BERNYANYI UNTUK “HAPPY-HAPPY”

Kompas, 26 April 2008

 BERNYANYI UNTUK “HAPPY-HAPPY”
 Oleh Frans Sartono dan Yenti Aprianti 

    “Saya belajar nyanyi buat happy-happy!” kata Tjoe Kioek Man,
perempuan berusia 55 tahun yang tengah belajar bernyanyi di Purwa
Caraka Music Studio, Jalan Sriwijaya, Bandung, Kamis (24/4) siang.
Bernyanyi kini menjadi kebutuhan dalam pergaulan yang menyenangkan.
    Siang itu Tjoe Kioek Man atau Aman tengah melantunkan lagu
berbahasa Mandarin, Hwei Sin Cuan I, diiringi perangkat pemutar musik
minus one. Di samping Aman berdiri Susi M Effendi (33), instruktur
vokal yang dengan sabar melatih.
    “Ayo Tante, tarik napas! Tahan napas, tekan perut! Keluarkan udara
pelan-pelan biar suara bisa tahan lama,” kata Susi memberikan
instruksi kepada Aman yang tengah berlatih pernapasan.
    Aman tertarik belajar bernyanyi setelah empat tahun terakhir ini
ia mengikuti kegiatan menyanyi bersama rekan-rekannya. Seminggu sekali
Aman dan “geng”-nya berkumpul bergantian di rumah anggota. Untuk
melancarkan kemampuan bernyanyi, Aman merasa perlu belajar privat.
selama ini ia kesulitan mencapai nada-nada tinggi. Lewat kursus, ia
belajar teknik pernapasan. Ingin jadi penyanyi?
    “Ah, umur segini mau sampe ke mana sih. Saya cuma pengin
nyanyi-nyanyi saja buat happy-happy,” kata Aman yang suaminya
berbisnis mebel.  
    Lain lagi dengan Yuliandri atau Yuli (22). Mahasiswa Jurusan
Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran ini belajar
vokal karena merasa tidak percaya diri bernyanyi di depan
kawan-kawannya. Asal tahu saja, tempat kosnya di Jatinangor dilengkapi
dengan fasilitas karaoke. Penghuni kos sering nyanyi bareng. Maka,
Yuli pun menyiapkan diri dengan ilmu vokal.
    “Saya gak pede bernyanyi di depan orang,” ujar Yuli yang siang itu
berlatih lagu Ayat-ayat Cinta.
    Meskipun untuk sekadar hobi, Yuli dan Aman perlu mengetahui teknik
dan dasar-dasar menyanyi yang benar. Dengan mengetahui teknik dasar,
setidaknya mereka tidak ngos-ngosan saat “mendaki” nada tinggi. Mereka
juga bisa membidik nada dengan lebih terukur.
    Mereka tidak punya ambisi tinggi. Bisa bernyanyi dengan nyaman,
syukur-syukur terdengar enak di telinga orang, bagi mereka sudah
cukup. “Selama ini saya bernyanyi ya kayak gitu-gitu aja. Sekarang
saya dapat dasar-dasar bernyanyi,” kata Yuli.
 
Untuk pergaulan
    Animo masyarakat untuk belajar bernyanyi makin marak. Lembaga
pendidikan musik di Bandung, seperti Purwa Caraka Music Studio (PCMS),
Gelanggang Generasi Muda (GGM), Georama, Elfa Music School, Melodia,
dan Esa Aji Putra, membuka kelas vokal. Menurut Ardi, Manajer
Operasional PCMS Cabang Jalan Bungur, PCMS dalam satu putaran masa
kursus mempunyai sekitar 1.000 peserta di tujuh cabang di Bandung.  
Sekitar 60 persen peserta adalah anak-anak, sedangkan sisanya ialah
remaja dan orang dewasa.
    Peserta belajar bernyanyi dengan beragam visi dan motivasi.
Kebanyakan untuk sarana pergaulan sosial di kantor, keluarga, atau
antarteman. Mengutip hasil penelitian mahasiswa Universitas Pendidikan
Indonesia, Koordinator Instruktur Seni Vokal GGM Yossie Wijaya
mengatakan, sebagian besar peserta kursus ingin mengisi waktu luang.

Tidak instan
    Namun, ada pula peserta yang termotivasi untuk tujuan kompetisi.
Ardi mengakui, maraknya kontes nyanyi di televisi ikut mendorong animo
masyarakat belajar nyanyi. Ia menuturkan, ada orangtua bertanya,  
“Kalau anak saya belajar tiga bulan, apa bisa jadi penyanyi?”
    Akan tetapi, menyanyi tidak bisa instan. Ia perlu proses. “Mereka
pikir dengan belajar satu bulan orang sudah jadi penyanyi,” kata Susi
M Effendi, yang sembilan tahun menjadi instruktur vokal.
    “Dari awal saya tanamkan kepada peserta bahwa nyanyi itu kayak
bahasa, tak bisa instan. Semakin banyak berlatih akan semakin baik,”
Susi menambahkan.
    Listyani Nugroho, Wakil Pimpinan Georama, yang rajin mengamati
kontes nyanyi televisi, mengagumi bakat-bakat vokal orang Indonesia.
Hanya, menurut dia, potensi itu belum digarap serius. “Saya yakin
Indonesia memiliki banyak ‘Pavarotti’,” katanya.

~ oleh warungminum pada Juni 14, 2008.

3 Tanggapan to “BERNYANYI UNTUK “HAPPY-HAPPY””

  1. wah saya jadi tertarik ikutan kursus vokal buat “happy-happy”..

    salam kenal sis..

  2. salam kenal juga mas. Tinggal di Bandung kah? di kota itu banyak y kursus vokalnya.

  3. saya buat lagu sendiri bisa di promosi”in tidak,karena lagu aku enak bgt di dengar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: