BOBON, SEMBUHKAN KORBAN NARKOBA DENGAN BERTANI

Kompas, 27 Feb 2006

  BOBON, SEMBUHKAN KORBAN NARKOBA DENGAN BERTANI                       

  Oleh Yenti Aprianti

    Hampir setiap hari, waktu Bobon Turbansyah (53) dihabiskan untuk
membimbing siapa pun yang ingin bertani, mulai dari anak-anak balita
hingga pejabat pertanian di seluruh Indonesia, beberapa di antaranya
dari luar negeri.   
    Ia juga berhasil menyembuhkan penderita gangguan jiwa dan
menyadarkan narapidana korban narkotika dan obat-obatan terlarang
(narkoba) melalui pertanian.
    “Lihat lelaki itu. Penampilannya rapi, bukan? Padahal, dulu
orangtuanya sudah menyerah karena setiap hari anak tersebut mabuk-
mabukan,” bisik Bobon sambil memandang seorang lelaki berusia 23
tahun yang melangkah bergegas menuju gudang pengepakan sayur di Desa
Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.
    Lelaki yang ditunjuk Bobon itu langsung duduk dan tekun menyortir
sayuran. Berkat motivasi Bobon untuk mengubah hidup menjadi lebih
baik, lelaki itu mengaku kini senang bekerja dan tidak ingin lagi
mengulangi hari-harinya yang tergantung pada narkoba.
    Menurut Bobon, dari 30 karyawannya, tujuh di antaranya pengguna
narkoba dan satu orang penderita gangguan jiwa. Mereka sembuh setelah
dibina sekitar tiga tahun. Mereka berusia 20-an tahun, anak para
buruh tani.
    Waktu itu, pertanian di desanya masih belum mampu menyerap semua
tenaga kerja sehingga banyak pemuda yang putus sekolah menganggur.
Tekanan ekonomi tersebut diduga membuat mereka mudah terpengaruh hal-
hal negatif.
    “Orangtuanya meminta agar saya mau membantu membimbing anak-anak
mereka,” ujar Bobon. Dia lalu mendekati mereka dengan lembut, tapi
tegas.
    “Awalnya saya katakan, mereka tak akan selalu muda. Suatu hari,
mereka akan tua dan merasa sia-sia,” ucap ayah dari Anggi
Heragantini (20), Karisa Deviantini (17), Egi Firmansyah (14), dan
Farhan Aliansyah (10) ini.
    Tidak semua ucapannya langsung didengar. Bobon pun mengajak
mereka mencoba berubah dengan terlibat bekerja di lahan pertaniannya.
Upah mereka dibedakan dari upah karyawan lain agar terpacu bekerja
lebih baik dan mendapat hak sesuai kontribusi.

Memotivasi
    Awalnya, mereka sering berleha-leha dan mencuri-curi mengisap lem
hingga mabuk saat jam kerja. Untuk mengatasi itu, Bobon membentuk
kelompok terdiri dari empat orang sehat dan satu pecandu. Mereka yang
sehat diminta mengawasi dan mengajari pecandu bekerja dengan hati
senang sehingga tidak merasa berbeda.
    Karena usaha pertanian Bobon membutuhkan kualitas yang baik untuk
toko swalayan, para pecandu tidak dipekerjakan dibagian yang
berhubungan langsung dengan produk. Mereka ditugasi mencangkul.
    Setiap perubahan baik yang berhasil dilakukan pecandu narkoba,
Bobon menaikkan upah mereka. Lama-lama mereka jadi termotivasi dan
akhirnya memiliki upah sama. Bobon mengupah pecandu Rp 8.000 per
hari, berbeda Rp 7.000 dari karyawan lain.
    Kini, seluruh pecandu sudah sadar dan sudah mampu bekerja di
bidang-bidang yang langsung berhubungan dengan produk, seperti
menyortir, memanen, atau memelihara tanaman.
    Sementara itu, seorang pasien gangguan jiwa pun sudah mulai
membaik setelah dua tahun dibimbing Bobon. Bobon sering melihat
orangtua pemuda itu menangis di kebun, memikirkan anaknya yang suka
melamun, tidak mau berbicara, dan tidak mau mengganti pakaian sejak
memasuki usia remaja.
    Bobon mulai mendatangi anak tersebut. Setiap hari Bobon berkata-
kata di depan anak itu meskipun tidak didengarkan. Remaja yang tidak
mau berbicara itu beberapa hari kemudian mengikutinya ke kebun.
    “Sekarang, anak itu sudah bisa bicara, bahkan meminta tambahan
pekerjaan,” kata Bobon gembira.

Anak petani
    Bobon lahir sebagai anak petani sayur, almarhum Encas Casmali.
Lahan pertanian ayahnya sering dijadikan tempat praktikum mahasiswa
dan pejabat di bidang pertanian.
    Kemampuan ayahnya membimbing orang dalam bidang pertanian menarik
perhatiannya. Sejak lulus sekolah menengahatas tahun 1970-an, Bobon
langsung bertani. Ia mengambil pembibitan kentang karena menurut
penelitian iseng-iseng yang ia lakukan, bibit kentang dari Lembang
memiliki produktivitas belasan kali lipat lebih tinggi dari bibit
kentang daerah lain.
    Bobon kini memasarkan sayur-mayur asal Jepang ke belasan toko
swalayan yang pelanggannya kebanyakan orang Jepang di Jakarta,
Bandung, Bali, dan Surabaya, antara lain Papaya, Sogo, Kamome, Cosmo,
99, Koko, dan Oiska. Sebagian besar sayuran ditanam petani di sekitar
desanya yang dia awasi cara penanamannya.
    Untuk menjaga mutu, ia juga didampingi konsultan asing dari
lembaga pengawasan bibit asal Jepang. Karena mutu sayuran dan
pelayanan yang baik, Bobon bisa menentukan sendiri harga sayurannya.
Hampir seluruh sayurannya berharga di atas Rp 10.000 per kilogram.
    Bersama istrinya, Cici Rostiamah (44), yang mengajar sejarah di
SMAN 1 Lembang, Bobon tengah menjalankan program belajar bertani
sebagai pelajaran muatan lokal di SMAN 1 Lembang dan Sekolah Menengah
Pertama Negeri SMPN 4 Lembang. “Saya ingin generasi muda tidak
terputus hubungan dengan dunia pertanian sebab mereka tinggal di
negeri agraris,” kata Bobon.

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: