BERULANG KALI MERANCANG PRANGKO ETNIS TIONGHOA

Kompas, 7 feb 2007

BERULANG KALI MERANCANG PRANGKO ETNIS TIONGHOA

    Prangko adalah sejarah. Tahun ini Indonesia juga akan mencatat sejarah baru dalam dunia prangko dan memperlihatkan sejarah masyarakat Indonesia melalui prangko.
    Menurut catatan yang diberikan Unit Filateli, PT POs Indonesia, masyarakat dunia mengenal prangko pada tahun 1840 setelah Rowland Hill, seorang guru di Inggris, membuat prangko dengan sistem yang berlaku hingga saat ini. Pengirim membeli prangko sebagai tanda pembayaran pengiriman surat. Prangko pertama bergambar Ratu Victoria dengan nominal satu penny.  
    Sebelumnya, penerima surat adalah pihak yang membayar surat jika ia membukanya. Untuk menghindari pembayaran, biasanya pengirim surat memberikan kode-kode gambar di sampul surat sehingga penerima bisa mengetahui isinya tanpa membukanya. Mereka pun terhindar dari
kewajiban membayar.
    Prangko dikenal Indonesia pada tahun 1824 di masa pemerintahan Hindia Belanda yang membuat prangko pertama bergambar Raja Willem III. Kini harga secarik prangko itu Rp 2 miliar.Di masa pendudukan Jepang, prangko yang belum dicetak Belanda dibubuhi huruf Jepang dan tanda
berupa jangkar, palang, dan lainnya bertuliskan Dai Nippon Yubin Kyoku. Pada tahun 1943 barulah diterbitkan prangko-prangko Jepang bergambarkan bola dunia peta Kerajaan Jepang, membajak, pantai, dan lain-lain.
    Di masa perjuangan kemerdekaan pelayanan pos masih dipegang Dinas Pos Jepang. Di kota yang dikuasai Belanda, prangko yang berlaku adalah prangko Hindia Belanda. Namun, di daerah lainnya sudah mulai prangko Indonesia, salah satunya seri revolusi untuk memperingati setengah
tahun kemerdekaan.
    Pada awal tahun 1950, karena taktik bumi hangus tentara gerilya, kantor pos dan fasilitasnya banyak yang hancur. Jawatan Post Telegraaf Telefoon (PTT) dengan NV Joh Enschede en Zonen di Haarlem, Belanda, mencetak prangko Rp 1. Jenisnya berupa prangko biasa seri angka, seri
bangunan berupa gambar rumah dan candi. Dua prangko ini ditindih cetakan RIS atau Republik Indonesia Serikat. Pada peringatan Hari Kemerdekaan Ke-5 barulah diterbitkan prangko garuda.
    Penerbitan prangko etnis Tionghoa pertama pada tahun 2005 untuk memperingati 600 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho yang diyakini sebagai penyebar Islam di Indonesia. “Mungkin karena ia hanya sosok dan penyebar Islam, prangkonya disambut baik oleh masyarakat,” kata
Abdussyukur, Ketua Unit Filateli, PT Pos Indonesia. Saat itu dicetak 250.000 prangko Cheng Ho.
    Pada tahun 2005 Dirjen Postel menetapkan akan menerbitkan  seri zodiak. Saat itu belum ada putusan bahwa zodiaknya adalah zodiak China. Baru setelah di desain pada September 2006, mulai ada penolakan karena tahun 2007 adalah tahun babi.
    Gambar babi yang beredar nantinya akan berbeda dengan gambar binatang dalam shio China lainnya karena binatang babi digambar dekoratif. Prangko ini akan dicetak 150.000 buah. (yenti aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: