BERJUBEL DALAM TRUK UNTUK MENGHIBUR

Kompas, 2 Feb 2007
    Sejak Indonesia masih dalam genggaman penjajah, keluarga mereka
sudah memilih hidup di jalur seni. Orangtua mereka berkeliling dari
satu panggung ke panggung lain, bermain tonil atau teater. Kini
anak-anak dan menantunya meneruskan hidup di jalur yang sudah
digoreskan orangtuanya.
    Di mana pun pengundang meminta mereka menghibur. Mereka bersedia
datang, berdesakan dengan alat musik dalam sebuah truk. Sepasang gong,
bonang, dan kecrek di tumpuk dalam truk sewaan. Ruang tersisa diisi
para pemain.
    Mereka adalah keluarga besar seniman sandiwara dan longser, yang
menamakan kelompok seninya, Panglipur Galih dari Kabupaten Sumedang.
Rumah mereka di Kota Sumedang. Namun, tak jarang mereka harus ke
berbagai pelosok di Jawa Barat.
    Menurut Oom (55), sesepuhnya merupakan seniman. Darah seni
mengalir pada orangtua mereka yang pada tahun 1950-an menjadi pemain
tonil.
    Mereka biasa memainkan longser sejak pukul 09.00 malam selama satu
jam. Namun, pertunjukan yang penuh improvisasi itu bisa diperpanjang
tergantung respons penonton.
    Oom bersama lima adiknya, Kaji (51), Yayat (50), Yayah (48),
Maman (41), dan Kikin (39), serta paman, bibi, dan ipar-iparnya
manggung sekitar 25 kali dalam sebulan untuk menampilkan longser,
sandiwara, atau melawak.
    Tidak setiap hari mereka bisa tidur. Sekali ada kesempatan
merebahkan diri, mereka langsung tertidur. Di waktu luang, ketika
tidak ada tawaran manggung, mereka membuat berbagai perkakas musik
Sunda dan busana kesenian Sunda.
    Untuk longser, sekali manggung mendapat bayaran Rp 5 juta-Rp 10
juta. Uang tersebut dipakai untuk ongkos sewa kendaraan dan berbagai
kebutuhan akomodasi. “Biasanya yang punya hajat memberikan tumpangan
sebuah rumah untuk tempat beristirahat. Pemain dan pemusik yang
terlibat bisa mencapai 10 orang.  
    Namun, dari saweran saja, kelompok ini bisa mendapat Rp 500.000-Rp
750.000 sekali tampil.
    Mereka mengaku senang bisa terus menghibur rakyat meski kadang
lelah mendera. Seperti siang itu, Maman, seorang pemain duduk
mengobrol sambil makan. Waktu yang sedikit membuat mereka harus
terampil mambaginya untuk menjaga stamina.
    Malam sebelumnya ia ikut sebagai pemusik. Penonton amat antusias.
Jumlahnya mencapai ratusan. Penonton terus tertawa selama pertunjukan,
dan sesekali melemparkan lembar uang Rp 1.000-Rp 50.000 ke panggung.
    Penonton dari kalangan tak punya hingga yang berduit duduk
bergabung di atas lantai di depan panggung. Mereka yang berduit
biasanya menyiapkan setumpuk uang untuk saweran. Sambil berceloteh
atau menonton, tangan mereka melipat atau melinting uang untuk
dilemparkan ke panggung. Makin tinggi apresiasi penonton, makin banyak
sawerannya. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 14, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: