ASEP ABBAS, MERINTIS NEGERI DONGENG DI TPA LEUWIGAJAH

Kompas, 28 okt 2005

ASEP ABBAS, MERINTIS NEGERI DONGENG DI TPA LEUWIGAJAH

                         Oleh: Yenti Aprianti

    Tiga tahun lalu kampungnya mengalami kekeringan akibat kemarau
selama enam bulan. Masyarakat bersusah payah menyambung-nyambungkan
pipa air dari gunung ke kampung. Air bersih yang mengalir hanya cukup
untuk minum. Sementara untuk mencuci dan mandi terpaksa harus diirit
sedemikian rupa.
   
    Padahal, membersihkan diri dan barang rumah tangga adalah
keharusan sebab kampung ini berada di muka tempat pembuangan akhir
(TPA) sampah Leuwigajah yang kotor, bau, dan mendatangkan penyakit.
    Kampung tempat Asep Abass (35) lahir dan dibesarkan adalah
Kampung Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan,
Kota Cimahi. Kondisinya sangat mengenaskan.
    Selain air tanah makin surut, udara pun tidak sejuk lagi karena
setiap kemarau asap mengepul menutupi kampung yang terkurung
bebukitan. Asap dan gas timbul dari tumpukan sampah.
    Di musim hujan, kampung diserbu lalat yang tidak jarang
mengerebuti pepohonan mengakibatkan pohon tidak tumbuh dengan
baik. “Tidak ada pohon yang bagus di kampung ini,” kata Asep. Sungai
pun jaraknya jauh, yaitu Sungai Citarum yang sudah dicemari limbah
industri.
    Asep yang senang jalan-jalan menikmati hutan dan sungai lalu
tenggelam dalam kenangan indahnya air sungai dan hutan.
    “Kalau Ciwidey, Subang, Lembang, Kuningan, dan tempat-tempat
lain memiliki gunung hijau dan air mengalir deras dan jernih, kenapa
kampung saya yang berada di muka bukit tidak bisa seperti itu?”
tanya Asep.
    Dari pertanyaannya pada diri sendiri itu akhirnya Asep
berinisiatif menghijaukan bukit Gajah Langu dan Puncak Salam di
kampungnya. Dua bukit itu hanya ditumbuhi alang-alang.
    “Dari saya kecil bukit itu memang hijau, tetapi hijau oleh alang-
alang, bukan pohon berkayu. Lahannya pun tidak produktif. Di beberapa
bagian sering longsor,” ujar suami dari Yulianti (32) yang kini
memiliki dua anak, Warlian Rigid Suderajat (3) dan Wanda Ayu Lianti
(1 bulan), ini.
    Tiap hari Minggu, Asep kecil sering ikut ayahnya mendaki bukit
seluas 50 hektar sambil membawa cangkul. Mereka sering iseng menanami
berbagai jenis pohon di sana.
    Beberapa petani memanfaatkan bukit untuk menanami singkong
sebagai makanan pokok. Sebagian lahan juga dimiliki secara pribadi
oleh beberapa orang.
    Awalnya sulit memberi pengertian kepada masyarakat untuk
mereboisasi bukit. Untung, Asep menemukan cara jitu. Ia sering
menceritakan kepada penduduk kampung betapa indahnya sebuah desa yang
ia datangi karena memiliki hutan yang hijau dan sungai yang bagus.
Air pun tidak pernah menjadi masalah di daerah itu.
    Beberapa warga mulai tergoda dengan cerita Asep. Hari-hari
berikutnya, Asep membawa satu-dua warga ke tempat-tempat indah itu.
Mereka makin terpesona dan sering memperbincangkan hutan dan sungai.

Dari uang tabungan
    Dengan menabung sedikit demi sedikit dari upahnya sebagai pekerja
serabutan bidang kelistrikan di pabrik-pabrik, tiga tahun lalu Asep
mulai membeli bibit pinus dari Jayagiri, Lembang. Dia hanya menebak
bahwa pinus cocok untuk tanah yang agak kering dan berbatu.
    Karena tabungannya hanya sedikit, alumnus Jurusan Teknik Tenaga
Listrik, Universitas Ahmad Yani, Kota Cimahi, ini hanya mampu membeli
3.000 bibit yang tingginya baru sekitar 10 sentimeter dengan harga Rp
300 per pohon. “Bibit pinus yang tingginya sudah setengah meter
harganya mahal, sekitar Rp 5.000 waktu itu,” kata Asep.
    Penanaman dilakukan bersama 20 petani di kampungnya. Tahun lalu,
mereka mendapat bantuan 3.000 bibit buah-buahan dari Pemerintah Kota
Cimahi.
    Sampai kini Asep dan para petani masih sering mengumpulkan biji
buah-buahan untuk dibibitkan. Selain itu, Asep dan petani muda dan
tua selalu meluangkan waktu pada hari Minggu memelihara pohon yang
mereka tanam.
    “Kalau tidak dipelihara, bisa-bisa pohon itu kalah dengan alang-
alang yang tumbuh liar. Lagi pula, sambil mendaki bukit, petani bisa
menyiangi alang-alang untuk dibawa pulang sebagai pakan kambing dan
sapi mereka. Jadi, kegiatan kamisangat sinergis,” ujar Asep.
    Asep mengatakan, pemilik lahan di bukit itu sudah memberi izin
lahannya dihijaukan. Sayangnya, sampai kini belum sepuluh persen
luasan bukit yang bisa mereka tanami.
    “Andaikan pemerintah memberi lagi bibit, kami siap menanam dan
memeliharanya,” ujar Asep yang berharap pemerintah mau meneliti
pohon apa saja yang cocok ditanam di sana agar apa yang mereka
lakukanefektif.
    Dari hasil kerjanya, Asep dan warga kampung memang belum
merasakan efek nyata. “Tetapi, kami yakin lima atau sepuluh tahun
lagi lingkungan Kampung Cireundeu akan lebih baik seperti yang kami
harapkan. Kalau bisa menjadi aset bagi Kota Cimahi,” ujar Asep yang
terus memimpikan tanah yang subur menghijau dengan air bergemericik
seperti dalam dongeng akan terwujud di kampungnya.

Foto: 1
Kompas/Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: