CALUNG MENGHIBUR SEKALIGUS MELIPUR LARA

Kompas, 12 Okt 2006
    Keur caang bulan, barudak ucing-ucingan. Sempal Guyon,
gogonjakan. Bari jeung engkrak-engkrakan.
    Lagu yang dimainkan dalam kesenian calung ini menceritakan
kegembiraan anak-anak bermain kucing-kucingan di bawah sinar bulan.
Mereka bercanda, berjoget sambil melompat-lompat.
    Kegembiraan yang sama dirasakan juga oleh seniman-seniman cilik.
Setiap Sabtu malam pukul 19.30, selepas shalat Isya, mereka
mendatangi rumah tua yang tak berpenghuni. Di ruang tengah sebuah
rumah di Kampung Cidadap Hilir, Ledeng, Kota Bandung, itu mereka
belajar seni calung.
    Mereka saling berbagi peran dan tertawa mendengarkan bodoran atau
guyonan temannya. “Saya senang calung karena lucu,” kata Yuda Purnomo
(12), siswa kelas VI SD yang bergabung dalam kelompok Calung Budak
Ledeng (CBL) sejak setahun lalu.
    Setiap minggu ia latihan dengan dibimbing Ayi Suhayat (45),
pekerja bangunan sekaligus seniman calung. Tahun 1970-an Ayi
bergabung dalam kelompok calung di kampungnya, lalu berhenti setelah
menikah tahun 1980.
    Lama tak berkesenian membuat Ayi rindu dan mendirikan kelompok
calung baru. Kelompok ini tidak bertahan lama karena beberapa
anggotanya pindah rumah sehingga jarang bertemu untuk latihan.
    Tiga tahun lalu seniman, Iman Soleh, pengelola Pusat Kebudayaan
Ledeng CCL), mengajaknya berkesenian. Ia pun mendirikan kelompok
calung anak-anak, CBL. Selain berpentas di panggung CCL dalam
berbagai acara, seniman cilik CBL banyak diminta manggung di sekolah-
sekolah, pergelaran seni budaya, ataupun resepsi pernikahan.
    Namun, Ayi belum menentukan tarif karena hingga saat ini belum
memiliki perangkat sound system. “Jangankan sound system, seragam
panggung anak-anak saja sudah kekecilan,” katanya. 
    Seragam yang kekecilan tidak membuat seniman calung, Ahmad Sofyan
(14),  tidak percaya diri. Dalam berbagai penampilan ia menggunakan
pakaian berbeda dengan teman-temannya. Ia menggunakan baju koko atau
baju kampret warna hitam.
    Sofyan, anak kedua Ayi, memilih menjadi seniman calung sejak tiga
tahun lalu. Saat itu ia tak dapat melanjutkan sekolah karena
orangtuanya tak memiliki uang.
    Sofyan pun menghanyutkan diri dalam humor kesenian calung. Calung
tak sekadar kesenian yang menghibur penonton, tetapi juga jadi
pelipur lara baginya. 
    Dengan bersemangat, Sofyan mengikuti latihan yang diadakan
ayahnya. Jika ada waktu luang, ia mempelajari peran-peran dan aneka
cerita humor yang dibuat pelatihnya. Ia juga menonton televisi untuk
mempelajari humor dan perkembangan zaman yang makin “gaul” ini.
    “Saya belajar melucu dari televisi,” kata remaja yang mendapat
bayaran Rp 25.000, dan biasanya diserahkan pada orangtuanya untuk
kebutuhan sehari-hari. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Satu Tanggapan to “CALUNG MENGHIBUR SEKALIGUS MELIPUR LARA”

  1. mohon dimunculkan foto-foto permainan calung. saya suka dengan musik itu, lebih-lebih sudah buat untuk perlombaan tingkat kabupaten pokoknya sip….deh……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: