AWAN GEMPA SUDAH 384 TAHUN MENJADI MISTERI

Kompas, 24 Juli 2006

 Sinar Putih
              AWAN GEMPA SUDAH 384 TAHUN MENJADI MISTERI

    Pada Rabu (12/7) sekitar dua minggu lalu dikabarkan masyarakat di
Yogyakarta melihat warna putih memanjang di langit Kota Gudeg itu.
Lima hari kemudian Pangandaran diguncang gempa dan tsunami. Ratusan
orang mati.
    Hingga kini belum ada yang memastikan bahwa sinar putih itu
adalah awan khusus yang bisa menjadi penanda akan terjadinya gempa.
Namun, fenomena hadirnya awan putih khusus sebelum gempa terjadi
sudah terekam beberapa kali oleh satelit sebelum suatu gempa terjadi.
    Peneliti geomagnetik Dr Sarmoko Saroso dari Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan) memperlihatkan gambar-gambar awan
khusus yang muncul sebelum beberapa gempa terjadi. Gambar tersebut
terekam oleh IndoEx Satellite.
    Awan khusus ini dinamakan awan gempa. Awan gempa berbeda dengan
awan yang terjadi karena proses kondensasi uap air di atmosfer. Awan
dari proses kondensasi di atmosfer membentuk jenis-jenis awan sirus,
stratus, dan cumulus.
    Menurut Sarmoko, awan gempa terjadi karena ada gesekan di sumber
gempa atau episentrum. Gesekan tersebut lama-lama membuat retakan di
dalam bumi dan menimbulkan panas serta mendidihkan air tanah yang
kemudian menguap. Karena temperatur dan tekanan yang sangat tinggi,
uap air keluar melalui celah-celah retakan, ke permukaan bumi. Pada
ketinggian tertentu uap tersebut bertemu dengan udara dingin dan
terbentuklah awan.
    “Spesifikasi awan gempa adalah muncul secara tiba-tiba. Tadinya
tidak ada, tiba-tiba muncul terus,” kata Sarmoko. Awan seolah-olah
keluar dari suatu titik tertentu yang posisinya tetap.
    Dari titik munculnya, awan itu membesar memanjang ke samping,
memanjang ke atas seperti asap roket, bergelombang, berlipat-lipat
seperti lipatan lampion, atau tampak seperti pijar cahaya.
    Sebenarnya sudah lama dipikirkan tentang hubungan antara awan
gempa dan gempa.
    China bahkan sudah membicarakan tanda alam tersebut tahun
1622. “Tahun itu, tepatnya 25 Oktober, terjadi gempa besar 7 skala
Richter di Guyuan, Provinsi Ningxia, China barat. Masyarakat China
barat saat itu melihat ada awan aneh sebelum gempa,” ujar Sarmoko.
    Tahun 1978, sehari sebelum gempa Kanto di Jepang, Wali Kota Kyoto
Kagida melihat awan aneh. Ia mengaitkan gempa dengan awan tersebut.
Fenomena itu lalu disebut Kagida Cloud atau Awan Kagida.
    Kagida memperkirakan sumber gempa di titik paling tengah awan
gempa. Namun, tahun 1985 pendapatnya dibantah. Sumber gempa diduga di
titik terus terjadinya pembentukan awan.
    Satelit IndoEx memperlihatkan rekaman-rekaman fenomena gempa
diiringi awan. Pada 20 Desember 2003, langit sekitar Bam, Iran,
muncul awan memanjang. Empat hari kemudian terjadi gempa 6,8 SR.
    Pada 17 Januari 1994 muncul awan seperti asap roket di sekitar
Northride, Amerika Serikat. Sehari kemudian terjadi gempa. Pada 13
Februari 1994 muncul awan berbentuk gelombang di Northride dan 20
Maret 1994 ada gempa besar.
    Pada 31 Agustus 1994 ada awan bentuk bulu ayam di Northern
California, Amerika Serikat. Pada 1 September 1994 terjadi gempa di
daerah itu. Awan seperti sinar terjadi di kawasan Joshua Tree,
Amerika Serikat, 22 Juli 1996, dan 23 hari kemudian terjadi gempa.
    “Awan-awan itu selalu muncul sebelum gempa di atas 5,5 SR,” kata
Sarmoko. Awan gempa biasanya hanya sehari lalu menghilang sampai ada
gempa. Jarak antara munculnya awan dan gempa adalah 1-100 hari.
Proses hilangnya awan kini diteliti. “Saya menunggu dokumentasi
rekaman satelit awan memanjang di Yogyakarta sebelum gempa
Pangandaran,” ujar Sarmoko.
    Dia mengatakan, saat ini satelit di Indonesia dipakai untuk
pemetaan sehingga umumnya resolusinya rendah. “Saya tak tahu apakah
rekaman gambar awan di Indonesia bisa cukup baik?” ujarnya. Dia akan
meneliti anomali medan magnet yang terekam magnetometer.
    Pembentukan awan gempa mirip dengan anomali perubahan medan
magnet. Karena, saat aktivitas dalam kerak bumi meningkat akibat
kenaikan temperatur, maka muatan listrik terpolarisasi sehingga
meningkatkan konduktivitas listrik serta medan magnet yang
mengakibatkan perubahan medan magnet bumi. Perubahan ini terekam
dalam magnetometer.
    “Sebelum gempa Aceh dan Nias, berturut-turut magnometer Lapan di
Kototabang, Sumatera Barat, mencatat anomali medan magnet bumi,”
katanya. Ketika itu ada grafik lonjakan pada rekaman magnetometer
sebelum gempa diikuti tsunami terjadi.(Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Satu Tanggapan to “AWAN GEMPA SUDAH 384 TAHUN MENJADI MISTERI”

  1. makasih tante udah di posting ,🙂
    aku suka yang beginian hehe ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: