BUDAYA WARGA SUNDA IMMATERIAL

Sabtu, 22 April 2006

BUDAYA WARGA SUNDA IMMATERIAL
Wisata Sejarah Disukai Anak Muda

Bandung, Kompas
    Orang Sunda hanya memiliki orientasi sejarah immaterial seperti
legenda atau cerita sehingga tidak komprehensif. Mereka tidak
melengkapi orientasi sejarahnya dengan hal konkret seperti artefak
atau bangunan bersejarah.
    “Itu sebabnya peninggalan sejarah dalam bentuk artefak menjadi
kurang dihargai. Tetapi cerita-cerita sejarah cukup dipedulikan,”
ujar Budi Radjab, Antropolog dari Universitas Padjadjaran, Bandung,
Jumat(21/4).
    Orientasi tersebut terbangun dalam budaya Sunda karena banyak
sejarah dan aktivitas orang Sunda zaman dahulu tidak meninggalkan
artefak. Peninggalan artefak yang dapat dilihat saat ini lebih banyak
berasal dari zaman kolonial. Hal itu memunculkan dilema pada
masyarakat Sunda. Satu kelompok menganggap sejarah kolonialisme
harus dibenci, sementara yang lainnya berpendapat harus dihargai. 
    “Sebetulnya tidak hanya orang Sunda yang kurang peduli pada
artefak, sebagian masyarakat Indonesia pun begitu,” kata Budi.
    Penyebab lainnya, artefak kurang dihargai karena sebagian besar
budaya di Indonesia cenderung mengecam hal material. Dalam budaya
mereka, material dihargai sebagai sesuatu yang kotor.
    Menurut Budi, perdebatan untuk mementingkan material setara
dengan immaterial sudah menjadi polemik budaya di Indonesia sejak
tahun 1930-an. Sutan Takdir Alisyahbana sudah pernah mencoba
menanamkan penghargaan terhadap material. Akan tetapi, Ki Hadjar
Dewantara lebih mementingkan spiritual.   
    Untuk membangkitkan perhatian masyarakat terhadap artefak, kata
Budi, sejarawan harus menyosialisasikan proses pembentukan artefak
lebih gencar lagi. Sebaiknya cerita sejarah lebih didetailkan pada
proses dan aktivitas manusia dalam membentuk dan memanfaatkan
artefak.

Disukai anak muda
    Selama tiga tahun menjalankan wisata sejarah Bandung, sekelompok
anak muda yang tergabung dalam Bandung Trails mengatakan, wisata
sejarah banyak diminati anak muda berusia 19-30 tahun. “Mereka
biasanya ikut berwisata untuk menambah data untuk kebutuhan kuliah
atau karena ingin tahu lingkungannya,” ujar Daniel Guna Nugraha (32),
salah satu pemandu wisata sejarah dalam kelompok tersebut.
    Sebagian kecil peserta wisata sejarah adalah orang tua yang ingin
mengenang masa lalu Bandung. Wisata ini dilakukan dengan cara ber-
jalan kaki. Mereka bisa mendatangi rumah, toko, gedung pemerintahan,
atau tugu-tugu yang berada dalam tema yang sama. 
    Selama ini, ujar Teguh Amor Patria (32)-penggagas Bandung Trails-
mereka sudah menjalankan berbagai paket perjalanan seperti rute
sejarah Bandung meliputi Jalan Asia Afrika-Gedung Sate; rute
bangunan kolonial yang melingkupi Taman Cilaki-ITB; rute Bandung
Lautan Api yang meliputi daerah Alun-alun-Tegallega; rute pecinan;
rute kuliner; rute Pangalengan, dan lainnya.
    Selama perjalanan yang berbiaya Rp 25.000-Rp 30.000 ini, peserta
dibagi dalam beberapa kelompok yang didampingi pemandu wisata. Para
pemandu akan menceritakan aspek sejarah dari setiap artefak yang
dilalui. Wisata ini pernah diikuti oleh 150 orang. Sejak 2006, setiap
bulan, Bandung Trails yang bermarkas di Taman Budaya Bandung, Dago,
membuka paket perjalanan wisata di Bandung.
    “Ibu-ibu pun banyak yang tertarik, terutama wisata kuliner,” kata
Susi Dwiyanti (32), yang sejak Maret lalu bergabung menjadi pemandu
di Bandung Trails.
    Sayangnya, tidak semua penghuni tempat bersejarah mengizinkan
bangunannya dikunjungi oleh wisatawan. “Ada yang langsung menolak
saat kita minta izin,” ujar Susi.  (ynt)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: