BIAR “NYICIL” ASAL GAYA MENJADI ORANG PUNK

Kompas, 1 april 2006

    Pada umumnya orang punk suka merias diri. Rambut mereka dicat,
ditata model mohawk (rambut berdiri membelah tengah kepala), atau
dicukur botak. Mereka juga menggunakan berbagai aksesori metal
seperti sabuk, gelang, giwang, anting-anting, dan cincin. Bahkan,
tidak jarang mereka menghiasi tubuhnya dengan beragam motif tato.
    Menjelang awal tahun 2000-an, mode jaket kulit, rambut mohawk,
jins ketat, sepatu bot, aksesori spike di leher dan pergelangan
tangan menjadi mode orang-orang punk di luar negeri. Tren ini
akhirnya ditiru juga oleh komunitas punk di Tanah Air.
    Ivan Sopian (23), pengelola distribution store (distro) Soul ID
dan Ball Angel Tattoo, mengatakan, tidak seperti dulu yang masih
identik dengan jaket kulit, sepatu bot, dan jins ketat, kini aksesori
punk sudah banyak berubah. Mode yang dulu melekat pada orang punk
sekarang sudah jarang ditemui.
    “Sebenarnya gaya orang punk bebas saja, terserah orangnya. Enggak
ada aturan harus seperti apa. Tapi, kalau sekarang paling cuma
piercing (tindik) dan tato yang banyak dipakai orang-orang punk.
Kalau mohawk sendiri, itu mah sudah jadi ciri khas tapi memang
sekarang enggak cuma orang punk saja yang di-mohawk, anak sekolah 
juga begitu,” tutur Ivan.
    Untuk itu, orang-orang di komunitas punk kerap harus merogoh
kocek tidak sedikit untuk mempertegas identitas punk pada
dirinya. “Biaya untuk sebuah aksesori saja bisa menghabiskan Rp
300.000-Rp 1 juta,” kata Aris Ediwan (28), seorang punk.
    Menurut Ivan, harga aksesori yang biasa dipakai orang punk
seperti tato dan anting bergantung pada jenis bahan dan ukuran.
Aksesori tersebut ada yang terbuat dari titanium, acrylic, tulang,
tanduk, dan baja.
    Biasanya barang-barang tersebut didatangkan dari Amerika Serikat
dan Inggris. Aksesori tersebut banyak dikenakan di wajah dan badan.
    Untuk sepatu bot saja, harganya bisa mencapai Rp 300.000 – Rp
700.000. Karena mahal, banyak juga yang gemar membeli bot bekas di
Pasar Loak Cihapit dengan harga berkisar antaraRp 50.000 hingga Rp
70.000.
    Sementara itu, untuk tato hitam putih sebesar telapak tangan,
harganya minimal Rp 200.000. Aksesori metal bisa mencapai ratusan
ribu rupiah.
    Anting berbahan titanium, termasuk jasa pemasangannya, ada yang
mencapai Rp 125.000 per pasang. Belum lagi jika bahannya terbuat dari
titanium hitam, harganya lebih mahal dibanding bahan titanium biasa
karena bahan tersebut sulit didapat.
    Kini, ada anting berbentuk lingkaran besar yang disebut plug.
Telinga orang yang memakai anting jenis ini akan terlihat berlubang,
bahkan bisa sampai beberapa sentimeter. Sepasang plug dari tulang dan
berdiameter lima millimeter dijual seharga Rp 150.000.
    Zubair (19), seorang  punk yang telinganya pernah putus, mengaku
tidak khawatir karena kulit telinga yang putus akibat terlalu sering
menggonta-ganti anting berlubang besar (diameter lubang pada telinga
bisa mencapai lima sentimeter), bisa disambung kembali dengan biaya
sekitar Rp 400.000.
    Lain anting, lain pula harga tato. Harga satu paket tinta yang
terdiri dari 32 warna dan dibeli dari luar negeri bisa mencapai Rp 8
juta. Ini belum termasuk mesin tato seharga 120 dollar Amerika
Serikat dan jarumnya yang seharga Rp 15.000 per buah.
    Ivan mengaku pernah menato lengan seseorang mulai dari bahu
hingga pergelangannya. “Biayanya sekitar Rp 1.500.000. Itu sekitar
dua tahun lalu,” tutur Ivan. Sebenarnya, harga minimal tato di
studionya Rp 150.000. Semakin besar ukuran tato, dikenakan biaya Rp
4.500 per sentimeter.

Menguras kocek
    Ivan menuturkan, dalam memasang aksesori, termasuk tato, dirinya
sangat mengutamakan keamanan. Tinta tato sengaja didatangkan dari
luar negeri karena tinta tersebut terbuat dari ekstrak tumbuhan
sehingga tidak memiliki efek samping.
    “Semua barang kami sudah memiliki lisensi dari Departemen
Kesehatan lho,” ujar Ivan. Aksesori punk yang harganya ratusan ribu
rupiah itu tentu akan sangat menguras kocek.
    Bagaimana tidak, anggota komunitas punk pasti sangat ingin
memakai aksesori yang menjadi identitas komunitasnya. Padahal,
kemampuan ekonomi sangat terbatas.
    Bagi orang punk dari kalangan ekonomi menengah ke atas tentunya
tidak kesulitan membeli aksesori tersebut. Namun, komunitas punk
sangat beragam. Mereka berasal dari bebagai kalangan anak muda
dengan kemampuan ekonomi yang berbeda pula.
    Tidak semua orang punk memiliki dompet tebal untuk belanja
aksesori tersebut. Oleh karena itu, aksesori dijual kepada sesama
anggota komunitas punk dengan harga lebih miring. Bahkan, banyak di
antara mereka yang akhirnya harus mencicil untuk menghiasi dirinya
dengan aksesori komunitas punk.
    “Kita kan banyak teman yang juga membuka toko dan studio tato.
Jadi, akhirnya kita saling barter dan memberi harga pertemanan yang
lebih murah. Kalau tidak sanggup kontan, kita bayarnya mencicil.”
    “Kalau ada yang ingin ditato tapi uangnya terbatas, paling nanti
ukuran tatonya kita perkecil saja,” kata Ivan.
    Namun, justru karena mahal itu, kata seorang punk bernama Dendi
Darmadi (26), ia malah menjadi lebih kreatif membuat sendiri
berbagai aksesori.
    Di Kota Bandung juga tersedia banyak toko dan kios barang bekas
yang menyediakan perlengkapan punk.
    Menurut psikolog, Dr Sawitri Supardi Sadarjoen, munculnya
komunitas punk tidak terlepas dari gejolak seseorang saat memasuki
usia remaja dan pengaruh kehidupan keluarga.
    “Kebanyakan remaja mengalami gejolak. Misalnya, mereka selalu
ingin mencoba berbagai hal dan menarik perhatian orang di sekitarnya.
Hal ini pasti dialami oleh semua remaja. Komunitas punk juga bisa
terbentuk karena adanya beberapa remaja yang awalnya mencoba dan
ingin menarik perhatian orang lain melalui musik dan dandanan yang
berbeda. Setelah diawali dari sekadar mencari perhatian dan
coba-coba, akhirnya menjadi gaya hidup,” tutur Sawitri. (ynt/d11

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Satu Tanggapan to “BIAR “NYICIL” ASAL GAYA MENJADI ORANG PUNK”

  1. punx not dead…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: