AWAS, GANGGUAN JIWA BISA MENULAR!

Kompas, 8 Juni 2007

AWAS, GANGGUAN JIWA BISA MENULAR!

     Hati-hati, gangguan jiwa bisa menular, lho! Kalau tak menyadari
gejalanya, orang di sekitar penderita kemungkinan tak bisa
mengantisipasi dan akhirnya menderita gangguan yang sama. 
    Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bandung Machmud mengatakan,
gangguan jiwa yang menular itu adalah ciri paranoid, paranoid, dan
schizoprenia paranoid. Biasanya penderita tak menyadari gangguan jiwa
yang dialaminya. Penderita ciri paranoid dan paranoid banyak beredar
di sekitar kita karena biasanya mereka tak perlu dirawat inap di RSJ.
    Orang yang menderita ciri paranoid adalah yang sering curiga,
dengki, dan suka menjatuhkan orang lain. Mereka yang seperti ini harus
diwaspadai. Orang di sekitarnya biasanya tak menyadari gejala tersebut
sebagai gangguan jiwa. 
    “Orang tersebut berbahaya karena bisa menularkan gangguan jiwanya.
Jika penderita berada dalam satu kelompok, ia bisa memengaruhi
anggota kelompok lainnya,” ujar Machmud.
    Machmud mencontohkan, jika ada sebuah kelompok sedang berdiskusi
untuk membersihkan desa, orang berkepribadian ciri paranoid akan
berpikir negatif, seperti menilai pertemuan tersebut mengada-ada dan
hanya upaya mengangkat nama seseorang.
    Sementara itu, orang berkepribadian paranoid biasanya memiliki
tingkat yang lebih tinggi dari ciri paranoid. Ia sering menggosip dan
berusaha menggagalkan gagasan orang lain. “Orang di sekitarnya yang
tidak kuat bisa terpengaruh,” kata Machmud.
    Machmud mengatakan, gangguan jiwa semacam itu bisa diderita oleh
orang pintar dan berintelektual tinggi. Itu sebabnya banyak orang
sering kali tak mencurigainya.
    Jika menemukan orang berciri seperti dituturkan di atas, orang
yang berada di lingkungannya harus bijaksana. Menurut Machmud,
sebaiknya anggap mereka sebagai teman baik. Setiap kali ia mulai
menggosip, mencurigai sesuatu secara berlebihan, tak mampu berpikir
positif, apalagi berusaha menjatuhkan seseorang sebaiknya segera ganti
topik pembicaraan.
    “Dengan seringnya kecurigaan dan pikiran negatif mereka diabaikan,
lambat laun kesadarannya akan mucul. Salah satunya, munculnya rasa
malu atas tindakan mencurigai atau menggosip yang ia lakukan. Rasa
malu tersebut merupakan awal dari kesembuhan seseorang,” ujar Machmud.
    Jika usaha mengalihkan topik tak juga mengubah kepribadiannya,
sebaiknya bicarakan langsung kepada penderita dengan terus terang,
namun dengan bahasa yang bijaksana.
    Machmud mengatakan, orang berkepribadian ciri paranoid dan
paranoid tak bisa dibiarkan karena mereka berpotensi menimbulkan
paranoid massal jika di lingkungannya tak ada orang yang kuat
mengatasi sikap dan pemikiran penderita.

Gangguan fisik
    Orang berkepribadian ciri paranoid, paranoid, dan shizoprenia
paranoid bisa ditemukan dalam lingkungan, termasuk lingkungan
keluarga. Dalam kasus keluarga yang mengalami tekanan ekonomi, hal
tersebut akan memperparah.
    Misalnya, seorang istri yang paranoid dengan suami berpenghasilan
kecil cenderung akan mencurigai suaminya tidak bekerja keras sehingga
tak berpenghasilan memadai. Jika tak mampu diatasi, kecurigaan
tersebut bisa bertambah parah dan memicu pertengkaran antara suami dan
istri. Pertengkaran pada pasangan akan menularkan stres kepada anggota
keluarga lain, termasuk anak. Anak perempuan biasanya menjadi lebih
sensitif dan menarik diri dari pergaulan. “Biasanya anak perempuan
yang orangtuanya sering bertengkar takut keluar rumah,” ujar Machmud. 
    Selain itu, beban keluarga akan bertambah parah jika gangguan jiwa
ini tidak diatasi sesegera mungkin. Sebab, gangguan jiwa mampu
mengganggu kondisi fisik seseorang.
    Kecemasan yang biasa diderita penderita gangguan jiwa akan
menyebabkan nafsu makan berkurang, sementara asam lambung terus
diproduksi. Akibatnya, penderita mengalami sakit mag.
    Kecemasan juga mengganggu sistem hormonal dan mengakibatkan
tekanan darah tinggi serta jantung berdebar. Selain itu, gangguan jiwa
bisa pula menyebabkan stroke.
    Untuk menghindari gangguan jiwa, Machmud mengatakan, cara efektif
adalah tidak terlalu memikirkan kepentingan diri sendiri, namun
mementingkan kepentingan orang lain. Hal tersebut mampu menangkal
gangguan jiwa di sekitar kita. Susah namun bisa dicoba, kan?
(Yenti Aprianti)

Foto : 1
Kompas/Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: