“NGEBUT” UNTUK MENGHILANGKAN KEJENUHAN HIDUP?

Kompas, 10 Juni 2006

“NGEBUT” UNTUK MENGHILANGKAN KEJENUHAN HIDUP?

    “Eh, ada polisi,” teriak seorang remaja lelaki seraya melonjak
dari jok motornya. Ia segera memacu motornya. Teman-temannya yang
tengah asyik menonton balap motor liar di Jalan Diponegoro, Kota
Bandung, pun bubar.
    Tidak sampai 50 meter melaju, sekumpulan anak muda yang
memboncengkan remaja perempuan di jok belakang kembali mendekat ke
arena balap motor liar. Rupanya rasa takut berhasil mengecoh mereka.
    Takut ditangkap polisi. Itulah hal yang sering menghinggapi para
pembalap liar sebab jika tertangkap, urusan jadi panjang. Keluarga
pun terpaksa dilibatkan, padahal selama ini banyak di antara mereka
tidak mendapat izin dari orangtua untuk memacu motornya dengan
kecepatan tinggi di atas jalan utama kota.
    Para penggemar balap motor jalanan yang sering disebut balap liar
mencapai ratusan orang. Setiap Jumat pukul 23.00 mereka sudah
berkumpul di sepanjang Jalan Diponegoro, persis di depan Taman
Cisangkuy hingga depan gedung Radio Rakyat Indonesia. Selain di
Jalan Diponegoro, setiap sore, pembalap liar menggunakan Jalan
Japati, tepatnya seputar Taman Monumen Perjuangan Jawa Barat.
    Hampir semua datang membawa motor. Sebagian kecil memboncengkan
perempuan muda berusia belasan tahun. Mereka berkumpul membentuk
kelompok-kelompok kecil beranggotakan 5 -15 motor. 

Berbeda-beda
    Karakteristik setiap kelompok berbeda-beda. Masyarakat sering
mengidentikkan mereka sebagai kelompok anak muda berandal, dengan
salah satu perilaku suka mabuk-mabukan. Pada sebagian kecil kelompok
pembalap liar di sekitar Jalan Diponogoro memang tercium bau
alkohol. Namun, ada juga yang lebih senang menonton sambil makan
nasi goreng dan air teh hangat yang dibeli dari pedagang nasi goreng
keliling. 
    Anak-anak muda itu sesekali masuk ke “arena” balap untuk
menunjukkan kharisma kendaraan, teknik balap, atau melupakan masalah
yang tengah dihadapi dengan memicu adrenalin.   
    “Kalau punya masalah, saya jarang bisa menceritakannya pada orang
lain. Jadi kalau sedang punya masalah, terus balap, rasanya pikiran
lebih ringan atau masalah bisa dilupakan,” ujar Andri (22).
    Lelaki asal Buahbatu, Bandung, ini mengaku menyenangi balap motor
sejak kelas I sekolah menengah atas (SMA) ketika usianya sekitar 16
tahun. Ketertarikannya bermula dari senangnya mengotak-atik motor.
Ia senang main di bengkel motor dekat rumahnya. Sejak saat itu
segala sesuatu yang berhubungan dengan modifikasi motor sangat
disukainya. Kegemaran akan balap motor juga dipengaruhi oleh cerita-
cerita ayahnya yang di masa muda juga senang balap motor.
    Andri mengaku kedua orangtuanya mengizinkannya mengikuti balap
motor resmi. “Tapi balap motor resmi mahal. Untuk mendapatkan kartu
izin start harus bayar ratusan ribu, dan untuk mengikuti kejuaraan
motor standar biayanya sampai sekitar Rp 4 juta. Sementara untuk
motor modifikasi mencapai puluhan juta,” ujar Andri.
    Andri berprinsip, daripada uangnya dipakai untuk membayar
berbagai keperluan administrasi, lebih baik digunakan untuk
modifikasi. Hampir setiap Jumat malam Andri berada di Jalan
Diponegoro untuk mengikuti balap motor.
    Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Pasundan, Kota Bandung, ini
bukan tidak memahami bahwa apa yang dilakukannya melanggar dan
membahayakan pengguna jalan lain. “Tapi bagaimana, ya, tempat yang
cukup aman dan gratis ada di sini,” kata Andri yang juga menganggap
wajar jika ada masyarakat awam kesal pada pilihan anak-anak muda ini
untuk membalap di jalan umum.
    Andri mengaku sebagai pembalap liar. Ia sendiri pernah dihinggapi
trauma. “Selama enam bulan saya tidak mau naik motor,” kata Andri.
Trauma muncul setelah ia melihat kekasihnya yang juga gemar membalap
di jalanan tertabrak dan meninggal. Trauma timbul lagi setelah
temannya meninggal saat membalap di jalanan.
    Kecelakaan terjadi di saat mereka melakukan balap liar di sebuah
jalan yang tidak memiliki pembatas. Andri sendiri lupa nama
jalannya. Jalanan itu menanjak dan menurun. Tepat di tanjakan,
temannya tidak bisa mengendalikan kendaraannya yang berpapasan
dengan kendaraan lain dari arah atas. Akibatnya, teman satu
kelompoknya pun meninggal seketika.
    “Tidak semua jalan di Kota Bandung bisa dipakai balap liar,”
katanya.
    Untuk menghindari kecelakaan dengan kendaraan dari arah yang
berlawanan, jalan yang ideal untuk balap harus memiliki pembatas
lajur kiri dan kanan, aspalnya mulus atau tidak berlubang dan
bergelombang.
    Karena kemampuannya mengotak-atik kendaraan, setiap bulan Andri
hanya mengeluarkan biaya perawatan sekitar Rp 200.000. “Ternyata
trauma saya hilang setelah “ngebut” lagi di atas motor,” ujar Andri
yang memilih membalap bukan untuk memamerkan diri, melainkan ia
merasa, mengebut mampu menghilangkan kejenuhan hidup dan menemukan
semangat baru menghadapi hari-hari esok. Lalu, di manakah ruang 
yang pantas untuk mereka? Haruskah mereka tetap di jalanan?
(Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: