BESAR, POTENSI GEOWISATA JABAR

Kompas, 12 Juni 2008

 
Bandung, Kompas
    Jawa Barat memiliki potensi geowisata yang besar, tetapi potensi
tersebut belum digarap secara sungguh-sungguh.
    Sejumlah ahli geologi dan pemerhati lingkungan yang tergabung
dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), Rabu (11/6) di Bandung,
mengadakan pertemuan untuk memaparkan hasil pengamatan mereka di
berbagai tempat.
    Menurut ahli geologi, Sudjatmiko, di Tasikmalaya selatan terdapat
sungai yang memiliki banyak batu mulia besar. Salah satunya adalah
jesper atau jenis batu mulia berwarna merah. Jesper di tempat tersebut
ada yang mengandung berbagai warna lain, seperti kuning dan merah
jambu. Batu seperti itu dinilai langka, bahkan mungkin belum dikaji
secara ilmiah.
    Batu-batu mulia tersebut juga terhampar di berbagai sawah dan
permukiman. Sudjatmiko mengatakan, pemandangan tersebut sangat langka,
bahkan mampu menandingi Taman Jesper di Arizona.
    Dia menyayangkan tidak adanya perlindungan di daerah tersebut.
Beribu-ribu ton diangkut dari Tasikmalaya selatan ke tempat lain. Ada
pula yang diekspor mentah dan setengah jadi dengan harga murah.
    Anggota KRCB, Andri M Subandrio, menuturkan tentang potensi
geowisata di berbagai daerah di Jabar, salah satunya tempat
penambangan emas. Di daerah penambangan, pemandangannya cukup menarik,
misalnya ada yang dekat dengan air terjun. Di Jerman, bekas wilayah
penambangan yang sudah ditutup diatur kembali menjadi sebuah taman
rekreasi keluarga yang dilengkapi dengan tangga masuk ke terowongan
bekas penambangan dengan kedalaman hingga ratusan meter.

Nama tempat
    T Bachtiar, anggota KRCB sekaligus Ketua Masyarakat Geografi
Indonesia, mengatakan, banyak hal di lingkungan yang diketahui, tetapi
tidak dikenal masyarakat. Misalnya, berbagai nama tempat di Bandung,
seperti Cijawura, Cihampelas, Kosambi, Cikuda, dan Cibangkong.  
Nama-nama tempat tersebut berasal dari nama pohon, tetapi sangat
jarang yang tahu wujud pohon tersebut.
    “Padahal, kalau tahu, misalnya pohon kosambi yang saat ini masih
ada di sebuah pemakaman di Subang dan Cirebon, buah kosambi adalah
biofuel potensial. Bijinya kalau ditusuk dan dibakar bisa jadi obor.
Jika beberapa biji dibakar, bisa jadi kompor,” katanya.
    Menurut Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan
Institut Teknologi Bandung Budi Brahmantyo, potensi geowisata Jabar
sangat besar, tetapi belum diperhatikan. Untuk mengembangkan geowisata
tidak hanya dibutuhkan seorang pemandu wisata, tetapi juga interpreter
yang mampu menjelaskan tentang hal yang ada di alam. Untuk itu,
diperlukan pelatihan tentang ilmu kebumian untuk menghasilkan
interpreter dalam geowisata. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: