BATARA KALA MENUNGGU DI BRAGA

Kompas, 27 Feb 2006

BATARA KALA MENUNGGU DI BRAGA
                         Oleh Yenti Aprianti

    Tak ada yang memedulikan wajah seram itu. Gigi selebar wajah,
hidung besar mengembang, dan mata melotot. Sebenarnya suasana sepi di
sekitar bangunan itu telah mengisyaratkan kekalahannya. Namun, sorot
mata tajam Batara Kala pada bangunan Landmark itu seakan menunggu
terulangnya masa-masa jaya Braga pada tahun 1930.
    Batara Kala, simbol hal-hal buruk dalam cerita berlatar kultur
Jawa, menjadi satu tanda dari periode penting arsitektur di Indonesia
yang saat itu bernama Hindia Belanda.
    Sebelum menjadi gedung pameran, tahun 1970, Gedung Landmark
berfungsi sebagai Bioskop Pop. Pada awal dibangun tahun 1960, gedung
itu adalah toko buku bernama Van Dorp.
    Ir CP Wolff Schoemaker mendirikannya pada tahun 1922 dengan
ornamen art deco. Gaya campuran dunia barat dan tradisional sering
disebut sebagai gaya Indische. Schoemaker, guru besar Jurusan
Arsitektur Technische Hoogeschool (sekarang ITB), menyerap gaya
tradisional dengan memberi ukiran pada bangunan berkarakter Eropa.
    Di sepanjang Braga, banyak gedung dengan ornamen art deco. Art
deco adalah sebuah aliran yang populer saat itu-tak hanya
memengaruhi seni bangunan, tetapi juga pakaian dan perabot rumah
tangga.
    Art deco ditandai dengan detail pada bangunan, seperti lampu dan
ornamen titik, bunga, dan lainnya, di bagian dalam bangunan. Bangunan
art deco amat menonjol di rumah toko (ruko) di seberang bangunan
Braga Permai, juga di Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC).
    Menurut Dr Ing Ir Widjaja Martokusumo, Koordinator Program
Bersama Desain Perkotaan, Arsitektur ITB, sejak tahun 1900-1920
banyak arsitek Belanda yang membangun gedung di sekitar Braga. Selain
Schoemaker, ada nama-nama Moojen, Ed Cuypers, Maclaine Pont, dan AF
Aalbers.
    Dari bangunan lama yang tersisa, menurut Widjaja, Braga memang
dibangun sebagai jalur belanja. Ini tampak dari ciri khas identitas
pusat kota, yaitu sempadan jalan nol. Titik terluar bangunan menempel
trotoar, sehingga pejalan kaki bisa melihat-lihat barang yang
dipajang. Jendela bangunan di Braga besar-besar karena berfungsi
sebagai etalase.
    Pada bangunan tengah tampak fungsi bangunan adalah sebagai toko
dan rumah. Pada “ruko” yang asli, ada dua pintu. Satu menuju toko,
yang lain di samping; langsung tangga ke lantai atas-rumah pemilik.
    Untuk kenyamanan dan ciri campuran bangunan Eropa dengan iklim
tropis, dibangun arcade atau trotoar terlindung atap untuk
menghindari terik matahari dan guyuran hujan.
    Kawasan Braga merupakan kawasan yang teratur. Bangunan dibuat
dengan melibatkan arsitek. Ada aturan soal besar bukaan, ketinggian,
dan jarak bangunan. “Berbeda dengan sekarang, semua orang membangun
tanpa bantuan arsitek dan tidak peduli apakah bangunan itu betul atau
salah,” ujarnya.
    “Struktur yang dipakai masih konvensional, terlihat dari adanya
kolom pada jarak-jarak tertentu,” kata Widjaja.
    Tembok bangunan lama di Braga tebal seperti tampak di Gedung
Merdeka dan Perusahaan Gas. Ini mencerminkan teknologi masa itu.
Tembok tebal menunjukkan fungsi dinding, penahan beban langsung
lantai atas. Adapun dinding bangunan masa kini berfungsi sebagai
pengisi. Meski dinding hilang dibongkar, bangunan tak roboh.

Tiga segmen
    Kawasan Braga dibagi menjadi tiga segmen, yaitu Jalan Asia Afrika-
Jalan Naripan, Jalan Naripan-Jalan Lembong, Jalan Lembong-Jalan
Perintis Kemerdekaan. Di tiap segmen ada bangunan pojok, tengah, dan
bangunan yang berdiri sendiri.
    Di segmen kedua, pejalan kaki bisa menikmati suasana pertokoan.
Beberapa toko dibiarkan tetap berarsitektur lama atau dimodifikasi.
Sebagian lagi dibiarkan telantar hingga keropos-seperti Toko
Populair.
    Pada segmen kedua ada Gedung Perusahaan Gas yang berimpitan
dengan ruko-ruko art deco. Di segmen ketiga ada Gedung Landmark dan
BI-yang khas Eropa bergaya Renaissance. Arsitektur merupakan
ekspresi budaya sebuah masyarakat.
    Bangunan-bangunan khas di Braga menjadi salah satu kontributor
bagi identitas Kota Bandung. Bahkan, tahun 1933 tata kota Kota
Bandung pernah diperlihatkan dalam Kongres Internasional di Athena
sebagai contoh kota kolonial.
    Kini, di antara deretan bangunan kuno di Braga, telah berdiri
kompleks apartemen dan hotel Braga City Walk. Widjaja berharap
pemerintah mampu melakukan antisipasi agar keberadaan pemukiman baru
yang akan membawa penduduk baru tidak mengakibatkan kemacetan yang
akhirnya menyebabkan peruntuhan bangunan lama dengan dalih pelebaran
jalan.
    Keunikan bangunan Braga mampu menggerakkan kembali wisata
arsitektur yang tidak hanya berorientasi pada budaya konsumtif.
Wisata arsitektur tersebut pernah dikembangkan sekitar tahun 1998 dan
peminatnya cukup banyak. Sayangnya, papar Widjaja, pemerintah kota
tidak serius mengembangkannya.
    Sorot mata Kala masih tajam mengikuti perjalanan Braga. Akankah
keindahan itu dibiarkan saja?

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Satu Tanggapan to “BATARA KALA MENUNGGU DI BRAGA”

  1. well I live near there, pretty near!
    news update, the paving block’s now one block by one block going to tear apart, since the pedesterian’s not the only “WALKERS” there..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: