BERESKAN BINATANG DULU AGAR BISA KETUK TILU

Kompas, 12 Agustus 2006
    “Lagu Gelong nukahatur, nyanggakeun ka sadayana. Ketuk tilu
baheulan, ayeuna tinggal waasna….”(Tembang Gelong yang
diperdengarkan, dipersembahkan untuk semua. Ketuk tilu dulu, kini
hanya kenangan…).
    Lirik tembang berjudul Gelong tersebut kontras dengan semangat
para seniman tua. Tubuh yang sudah renta seolah tidak pernah lelah
menghibur sejak 1972. Mereka menari tiga kali dalam sebulan di Kebun
Binatang Bandung. 
    Minggu (6/8), kursi penonton masih kosong. Namun, para nayaga
dan pesinden sudah duduk teratur di depan alat musiknya, siap
menghibur. Mereka menunggu Salam Mulyadi (88) yang masih mengganti
pakaian dan membalur tubuh dengan minyak sereh, wijen, dan gandapura
agar otot-ototnya tidak kaku setelah banyak menari.
    Baru dua penonton yang duduk. Pengunjung kebun binatang lainnya 
mengintip dari kaca jendela dan pintu, lalu pergi. Meski hanya dua
orang yang serius menonton, para seniman tua itu tetap menari. Salam
dan Uki (60) datang ke tengah arena tari yang berada di antara
panggung dan kursi penonton. Saat lelah, mereka hanya dihibur seketel
air teh dan lontong.
    Di atas panggung ada tiga lelaki yang usianya lebih muda dari
seniman lainnya. Kostum mereka berbeda dari nayaga lain. Mereka
mengenakan seragam biru muda, seragam kebun binatang.
    Ketiga lelaki itu ialah petugas bagian tata lingkungan satwa
Kebun Binatang Bandung. Pada hari Minggu, biasanya kebun binatang
ramai dikunjungi masyarakat. Saat itu kandang-kandang satwa sudah
harus rapi dipelihara. Hari itu karyawan bagian tata lingkungan satwa
memiliki banyak waktu istirahat. Mereka memilih menjadi nayaga,
membantu seniman ketuk tilu.
    Aceng Sulaeman (56), Kepala Bagian Tata Lingkungan Satwa,
merupakan pemain kendang andalan di ketuk tilu. Pengalamannya bermain
kendang sudah teruji di beberapa pergelaran pencak silat di Jawa
Barat hingga luar negeri. “Kami sudah membereskan pekerjaan sebelum
main ketuk tilu,” katanya. Bagian sound system pun dipegang Lili dari
urusan perawatan akuarium. “Selain menghibur, berkesenian ketuk tilu
untuk menjalin silaturahmi, karena banyak seniman dari sekolah seni
yang datang,” ujar Aceng.
    Uun, sinden ketuk tilu, pun mengaku senang bisa bergabung dengan
kelompok ini meski honornya sangat kecil. Setiap Minggu, saat jam
menunjukan pukul 11.00, Uun langsung menyapa, “Para pemirsa sadayana.
Ayeuna urang lebet ka acara utama, ketuk tilu. Wilujeng ngadangukeun,
wilujeng nyangkerek,” ujar Uun membuka acara. Pengunjung berdatangan.
Binatang pun ditinggalkan dulu demi ketuk tilu. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 14, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: