BERWISATA SAMBIL BELAJAR

Kompas, 2 Mei 2006

    Belajar tidak harus selalu berada di dalam ruang kelas dan
mendengarkan penjelasan dari guru. Belajar bisa dilakukan sambil
berwisata di ruang terbuka, atau di pusat penelitian, dan sebagainya.
Bahkan, dalam beberapa hal, belajar sambil berwisata lebih efektif
karena anak-anak melakukannya dengan keriangan, dan tidak menjadi
beban. Belajar akan lebih efektif bila tidak hanya mendengar, tetapi
juga melihat dan mempraktikkannya. Bandung menawarkan berbagai obyek
yang bisa dijadikan sarana untuk belajar bagi anak-anak.
    Observatorium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung, yang
terletak pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut merupakan
pusat pengamatan obyek ruang angkasa terbesar di Asia Tenggara.
Didirikan tahun 1920 atas prakarsa KAR Bosscha yang didukung RA
Kerhoven dan J Voute, astronom asal Belanda, observatorium ini
berperan sebagai pusat kegiatan astronomi dunia, khususnya di belahan
bumi bagian selatan.
    Hampir seabad kemudian, bangunan, rumah teropong, dan benda-benda
observasi yang merupakan warisan kolonial Belanda masih digunakan
dan dijadikan pusat penelitian astronomi maupun astrofisika
Indonesia sekaligus “dapur” praktik mahasiswa Jurusan Astronomi
Institut Teknologi Bandung (ITB).
    Bosscha memiliki sekitar 11 teropong, baik yang memiliki rumah
(permanen) ataupun portable (dapat dipindahkan). Teropong paling
terkenal adalah Refraktor Ganda Zeiss Besar, yang berdiameter lensa
260 sentimeter dengan titik api 10,7 meter. Selain mendapat
pengetahuan singkat tentang astronomi, pengunjung juga berkesempatan
mengamati benda-benda langit menggunakan teropong secara langsung.
Namun, kesempatan itu sangatlah terbatas, yaitu hanya pada tiga
malam tertentu dalam sebulan. Observatorium ini kerap dibanjiri
pengunjung, terutama terkait peristiwa langka, seperti gerhana
bulan, “kunjungan” komet, hingga peristiwa mendekatnya planet Mars
tahun 2003.
    Di Bandung pengunjung bisa juga menyambangi Museum Pos Indonesia
yang memiliki koleksi benda-benda pos, transportasi, dan
telekomunikasi yang langka dan unik. Di museum yang terletak di sayap
timur Gedung Sate ini tersimpan ratusan prangko dalam negeri dari
berbagai ukuran, tahun, dan jenis. Museum ini menyimpan koleksi
ratusan prangko dari 178 negara. Bagi filatelis, museum ini dapat
menjadi referensi dan sumber pengetahuan utama sejarah surat-
menyurat, khususnya prangko. Di tempat ini tersimpan pula prangko
bergambar Raja William III (1864), prangko pertama di Indonesia.
    Salah satu koleksi langka dan unik museum ini adalah Surat Mas
Raja-Raja (Golden Letter) dari zaman kerajaan Sriwijaya, Mulawarman,
Tarumanegara, dan Majapahit. Selain itu, ada juga dokumen-dokumen
yang dikumpulkan Stamford Raffles. Museum Pos juga memiliki koleksi
peralatan pos mulai dari bis surat dari berbagai masa, tahun 1829
hingga sekarang, gerobak pos, hingga sepeda klasik pengantar pos.
    Bagi anak-anak, alam bisa menjadi tempat belajar untuk menghargai
pentingnya alam bagi kelestarian makhluk hidup di sekitarnya. Cara
inilah yang dimanfaatkan Perum Perhutani Unit III Jabar-Banten untuk
mendidik anak-anak tentang kekayaan flora dan fauna di bumi
Parahyangan.
    Dalam program itu, siswa diajak menjelajahi hutan, mulai dari
lahan kosong, suksesi hutan, hingga mengetahui keragaman flora dan
fauna yang ada di dalam hutan. Selama dua jam menjelajahi hutan,
siswa diajak mengamati, bertanya lalu mendiskusikan hasil pengamatan
mereka. Seorang pengawas hutan akan mendampingi dan menjelaskan
keragaman hayati yang ada di hutan. Lokasi yang sering dijadikan
laboratorium alam di kawasan Bandung adalah di Kawah Putih dan Ranca
Upas, sekitar dua jam perjalanan dengan mobil dari Kota Bandung. 
Biaya yang dikenai untuk program sehari, mulai transportasi hingga
akomodasi Rp 160.000, untuk dua hari sebesar Rp 300.000.
    “Menjadi petani sama hebatnya dengan menjadi pilot, dokter,
astronot, bahkan presiden sekalipun”. Begitulah slogan yang
terpampang di salah satu pintu masuk “Little Farmers” (LF) di Desa
Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.   
Terletak di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut dengan
suhu rata-rata 20 derajat Celsius, tempat ini ideal untuk wisata
berkebun, dan mendapat pengalaman menjadi seorang petani.
    Menurut Kepala Bagian Promosi Little Farmers Ruly Budiawan, yang
ditawarkan oleh LF adalah pendidikan wisata yang belajar dari
pengalaman dari aktivitas petani. Dengan belajar dari petani, mereka
bisa lebih menghargai seorang petani.
    “Lewat gambar dan visualisasi tahapan bertani secara langsung,   
ditambah dengan hasil panenan yang boleh dibawa oleh anak-anak, kami
harapkan hal itu terpatri lama dalam pikiran anak-anak,” kata Ruly.
    Rata-rata dalam satu bulan, pengunjung yang datang mencapai 2.500
orang. Program yang ditawarkan antara lain berkebun, beternak,
berkuda, berkemah, dan lintas alam. Para peserta bisa belajar
menanam wortel, kol, selada, dan bunga, juga bisa belajar memelihara
sapi, domba, kelinci, dan cacing.  (JON/THT/YNT/CHE)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: