ASYIKNYA JADI WARGA KAMPUNG LEDENG

Selasa, 22 agustus 2008
    Menjelang maghrib, percakapan di warung nasi-belakang terminal
angkutan umum Ledeng-melulu soal acara budaya untuk memeriahkan Hari
Kemerdekaan RI yang digelar usai isya di Pusat Kebudayaan Ledeng
atau CCL, yang berada di halaman rumah seorang warga. Di sanalah
panggung CCL didirikan.
    Jika sedang tidak ada pertunjukan, halaman tersebut hanya lahan
dengan kandang ayam. Namun, jika pergelaran akan dimulai, kandang
ayam hilang dari pandangan. Malam itu kompleks kandang ayam ditutup
kain putih ditempeli kain merah, tapi bukan bendera Merah Putih.
Warna-warna merah yang tertempel pada layar putih itu menyebutkan,
Indonesia sudah berani, namun ketulusannya belum sebanding
keberaniannya.
    Akan tetapi, Indonesia di Kampung Ledeng tampak sempurna. Anak-
anak kompak, berbagi tempat duduk lesehan yang ditutup kain karung.
Di antara anak-anak kampung, bergabung orang-orang dewasa. Mereka
siap menikmati 12 sajian budaya yang disajikan warga kampung, baik
para ibu, para bapak, maupun anak-anak.
    “Mungkin pergelarannya bisa sampai pukul 12 malam. Harusnya ibu-
ibu bawa kasur,” kata Iman Soleh, pembawa acara sekaligus pengelola
CCL. 
    Acara dimulai dengan musikalisasi puisi dari anak-anak. Mereka
memperlihatkan rasa bangga tampil di depan warga kampungnya. Yang
unik, beberapa hari sebelum acara digelar, warga mengumpulkan suara
memilih warga teladan di kampungnya.
    Ada Tahyudin, yang setiap hari “menghadiahi” warga sebuah gang
yang bersih sebab seusai shalat subuh ia menyapu gang. Tahyudin
rupanya harus gugur sebagai pemenang CCL Award. Sebab, di kampung
tersebut ternyata banyak warga teladan.
    Pemenang penghargaan adalah Mak Umah. Bertahun-tahun nenek ini
rajin mengetuk pintu rumah warga, memberitahu sambil mengajak warga
menjenguk orang-orang sakit di kampungnya.
    Pemenang award lainnya adalah Pak Guru atau Komar, Abah Apit
pemain longser, Aki Encang yang selalu membantu mengurus jenazah, dan
Aki Emod yang rajin mengurus masjid.
    Kehidupan budaya telah menciptakan warga yang berbudaya. Setiap
anak berhenti membuang sampah sembarangan. Mereka spontan mengucapkan
permisi jika melintas di depan orang tua.
    Bukan malam itu saja pergelaran seni diadakan. Hampir setiap
bulan ada saja pergelaran budaya digelar di Kampung Ledeng.  (Yenti
Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: