ASYIKNYA BERWISATA DI SEKOLAH SENDIRI

Kompas, 23 juli 2005

ASYIKNYA BERWISATA DI SEKOLAH SENDIRI
                      Oleh: Yenti Aprianti

    Apa enaknya berwisata di sekolah? Sekolah yang satu ini tidak
sekadar menjadi tempat belajar-mengajar. Suasana santai jauh dari
keseriusan dapat dinikmati di kompleks mirip kebun raya ini.
    Ingin jogging sambil mengamati rusa, leluasa. Ingin juga
menikmati makanan sehat tanpa bahan pengawet, ada dan siap tersaji.
    Ini model liburan baru yang bisa didapatkan di Pusat Pengembangan
Penataran Guru (PPPG) Pertanian, Cianjur. Jangan terkecoh dengan nama
tempatnya. Masuklah ke dalamnya. Ada beberapa rumah inap di dalam
kompleks ini. Kapasitas tiap rumah inap bervariasi, dari mulai dua
hingga sepuluh orang.
    Di tiap rumah inap juga terdapat taman yang tertata serta pohon
buah-buahan. Konon, jikamusim lengkeng berbuah, pengunjung bisa
memetik buah lengkeng yang banyak tumbuh di kompleks ini.
    Tidak hanya pohon lengkeng, bagi keluarga yang ingin
memperkenalkan pepohonan pada anak-cucu, mereka bisa berjalan- jalan
dalam kompleks dan menunjukkan pohon-pohon tersebut dengan mudah
sebab di beberapa pohon sudah diberi pelang nama pohon berikut nama
latinnya. Pohon jamblang, jati, palem, dan hampir seluruh buah-buahan
tersedia di sana.
    Juga akan tersedia puluhan resort untuk menginap. Sayangnya,
resort ini baru bisa digunakan pengunjung pada Oktober 2005. Bagi
rombongan besar yang ingin tinggal dengan biaya lebih murah pun bisa
menempati asrama. Ongkos menginap dan makan di tempat ini bervariasi,
dari Rp 90.000 hingga Rp 200.000 per malam per orang.
    Kehidupan di alam pedesaan maupun di hutan bisa ditemui di tempat
ini. Di beberapa areal terdapat hutan palem. Salah satu di antara
hutan palem ini digunakan sebagai kafe. Pengunjung bisa menikmati
hidangan makanan sambil mengobrol santai di bawah keteduhan pohon
palem. Kafe ini berada tidak jauh dari rumah inap dan resort.
    Tidak hanya palem, ada juga kebun durian, kebun rambutan yang di
dalamnya terdapat rusa- rusa, serta kebun anggrek.
    Suasana pedesaan amat kental terasa. Tidak jauh dari resort
terdapat desa yang dihuni ratusan penduduk. Sebagian besar rumah
berbentuk panggung. Karena tidak banyak pekerjaan yang dilakukan,
dari pagi hingga sore, penduduk duduk-duduk mengobrol di teras rumah
sambil menidurkan bayi.
    Ada juga beberapa di antara mereka yang bekerja sebagai pengrajin
anyaman bambu. Penduduk juga sering membuat berbagai kerupuk berbahan
beras dan singkong.

Hutan rakyat
    Tawa anak-anak desa sering terdengar dari persawahan atau dari
hutan saat berburu burung di sekitar kompleks. Jika burung sudah
tertangkap, mereka pergi mencari batang kawung sebagai bahan pembuat
sangkar burung. Tak heran walau usia baru 10 tahun, di pinggang para
bocah terselip sebilah golok mungil.
    Para remaja akan tampak pada sore hari, berjalan menyusuri jalan
aspal yang diapit pohon-pohon kelapa. Mereka akan pulang sampai
langit telah gelap dan jangkrik saling bersahutan.
    Beberapa orang dewasa sering terlihat di jalan-jalan kompleks
PPPG Pertanian sambil menggendong ranting pepohonan untuk digunakan
sebagai kayu bakar. Ada juga perempuan tua yang merajang pakis dan
belukar putri malu untuk dijadikan kompos.
    Dulu, kawasan ini merupakan hutan karet milik rakyat. Banyak di
antara penduduk di kampung tersebut semula bekerja sebagai penyadap
karet.
    Untuk memberdayakan penduduk desa, Giri Suryatmana, Kepala PPPG
Pertanian, merencanakan akan menjadikan kampung tersebut sebagai
kampung wisata. “Tapi kami harus mempersiapkan banyak hal dan harus
pelan-pelan memberi pengertian pada penduduk,” kata Giri.
    Soal makanan, saat lapar tiba, dari pagi hingga menjelang sore,
ada pondok makanan sehat yang bisa dikunjungi. Di sana tersedia
bakso, yogurt, roti, keripik jamur, dan berbagai penganan lain yang
seluruhnya dibuat tanpa bahan pengawet.
    Pada waktu malam, karena tidak ada toko yang bisa dikunjungi
untuk mengganjal perut, siap sedia makanan camilan sejak siang wajib
dilakukan.
    Berwisata ke tempat ini juga lebih enak dilakukan dengan
pemesanan tempat terlebih dahulu. Sebab di hari kerja, biasanya
pengunjung sepi sehingga tidak banyak pegawai yang siap sedia untuk
melayani.
    Kalau bosan berjalan-jalan, namanya juga wisata di sekolah,
pengunjung bisa bersantai sambil belajar. Belajar tentang menanam
anggrek, mengolah sampah menjadi kompos, dan lainnya.
    Bahkan membuat roti, keripik kentang, sampai penganan kesukaan
orang Jepang, nato dan misho, bisa dilakukan di tempat ini.
    Asyik kan?

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: