CIANJUR, KOTA WISATA YANG KINI SEPI

Kompas, 5 Nov 2007
Cianjur, Kompas
    Wisata di Cianjur sepi sejak tahun 2000. Kondisi itu semakin parah
sejak dioperasikannya Tol Cipularang tahun 2004.
    Padahal, menurut Soleh Suparman (51)-cucu mantan pegawai Hotel
Sindanglaya, seperti yang diceritakan kakeknya-dahulu kawasan Cianjur
sangat diminati wisatawan.
    “Dulu kakek bilang, turis yang datang ke Cianjur banyak. Tamunya
dari Jerman, Belanda, dan negara asing lainnya,” kata Soleh, yang juga
pedagang kopi di sekitar Jalan Sindanglaya.
    Warung kopinya biasa disinggahi sopir luar kota yang melintasi
Cianjur. Tapi sekarang Cianjur sudah sepi. Mobil yang melintas tak
seramai dulu. Tahun 2000, penurunan turis terasa dan diperparah adanya
Tol Cipularang. Pengunjung belum bisa kembali ramai seperti dulu,”
ujarnya.
    Sejak tahun 1800-an Cianjur menjadi kota wisata. Terbukti dengan
berdirinya beberapa hotel yang menawarkan mandi air panas, kolam
renang, dan lapangan tenis.
    Buku Across The Equator: A Holiday Trip in Java karya Thomas H
Reid (1908) menceritakan tentang Sindanglaya, Kabupaten Cianjur. 
    Ada hotel yang sudah terkenal saat itu, yaitu Hotel Sindanglaya.
Bekas lokasi hotel Sindanglaya kini digunakan oleh Panti Asuhan Santo
Yusuf.
    Hotel Sindanglaya masa lalu memiliki satu bangunan utama dengan
sebuah paviliun yang dihiasi bunga-bunga ros. Tamu hotel bisa berenang
di danau di lembah antara Cipanas dan Sindanglaya. Saat ini lembah
tersebut berada di dekat Pasar Cipanas dan telah menjadi daratan serta
sungai kecil.
    Ucu (68), pekerja di kompleks Panti Asuhan Santo Yusuf, yang
pernah menyaksikan kejayaan Hotel Sindanglaya mengatakan, hotel
tersebut diisi orang asing dari berbagai negara. Hotel itu juga
menjadi langganan Raja Solo.
    “Kakek saya, Trisno Wijoyo dan Nenek Iwi Sri, pegawai di hotel
tersebut. Mereka dibawa ke Sindanglaya oleh Raja Solo,” kata Ucu.
    Di awal tahun 1940-an, jika Raja Solo pulang pelesir dari hotel
tersebut, rakyat di sekitar Sindanglaya, Cipanas, dan daerah Cianjur
menonton kepergiannya hingga mobil yang ditumpanginya menghilang di
tikungan jalan.
    Hotel itu dibakar saat Perang Dunia II berkecamuk. Rakyat di
sekitarnya mengungsi ke daerah pesawahan Padarincang dan Bengkok.
Setelah hotel berwarna abu itu dibakar, danau tempat tamu berenang pun
terbengkalai.
    Menurut Theresia Atikah (57), warga Sindanglaya, orangtuanya
datang ke Sindanglaya tahun 1954. Daerah itu masih berupa hutan dengan
pohon karet dan beringin yang lebat. Tahun 1955 didirikan panti
asuhan.   Pemilik Hotel Sindanglaya memiliki perhatian terhadap anak
korban perang. (YNT)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

2 Tanggapan to “CIANJUR, KOTA WISATA YANG KINI SEPI”

  1. Alhamdulillah..
    Terima kasih atas informasinya, semoga dinas pariwisata setempat dan instansi terkait dan sebagainya peduli..
    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: