BELAJAR MENJADI CANTIK BERSAMA

Kompas, 16 April 2007

BELAJAR MENJADI CANTIK BERSAMA

    “Mau enggak kalau remaja Cibaduyut disebut remaja yang memble?”
“Enggak mau, Eyang. Nanti enggak ada cowok yang naksir  kami,” ujar
seorang remaja putri.
    Pertanyaan tersebut diajukan Sri Lestari Yuwono (66) atau biasa
disapa Eyang oleh para peserta pengembangan potensi, Jumat (13/4).
Sri adalah fasilitator pengembangan potensi dari Yayasan Melati. Ia
menjadi fasilitator bagi sekitar 20 remaja dari Cibaduyut, Kota
Bandung, di Wisma Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
Jabar.
    Di balik nama besar Cibaduyut sebagai sentra industri sepatu
kulit, tersembunyi kemiskinan. Banyak anak dan remaja terpaksa putus
sekolah karena orangtua tak memiliki biaya.
    Menurut Dian M Marviana dari Mitra Citra Remaja, PKBI Jabar yang
pernah mendampingi pekerja-pekerja anak di kawasan Cibaduyut, banyak
anak di daerah tersebut sudah menyambi kerja saat masih sekolah di
tingkat Sekolah Dasar.
    Mereka bekerja di bengkel sepatu yang bau aroma lem yang
menyesakkan, dengan sirkulasi udara yang buruk sehingga membahayakan
kesehatan, terutama pernapasan.
    Bagi remaja perempuan yang putus sekolah dan tak bekerja, akses
mereka pun biasanya tertutup untuk mendapatkan pelatihan agar mereka
mampu mengembangkan diri. Sebab, banyak orangtua masih berpikir
seluas apa pun ilmu dan keterampilan perempuan, tak akan banyak
berguna karena mereka hanya dituntut bekerja domestik.
    Untuk membantu para remaja perempuan tersebut, Sunsilk mengadakan
program Circle of Beauty di Kota Bandung sejak Januari 2007. Program
ini juga dilaksanakan di empat kota lainnya, yaitu Medan, Makassar,
Jakarta, dan Yogyakarta.
    Program tersebut berupaya mengumpulkan remaja putri yang tidak
mampu untuk mengembangkan potensi. Mereka difasilitasi untuk belajar
membuat payet, merias dan merawat rambut, serta membuat kue.
    Imas Cucu (21) dari remaja dari Cibaduyut yang telah bekerja
sebagai penjahit sepatu sejak kelas V SD mengaku senang mengetahui
dirinya bisa membuat kue kering setelah mengikuti program
pengembangan potensi tersebut.
    Hal yang sama diungkapkan Weni Nuraini (13), siswa kelas II SMP
Terbuka 36, Kota Bandung. Ia mengaku hampir putus sekolah selulus SD
karena tidak mampu membayar uang sekolah masuk SMP.
    Untung ia mendapatkan informasi ada SMP gratis. Anak dari pelayan
toko dan penjual sepatu dari pintu ke pintu tersebut mengaku
ketidakmampuan keluarganya tidak membuatnya merasa minder dan tidak
cantik.
    Kepercayaan dari orang lain membuatnya merasa lebih percaya diri
dan cantik. Ia juga yakin, cantik tidak hanya milik perempuan berada.
Mereka yang tidak punya banyak uang pun bisa juga cantik secara fisik
dengan cara merawat kebersihan dan kesehatan diri. (yenti aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: