CAGAR BUDAYA JUNGHUHN TELANTAR

Kompas, 13 Juni 2006

  
Bandung, Kompas
    Makam ahli farmasi, de Vrij, dan ahli botani, Franz Wilhelm
Junghuhn, di Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung, tidak terurus.
Tempat tersebut dijadikan cagar budaya, tetapi sampah bertumpuk di
beberapa sudut dan permukiman penduduk makin mendesak  ke arah
pemakaman. 
    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992, benda cagar budaya
adalah benda buatan manusia yang berumur sekurang-kurangnya 50  tahun
atau mewakili masa  gaya yang khas. Selain itu, benda tersebut
dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan
kebudayaan.
    Jika menelaah ketentuan tersebut, makam dan tugu Junghuhn dan
sahabatnya, Vrij,  merupakan benda cagar budaya. Junghuhn adalah ahli
botani, geolog, klimatolog, etnograf, ahli topografi, dan ahli
geografi yang dikenal pada abad ke-19. Ia  berhasil membibitkan kina
di Hindia Belanda.
    Junghuhn juga menulis buku, antara lain Perjalanan Topografi dan
Ilmiah Melintasi Java (1845), Tanah Batta di Sumatera (1847), Pulau
Jawa: Bentuk, Tanaman, dan Strukturnya (1853), serta menerbitkan peta
Jawa (1835). 
    Ia meninggal pada 24 April 1864 dan dimakamkan di kebun pembibitan
kina di Jayagiri, Lembang. Di atas makamnya dibuat tugu. Beberapa
meter di dekat makam Junghuhn terdapat makam ahli kimia, de Vrij.
Namun, situs tersebut kini tidak terawat. Di beberapa sudut situs
terdapat tumpukan sampah dan bongkahan sisa bangunan. Sementara di
makam de Vrij yang bergaya khas Belanda banyak terdapat coretan. 
    L Suharto (65), juru rawat situs, mengakui situs tersebut tidak
terawat. “Makin banyak penduduk yang membuang sampah. Sudah saya
cegah, tapi tetap saja buang sampah di sana,” katanya, Selasa (12/6).
Ia menjelaskan, situs tersebut berdiri di lahan seluas 2,2 hektar.
Namun, kini rumah penduduk mulai mendesak ke area pemakaman dan kebun
pembibitan kina. Luas situs diperkirakan tinggal 3.000 meter persegi.
    Agus Sofyan, penduduk Desa Jayagiri, mengaku sejak kecil
mengetahui makam Junghuhn. Melalui buku sejarah, ia mengenal Junghuhn.
Akan tetapi, sejak 1955 di Desa Jayagiri banyak pendatang, dan
sebagian besar membangun rumah yang mendesak areal situs. “Tahun 1972,
waktu saya masih SD, kebun yang ada makam Junghuhn itu luas. Tak ada
rumah di dekat makam,” kata Agus. 
    Kepala Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah, dan Nilai
Tradisional Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa
Barat Prama Putra mengatakan, dilihat dari usia dan sejarahnya situs
Junghuhn termasuk cagar budaya. Namun, hingga saat ini situs tersebut
belum menjadi prioritas karena Pemerintah Kabupaten Bandung belum
mengusulkan agar situs itu diprioritaskan dalam agenda Balai
Kepurbakalaan. Pemeliharaan situs masih berada di tangan BUMN
Perkebunan. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: