DEMI SEKOLAH, BERJALAN KAKI DAN TINGGAL DI MASJID

Kompas, 13 April 2006

    Pendidikan adalah hal berharga bagi Desi Yanti (17) dan Marjono
(19), pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Bandung. Kesulitan
ekonomi bukan halangan untuk terus belajar.
    Desi, yang ayahnya menjadi buruh bangunan, sudah lama menganggur.
Untuk melanjutkan pendidikannya, Desi harus berjalan kaki sekitar
delapan kilometer dari rumahnya di Margaasih ke sekolahnya di Cijerah.
    Jika terlalu lelah berjalan, ia menginap di rumah teman yang 
dekat dari sekolahnya. “Saya bisa menginap seminggu di rumah teman,”
ujar Desi. 
    Desi, yang menjadi pelajar terbaik di kelasnya, ini tidak pernah
punya uang untuk jajan. Makan pun seadanya. “Saya terbiasa puasa
Senin dan Kamis, jadi kalau tidak makan setengah hari, tidak terasa
lapar,” kata Desi, yang mendapat bantuan dari guru Rp 100.000 per
bulan untuk ongkos.
    Uang tersebut hanya cukup untuk transportasi selama setengah
bulan, setengah bulan sisanya ia berjalan kaki. Setiap hari Desi
harus naik angkutan umum tiga kali dengan ongkos Rp 8.000 per hari.
    Siswi kelas II Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang ingin
jadi insinyur pertanian, ini mengambil pelajaran keterampilan tata
busana agar bisa berwiraswasta setelah keluar dari MA. “Melihat
kondisi perekonomian keluarga, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan
kuliah,” katanya. 

Lebih baik
    Hal yang sama dirasakan Marjono. Sejak kecil ia dirawat neneknya
di Nganjuk, Jawa Timur. Ketika lulus sekolah menengah pertama, ibunya
yang membuka warung kecil di Jakarta dan ayahnya yang beternak ayam
di Bandung memintanya meneruskan sekolah di Bandung. Marjono memilih
MA agar bisa mendapatkan ilmu agama lebih baik.
    Namun, ayahnya tidak selalu memiliki uang untuk kebutuhan sekolah
Marjono. Ia harus berjalan kaki ke sekolah. “Saya anggap kelelahan
ini bagian dari perjuangan hidup,” tutur Marjono, yang berjalan
dari rumahnya di sekitar Jalan Sukajadi ke sekolahnya di Jalan
Cijerah dalam waktu 40 menit hingga satu jam.
    Untuk membantu ekonomi keluarganya, Marjono berjualan makanan
ringan, yaitu kripik dan kacang-kacangan. Dari 50 bungkus yang
diambil di warung, ia mendapatkan keuntungan Rp 10.000-Rp 15.000.
Uang tersebut dipakai untuk membeli buku dan ditabung untuk membeli
sepeda bekas Rp 150.000.
    Dua bulan lalu, remaja yang mengambil keterampilan pemeliharaan
dan perbaikan komputer ini diangkat sebagai anak asuh oleh seorang
guru.
    Agar tidak terlalu jauh ke sekolah, Marjono memilih tinggal di
masjid milik gurunya. Ia bertugas menjadi pengumandang azan dan
pembersih masjid.
    Murid kelas II Jurusan IPA ini meluangkan waktu belajar
pengobatan alternatif di Masjid Salman ITB.
    Marjono berharap bisa melanjutkan kuliah ke fakultas
kedokteran. “Saya ingin menyembuhkan orang-orang,” katanya. 
    Tekadnya sudah bulat, meski setelah lulus MA harus bekerja, ia
akan menabung agar bisa kuliah. Marjono yakin kalau membeli sepeda
dengan menabung ia bisa, maka ia pun bisa menjadi dokter dengan cara
yang sama.  (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 14, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: