BERADU KEINDAHAN TARI DALAM TAYUB

Kompas, 19 Mei 2007

    Seorang lelaki mendekatkan  kedua jempol tangannya kepada penari
pria yang ada di arena tari. Namun, permintaan untuk ikut bergabung
menari itu  tak dihiraukan. Lelaki itu tersenyum, lalu beberapa kali
mencoba lagi meminta izin.
    Akhirnya, sambil sedikit membungkuk, tangan penari utama dengan
telapak terbuka terayun juga. Restu menari diterima.
    Dua lelaki itu seolah saling beradu gerak tari. Gaya tarinya
macam-macam, namun anggun dan selaras dengan gamelan.
    Di antara penari laki-laki itu ada dua ronggeng atau penari
perempuan. Tarian tayub menjadi lebih seru saat dua laki-laki itu
mulai mempertunjukkan keahliannya menayub. Saat penari yang satu
menari dengan  ronggeng idola, penari lainnya menyela di antara
keduanya, merebut peluang menari bersama ronggeng.
    Karena karakter menari satu orang dengan lainnya berbeda, ronggeng
harus mengimbangi tarian pasangannya. Di saat itulah kemampuan sang
ronggeng dinilai.
    Menonton tari di acara Nayub di Kademangan, yang diselenggarakan
di Museum Geusan Ulun, Sumedang, pekan lalu pun, menjadi seru.  
Kegiatan tersebut diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
(Disbudpar) Jabar, Disbudpar Sumedang, dan Jurusan Tari Sekolah Tinggi
Seni Indonesia (STSI) Bandung.
    Di akhir acara, para penari dan penonton menari bersama di arena.
Tariannya hanya mundur beberapa langkah saat musik lirih, dan maju
beberapa langkah saat musik makin rampak.
    Tarian akhir ini disebut cisenggean. Tari ini terinspirasi dari
Kampung Cisengge di Sumedang utara yang berbukit-bukit.
    Tayub sudah dikenal sekitar  tahun 1800-an. Kesenian ini sudah
disebut dalam literatur kuno, seperti Gatotkacasraya, Sumanasantaka,
serta Centini.
    Ada yang mengatakan tayub berasal dari kata sayub atau minuman
beralkohol seperti tuak. Konon penari minum tuak dulu agar bersemangat
menari.
    Tayub juga berarti tari pergaulan atau ngibing yang diiringi
gamelan, dan penari utamanya ditemani ronggeng. Kesenian ini dikenal
di Jawa dan Sunda.
    Di Sunda, dikenal tayub menak dan rakyat. Pada masa lalu, di
kalangan pejabat daerah, baik bupati, kepala desa, maupun kaum
intelektual, menayub merupakan lambang status kepriayian.
    Tayub rakyat ditarikan siapa saja. Tayub rakyat sering berubah
dari patokan semula, menjadi jaipongan, bangreng, pop dangdut, atau
ronggeng kaler.
    Sekitar 1930 Gandakusuma dan Sambas Wirakusuma menyusun tayub
dalam  pola yang kemudian dikenal dengan Ibing Keurseus.
    “Tari Tayub sangat menyenangkan. Saya tidak pernah belajar
menayub, tapi karena biasa menonton jadi senang pada tayub,” ujar
Enduy (35),  penonton.
    Kepala Disbudpar Jabar Ijuddin Budhyana juga tertarik pada tayub.
Ia  belajar menayub dua minggu agar bisa menari di arena. “Sayang,
tayub yang diciptakan dengan indah oleh seniman  masa lalu
terbengkalai, bahkan hilang tanpa kita pedulikan,” ujarnya.
(Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 14, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: