BANYAK KUJANG BERSEJARAH DIJUAL KE LUAR NEGERI

Kompas, 10 Juni 2008

Bandung, Kompas
    Kujang, senjata khas Jawa Barat yang bernilai sejarah, banyak
dijual ke luar negeri. Padahal, penelitian tentang kujang pun masih
minim.
    “Bagaimana kita bisa mengenal jati diri kita kalau artefak dijual
ke orang asing? Jangan-jangan peneliti Indonesia harus pergi ke luar
negeri,” kata Gungun Gurnadi, kolektor kujang yang tergabung dalam
Paguyuban Pencinta Pelestari Kujang pada Pameran Kujang di Museum Sri
Baduga, Kota Bandung, Senin (9/6).
    Gungun mengatakan, beberapa tahun lalu penjualan kujang ke luar
negeri sangat gencar. Dalam sebulan, ribuan kujang dijual ke Korea,
Jepang, Brunei, Malaysia, negara di Timur Tengah dan Eropa.
  
Dorong penelitian
    Banyak masyarakat Sunda yang tak lagi mengenal kujang. Makin
sedikit pula kujang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun
kujang masih diproduksi, fungsinya bukan lagi sebagai alat bertani,
melainkan sebagai senjata dalam pencak silat maupun senjata simbolik,
semisal sebagai azimat seperti pada masa lalu. Sebagian besar orang
memilikinya sebagai koleksi.
    Menurut Gungun, untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, Paguyuban
Pencinta dan Pelestari Kujang merencanakan menyusun buku tentang
kujang tahun ini. Gungun berharap pemerintah memiliki lebih banyak
koleksi artefak kujang dan menggiatkan penelitian. Ia mencontohkan
dengan biaya sendiri, selama tiga tahun, ia mampu menemukan 80 kujang.
    Adapun Museum Sri Baduga hingga saat ini baru menemukan 21 kujang.
Julianita, Kepala Seksi Perlindungan, Museum Sri Baduga, mengatakan,
Pameran Kujang bertujuan menyebarkan informasi mengenai kujang kepada
masyarakat. “Saat ini banyak masyarakat Sunda tahu nama kujang, tapi
sudah tidak pernah melihatnya secara langsung,” kata Nita.
    Dalam acara tersebut dipamerkan 21 kujang milik Museum Sri Baduga
dan 86 kujang milik anggota Paguyuban Pencinta dan Pelestari Kujang.
Kujang berasal dari berbagai daerah di Jabar dan Banten dengan usia
beragam, bahkan ada yang sudah berusia sekitar 500 tahun. Di antara
kujang-kujang yang dipamerkan, ada yang berfungsi sebagai alat
pertanian, ada pula yang berfungsi sebagai senjata simbolik.
    Pembuat kujang, Bayu S Hidayat, mengatakan, sebaiknya Indonesia
tidak melihat kujang semata dari pertimbangan keindahan dan artistik
sebab teknologi di Indonesia jauh tertinggal dengan negara lain. “Ada
baiknya kita memfokuskan diri mengkaji budaya di balik kujang
tersebut,” ujarnya.
    Amas Hambas, pembuat kujang, menyatakan masih banyak orang yang
memesan kujang tetapi untuk koleksi. Kujang pesanan dibuat tidak tajam
dan bahan yang dipakai diutamakan yang mampu menunjang segi keindahan
kujang saja. (ynt)  

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

5 Tanggapan to “BANYAK KUJANG BERSEJARAH DIJUAL KE LUAR NEGERI”

  1. Leuh tuing meni ngiring prihatin

  2. dimana kita dapat membeli kujang di bogor ? tks

  3. saya ada yg asli jaman pajajaran…

  4. Punten agan bade nimbrung, bisana kitu teh awal karusakan diri + bangsana, sabab tos teu ngajenan kana paninggalan sajarah, Kujang ngandung harti Pikukuh Piwejanganana, Jelma2 tra Jejel tara Tumarima iraha jdi manusa. nuhun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: