ASIS DJADJADININGRAT, MANUSIA UNTUK INDONESIA

Kompas 20 Agustus 2006

ASIS DJADJADININGRAT, MANUSIA UNTUK INDONESIA
                         Oleh Yenti Aprianti

    .Bangunlah jiwanya. Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya.

    Prof Dr KPH Asis H Djadjadiningrat menyanyikan bait lagu
tersebut sambil duduk di kursi kayu di lobi samping Gedung Sasana
Budaya Ganesha (Sabuga) sehari sebelum Hari Kemerdekaan Ke-61
Indonesia, Rabu (16/8). Ia masih menggunakan toga lengkap karena baru
saja mengikuti acara “Peresmian Penerimaan Mahasiswa Baru Institut
Teknologi Bandung Tahun 2006”.
   
    Sejak pagi hari itu setidaknya sudah dua kali ia menyanyikan lagu
kebangsaan Indonesia, yaitu saat pembukaan acara penerimaan mahasiswa
dan saat berbincang di lobi Sabuga. Tetapi, pada kesempatan kedua, ia
melantunkan lagu itu untuk mengingatkan amanat besar dari karya WR
Supratman untuk bangsa ini.
    “Kita harus terus mengingatkan, yang harus dibangun adalah jiwa
orang Indonesia,” kata Ketua Majelis Guru Besar ITB ini.
    Dia mengatakan, Presiden Soeharto pernah sukses membangun
Indonesia secara fisik, tetapi lupa pada jiwa bangsanya. Inilah
saatnya para pemimpin kembali merengkuh jiwa bangsa ini.
    Itu pula sebabnya Asis bangga pada apa yang dilakukan masyarakat
Bantul seusai bencana gempa, “Jangan kasihani kami, tetapi bantulah
kami untuk membangun”.
    Jiwa seperti itulah yang bisa membuat Indonesia mampu melangkah
dalam siklus, berjalan melingkar hingga kembali pada kehidupan
terbaiknya setelah melalui berbagai hal yang tak selalu
menyenangkan. “Hal itu yang diajarkan alam kepada kita bahwa setiap
hal memiliki siklusnya,” papar pakar lingkungan dengan bidang kajian
waste management ini.

Siklus
    Pemahaman tentang siklus hidup didapatnya setelah banyak
menghayati keberadaan limbah atau sampah. “Limbah bukan sesuatu yang
berbahaya, malah bisa dimanfaatkan kembali.”
   
    Kepala Laboratorium Kualitas Udara ITB ini punya kelakar tentang
sampah. “Sampah itu akronim dari Suatu Alat Meningkatkan Pendapatan
Anda Harian,” ucapnya sambil tertawa. “Pemulung bisa hidup dari
sampah. Ibu rumahtangga biasa memisahkan koran dan botol, lalu
menjualnya. Banyak peluang bisa diambil dari sampah.”
    Cara berpikir linier (lurus) mengajarkan orang berpikir dengan
runutan bahan baku-produk-limbah. Tetapi, berpikir melingkar atau
tertutup membuat orang kreatif, menjadikan lagi limbah sebagai bahan
baku untuk dijadikan produk kembali.
    Ia mencontohkan, industri tapioka bisa menghasilkan limbah asam
nitrat yang bermanfaat. Hotel bisa menggunakan air limbah untuk
menggelontor air WC atau menyiram tanaman. Teknologi untuk mewujudkan
pun terus berkembang dan makin mudah ditemukan.
    Siklus merupakan cara hidup bijaksana antara manusia dan
lingkungan, dua hal tak terpisahkan. Ajaran agama mana pun
mengingatkan hal tersebut. Di Bali dikenal tri hita karana atau tiga
penyebab kesejahteraan yang dibangun karena hubungan baik antara
Tuhan, masyarakat, dan lingkungan.
    Kerusakan lingkungan secara global terjadi karena manusia
berlebihan menggunakan kebebasannya. Awalnya manusia hanya
menggunakan alam untuk memenuhi kebutuhan bertahan hidup, lalu
kebutuhan itu berkembang, dan manusia lupa tanggung jawabnya.
Padahal, sumber daya alam tidak bertambah.
    Dulu, hidup linier tidak menimbulkan masalah karena jumlah
manusia masih sedikit. Alam bisa memperbaiki dirinya dengan mudah.
Tetapi, dengan terus bertambahnya manusia, alam membutuhkan bantuan
memperbaiki diri.
    Satu orang butuh air bersih minimum 100 liter per hari. Dengan
jumlah manusia di bumi saat ini yang jumlahnya enam miliar,
setidaknya air yang dibutuhkan sekitar 600 miliar liter. Air yang
sudah digunakan dibuang lagi, 70 persen tidak dikelola dengan baik.
    “Anda bisa bayangkan apa yang terjadi pada Bumi?” tanya Asis
sambil melanjutkan, jumlah air tetap tetapi jumlah air yang diambil
dan menjadi limbah terus bertambah.

Etika
    Itulah sebabnya, ujar Asis, manusia perlu punya etika agar bisa
hidup dalam lingkungan berkualitas baik. “Masalah lingkungan itu
masalah hati, masalah kemauan,” ujar Asis.
    Etika harus diajarkan sejak pendidikan dasar, dari keluarga, saat
anak masih kecil. Etika hidup yang baik antara manusia dan lingkungan
terlihat pada interaksi orang-orang pedalaman, seperti Dayak, Baduy,
dan Asmat. “Mereka tidak merusak karena sangat akrab dengan alam,”
ungkap Asis.
    Masalahnya, bagaimana mendidik anak dalam keluarga agar bisa
memiliki budi pekerti memadai untuk hidup berdampingan dengan alam
jika orangtua di rumah masih kurang wawasannya mengenai etika hidup?
    “Indonesia kan pernah sukses menjalankan program Keluarga
Berencana dengan memberdayakan para ibu rumah tangga sebagai
penyampai informasi melalui Program Pemberdayaan dan Kesejahteraan
Keluarga (PKK). Cara seperti ini masih bisa dilakukan untuk
mengajarkan etika pada lingkungan,” tutur Asis.
    Pendidikan budi pekerti menjadi penting karena, menurut dia, saat
ini bangsa Indonesia baru bisa memanfaatkan lingkungan tetapi tidak
bisa memeliharanya.
    Selain itu, teladan dan keinginan politik juga menjadi penting.
Masih ada beberapa pemimpin masyarakat yang belum memiliki wawasan
memadai tentang lingkungan. Itu sebabnya dalam perbincangan informal
maupun formal bersama para anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau
petinggi dari lembaga lain, Asis selalu berusaha mengangkat tentang
persoalan lingkungan secara lembut tanpa menggurui.
    “Ternyata mereka senang,” ungkapnya. Asis menilai, banyak
pejabat yang pengetahuan lingkungannya rendah. “Lihat saja pemilihan
umum lalu, paling hanya satu atau dua partai yang fokus pada
lingkungan,” lanjut Asis pula.
    Dalam era otonomi daerah, pemerintah daerah cenderung
memanfaatkan alam secara maksimal demi pendapatan asli daerah (PAD)
sebanyak mungkin. Namun, sebelum tragedi terjadi, sebaiknya
pemerintah mengubah fokus pada memaksimalkan pengelolaan manusia agar
tidak melulu bergantung pada sumber daya alam.
    Asis menyatakan, pergantian generasi terjadi setiap 25 tahun
sekali, dan ia yakin pada generasi keempat setelah Indonesia merdeka,
lingkungan Indonesia akan baik lagi.
    “Saya optimis lingkungan kita akan baik kembali pada Hari
Kemerdekaan Ke-100 Republik Indonesia,” ujar anak dari ahli
perpajakan, Prof Sindia Djadjadiningrat, ini.

Tempat mandi
    Keluarga Djadjadiningrat berasal dari Banten, tetapi Asis lahir
di Purwakarta dan besar di daerah Menteng, Jakarta. Pada saat bocah,
ia sering mandi di sungai di belakang Hotel Indonesia.
    “Waktu itu airnya masih bersih sekali,” kenang Asis. Di sekitar
Jalan Menteng hingga Kebayoran, tempat kerabatnya tinggal, masih
seperti hutan. Ada hutan karet dan duku. Asis sering melintasi daerah
tersebut sambil mengayuh sepeda.
    Kini dia tengah mengupayakan agar wajah Jakarta tempo dulu
kembali lagi. Ia menyampaikan ide membuat tempat rekreasi air bersih,
sehingga orang bisa berenang kembali di Waduk Melati, tempat mandinya
masa kecil.
    Asis meraih ilmu bidang lingkungan di ITB. Tahun 1963, selepas
dari Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Jakarta. Ia memutuskan mengambil
Jurusan Teknik Mesin ITB, namun tidak diterima. Ia malah diterima di
fakultas teknik sipil yang punya jurusan teknik penyehatan.
    Pada masa kuliah, ia bergabung sebagai anggota resimen mahasiswa
karena sangat menyukai kedisiplinan yang dia contoh dari ayah dan
ibunya, (alm) Etty Sukanti. Masa-masa genting akibat peristiwa
Gerakan 30 September membuat mahasiswa sering berdiskusi bersama
masyarakat untuk ikut memecahkan masalah bangsa. Sejak itulah ia
menyukai organisasi.
    Ia lulus tahun 1970 dari ITB dan ditawari menjadi dosen oleh
seniornya di kampus. Saat itu Asis terkenang obrolan dengan
ayahnya. “Hati-hati kalau mau jadi dosen, kamu tidak akan mungkin
kaya. Dosen hanya bisa hidup berkecukupan, tetapi cukup menyekolahkan
anak. Kalau mau kaya, jadilah pedagang.”
    “Buat saya, melihat mahasiswa bisa memanfaatkan ilmunya saja
saya sudah bangga,” kata Aziz.
    Sambil kembali berkelakar, pria yang rajin lari pagi tiga kali
seminggu ini mengatakan, sejak mempelajari limbah, ia baru menyadari
namanya sudah mengisyaratkan masa depannya.
    Biasanya orang dinamai Azis yang dalam bahasa Arab berarti
menang, tetapi orangtuanya malah menamai Asis. “Kalau orang Arab
membaca dari kanan ke kiri, maka nama saya dibaca Sisa atau limbah,”
ujarnya.
    Meski dia menjalankan banyak tugas, tetapi kakek dari delapan
cucu ini tampak santai. Di rumahnya, ia masih bisa meluangkan waktu
bermain bersama dengan dua cucu yang tinggal bersamanya.
    “Tadinya anak ketiga saya tinggal di Sumbersari, Bandung.
Tetapi, karena harus bekerja, dua anaknya pada pagi hari selalu
dititipkan kepada kami dan dijemput pada sore hari. Saya bilang,
lebih baik rumah itu dikontrakkan saja dan mereka tinggal lagi
bersama saya. Padahal sih, biar saya dan istri bisa main terus dengan
cucu,” ujar Asis.
    Jika tengah bermain dengan cucu-cucunya, Asis sering bernyanyi.
Beberapa lagu sengaja ia ubah liriknya, meskipun cucunya sering
protes karena lirik lagu yang dia nyanyikan tidak sama dengan yang
diajarkan guru disekolah. Misalnya, lagu Kereta Api, ia mengubahnya
dengan kalimat, “.bolehlah naik dengan membayar.”
    Ia yakin ajaran yang diberikan dengan riang jika terus
didengungkan kepada anak-anak akan membantu kebangkitan dunia
perkeretaapian yang selalu merugi karena banyak penumpang yang tidak
membayar.
    Asis pun menyanyikan satu lagu lagi tentang manusia
Indonesia, “Indonesia Tanah Air beta. Tempat bekerja dan berkarya,
sampai akhir menutup mata.”

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: