” tutur Bachtiar.

Lebih manusiawi
    Dibandingkan tsunami wall, sabuk hijau juga lebih manusiawi.
Masyarakat yang melintas tetap bisa menikmati keindahan laut selatan
Jabar, sekaligus keindahan sabuk hijaunya, tidak terkungkung oleh
tembok tinggi yang membentang sepanjang pantai.
    “Pembangunan sabuk hijau bisa memperindah kawasan pantai dan
membuka kembali akses masuk pantai yang seharusnya terbuka, tidak
ditutup oleh orang-orang yang diizinkan pemerintah memiliki tanah di
sempadan pantai,” kata Bachtiar.
    Ratusan orang sudah menjadi korban. Kini saatnya pemerintah dan
masyarakat memutuskan, mengembalikan benteng alam itu atau
menyerahkan diri pada kekuatan alam, serta membiarkan generasi
mendatang terus terancam bencana.
    Indonesia harus mulai bersahabat dengan kenyataan bahwa zona
subduksi sudah ditakdirkan hidup berdampingan mengelilingi pulau-
pulau di wilayah Nusantara ini .  (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: