BELANDA PERNAH MENDIRIKAN TIGA SEKOLAH RONGGENG

Kompas, 3 Juni 2006

BELANDA PERNAH MENDIRIKAN TIGA SEKOLAH RONGGENG
              Di Arsip Nasional Hanya Ada Naskah Fotokopi

Bandung, Kompas
    Kesenian tayub asli yang ditarikan oleh ronggeng kini sudah
punah. Padahal, seni ini pernah sangat populer. Bahkan, Belanda dan
Kesultanan Cirebon pernah mendirikan sekolah ronggeng 197 tahun lalu.
    Menurut Lalan Ramlan, dosen Tari di Sekolah Tinggi Seni Indonesia
Bandung sekaligus peneliti tayub dan ronggeng, sejak sekitar abad ke-
16 kesenian digunakan di Cirebon untuk menyebarkan agama Islam. Salah
satu bentuk kesenian yang digunakan untuk kepentingan tersebut adalah
tayub. Tayub adalah tarian dengan pola penari utama, penari
partisipan, dan sajian minuman.
    Seni tari tayub memiliki penari utama yang disebut ronggeng.
Ronggeng adalah seorang perempuan. “Sebelum menjadi ronggeng, mereka
dididik untuk menghayati kitab suci Al Quran, etika sosial, dan ilmu
pengetahuan lainnya,” kata Lalan, Jumat (2/6) di Bandung.
    Ronggeng merupakan penari perempuan yang bertugas untuk
memulihkan kekuatan Islam. Orang yang menjadi ronggeng dipastikan
sebagai manusia yang sudah memasuki ma’rifat atau tahap tertinggi
kedekatan manusia dengan penciptanya. Mereka bekerja sebagai ungkapan
pengabdian.
    Dalang ronggeng dianggap sebagai guru tari. Mereka biasanya
menjadi guru dalang topeng, dan dalang topeng biasanya juga menjadi
guru bagi dalang wayang.
    Menurut catatan sejarah, kata Lalan, pada tahun 1786 sudah banyak
dalang topeng beratraksi atau ngamen di berbagai daerah yang kini
masuk dalam wilayah pemerintahan Jawa Barat, seperti Indramayu,
Karawang, Sumedang, Subang, Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya.
    Di daerah tersebut hingga kini dikenal istilah ronggeng dan
beberapa tarian berpola seperti tayub. Dari catatan sejarah dapat
diduga bahwa tayub merupakan akar estetika bagi perkembangan tari
lainnya di bumi Priangan.
    Lalan mengatakan, diperkirakan sebelum abad ke-18, tayub dan
ronggeng menjadi sangat populer. Kepopulerannya itulah yang diduga
menjadi alasan bagi Belanda bersama Keraton Cirebon untuk mendirikan
sekolah ronggeng pada tahun 1809.
    Sayangnya, untuk menelusuri sejarah ronggeng, Lalan mengaku
kesulitan melacak manuskrip asli dan catatan sejarah lainnya. Sejak
meneliti ronggeng pada tahun 1998, Lalan menemukan fotokopi
manuskrip Jacob Albert van Middlekoop yang pernah menjadi petugas
Verenigde Oostindische Compagnie (VOC).
    Menurut Lalan, dalam manuskrip berjudul Reglement van de Tandak
of Ronggeng te Chirebon atau Sekolah Ronggeng di Keraton Cirebon yang
ia kutip dari tulisan Yulianti Parani, dituliskan tentang
diberikannya izin pendirian tiga sekolah ronggeng dan diberikannya
tempat pementasan di Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.
    Lalan melanjutkan, pementasan dilakukan tiga minggu sekali.
Bayaran sekolah berupa barang sandang dan pangan. Muridnya adalah
gadis yang tidak boleh berusia lebih dari 12 tahun dan mereka tinggal
di sekolah. Kegiatannya adalah belajar membaca dan menulis Al Quran
dan etika keraton, serta menyanyi dan menari sebagai ronggeng. 
    Lalan menganalisis, sejak adanya sekolah tersebut profesi
ronggeng tidak lagi sebagai tugas pengabdian, tetapi sudah sebagai
profesi bernilai ekonomis.
 
Naskah fotokopi
    Lalan memperkirakan masih banyak hal yang bisa diungkapkan
tentang ronggeng. Sayangnya, dari Arsip Nasional Republik Indonesia
hanya ditemukan catatan Middlekoop dalam bentuk fotokopi. “Seharusnya
saya pergi ke Leiden, Belanda, untuk mencari catatan ini. Namun,
hingga kini belum mendapatkan sponsor,” ujar Lalan.  
    Kartani (68), budayawan dari Kasepuhan Cirebon, mengatakan, 
tidak ada catatan tentang sekolah ronggeng dalam naskah-naskah di
Kasepuhan Cirebon. Ia menduga yang dimaksud sekolah ronggeng dalam
catatan Middlekoop adalah tempat latihan kesenian. Sebab, Kasepuhan
dan Keraton Cirebon lainnya sudah sejak lama selalu menyelenggarakan
latihan kesenian.
    Ia juga menduga, tari tayub dibuat sekolah atau kursusnya karena
di masa lalu tarian ini merupakan tarian pergaulan yang sebaiknya
bisa dilakukan kalangan menengah ke atas.
    Kartani mengatakan tayub lahir sekitar abad ke-16 pada masa
kekuasaan Panembahan Ratu II. Saat itu tayub dan penarinya, ronggeng,
digunakan untuk mengembalikan kepercayaan Islam di masyarakat. Tayub
berasal dari bahasa Arab, toyib, yang berarti kehormatan.
    “Naskah di keraton jarang yang mengungkapkan ronggeng. Mungkin
karena dianggap bukan hal penting. Ronggeng hanya dijadikan sarana
mengembalikan keyakinan masyarakat,” ujar Kartani.
    Namun, Kartani juga mengungkapkan, pada akhir masa Perang
Kedondong tahun 1818, masyarakat Cirebon berhasil menyerang Belanda
hingga kalah saat mereka asyik menari dengan ronggeng. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juni 14, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: