BUSANA NUSANTARA HARUS BANGKIT DARI DUKA LARA

 Kompas, 2 Desember 2006
    Sentuhan sasirangan dalam berbagai warna dan motif dihadirkan
dalam suasana romantis. Menurut legenda, batik sakral masyarakat
Banjar tersebut diciptakan pada sekitar abad ke-7, setelah Patih
Negara Dipa, Lambung Mangkurat, menyelesaikan pertapaannya.
    Lebih dari seribu tahun lalu, Lambung Mangkurat bertapa selama
40 hari di atas rakit Balarut Banyu yang terbuat dari bambu. Di
akhir pertapaan, rakit melaju ke daerah Rantau. Lambung Mangkurat
melihat buih di sungai, dan dari dalam buih terdengar suara seorang
perempuan yang mengharuskannya membangun sebuah istana dan membuat
kain yang ditenun serta diwarnai oleh 40 putri dalam waktu sehari.
    Di tangan masyarakat Banjar, kain sasirangan masih tercipta
hingga sekarang. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Hak Atas
Kekayaan Intelektual (HAKI) dan Departemen Hukum dan Hak Asasi
Manusia telah mengakui dan melindungi 16 motif sasirangan. Malam
itu, perancang sekaligus anggota baru APPMI Jawa Barat, Hennie Noer,
mengambil beberapa motif batik yang dipercayai masyarakat Banjar
sebagai penolak bala itu untuk memperkuat suasana “Romantic Ethnic”
yang diusungnya sebagai tema busana.
    Semarak pembauran pun menjadi pelipur bagi Indonesia yang pada
tahun 2006 ini mengalami berbagai bencana alam. Ani Medina
menceritakan “Rona Oriental di Bumi Nusantara” melalui berbagai
kombinasi warna ceria khas masyarakat Tionghoa.
    “Kita bisa melihat berbagai contoh pembauran masyarakat
Indonesia dengan Tionghoa,” kata Ani seraya menyebut Palembang dan
Betawi sebagai dua di antara budaya yang berhasil melanggengkan
keceriaan pembauran dalam warna-warna busana tradisionalnya.
    Namun, inspirasi pembauran itu di tangan Ani diolah menjadi
busana muslimah modern yang detail-detail yang rapi. Ia mengambil
motif batik Jawa dan sasirangan dengan teknik aplikasi menindas
kulit dengan payet sehingga warna-warna ceria seperti ungu, merah,
putih, dan biru menjadi tambah gemerlap, seperti harapannya bagi
Indonesia pada tahun 2007. “Semoga kita bisa bangkit lagi dari duka
tahun lalu,” ujarnya.

Mengubah sejarah
    Perpaduan zaman gila 1920-an di Eropa dan kemegahan serta
kedinamisan warna batik cirebonan seolah menjadi harapan Nuniek
Mawardi yang menghadirkan tema busana “La Garconne Atmosphere” untuk
mengubah sejarah.
    “Keadaan kini mirip dengan tahun 1920-an. Kehidupan anak remaja
kian bebas. Melihat itu, ada keinginan agar zaman gila tidak
terulang kembali,” katanya.
    Tahun 1920-1929 dikenal sebagai era la garconne. Kata tersebut
diambil dari bahasa Perancis yang berarti anak lelaki. Seusai Perang
Dunia I, banyak lelaki tewas sebagai korban perang. Perempuan
menjadi janda dan mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dulu
dilakukan lelaki. Mereka mendapat gaji yang besar. Para perempuan
mabuk dengan penghasilan besar dan menghabiskan waktu berfoya-foya.
Suasana tersebut menghadirkan fashion la garconne, red lips, dan
mantel yang menutupi busana minim.
    Di atas catwalk, Nuniek menghadirkan busana-busana bersuasana
maskulin dengan mantel-mantel panjang sebagai bagian dari busana
muslimah. Pada busana karyanya ia menambahkan detail dari batik
pesisir cirebonan yang didominasi warna tembaga yang megah dan biru
yang dinamis.
    Malik Moestaram merekomendasikan untuk meninggalkan suasana
kelabu, terutama hitam. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: