DALAM DEKAPAN MANGLAYANG

kompas, 31 Mei 2008

DALAM DEKAPAN MANGLAYANG
Oleh Yenti Aprianti

    Ada taman mungil di tengah hutan. Duduk dan dengarkan jeritan dari
kejauhan. Carilah dahan-dahan yang bergoyang di pohon-pohon hutan.
Lalu, arahkan teropong ke sana. Hiii… di sana ada surili, sejenis
monyet yang berayun-ayun di dahan. Itulah sensasi alami di taman dalam
hutan di kompleks wanawisata Batu Kuda yang berada di kaki Gunung
Manglayang.
    Anda tinggal memilih: lari ke kaki gunung atau tetap di taman itu
menikmati sensasi Hutan Cikoneng I, Cibiru Wetan, Cileunyi, Kabupaten
Bandung. Wanawisata ini dari Kota Bandung bisa dicapai dengan
melintasi jalan raya ke arah timur menuju putaran Jalan Cibiru.     
Sekitar 50 meter dari putaran ada jalan masuk ke sebelah kiri, dan
dari sana kendaraan tinggal diarahkan lurus sekitar 7 kilometer. 
    Pengunjung bisa mencapai wanawisata Situs Batu Kuda dengan
kendaraan pribadi, menyewa ojek, atau bisa juga berjalan kaki
hitung-hitung olahraga. Selama perjalanan, mata akan terhibur oleh
hamparan Bandung timur yang bisa dilihat di puncak Cinunuk. Saat
melintasi pedesaan, kalau sedang panen, pengunjung bisa mampir di
warung penduduk membeli jeruk bali. Pohon-pohon jeruk balinya sendiri
berjejer di kampung. Bahkan, ketika berbuah, buahnya menjuntai ke
pinggir jalan.

Hutan pinus
    Jika telah melihat jalan kecil berbatu di pinggir hutan pinus,
pengunjung sudah tiba di gerbang tempat wisata. Berjalan di pinggir
hutan pinus itu serasa memasuki dunia yang berbeda. Batang pohon
ditumbuhi lumut yang jika terkena sinar matahari warnanya berubah
menjadi merah.
    Batang-batang pohon merah menyambut dalam keheningan. Semua
hiruk-pikuk kota, lengkap dengan kemacetannya, tak berbekas di
wanawisata Situs Batu Kuda ini. Rasa gerah sewaktu di kota berubah
menjadi sejuk. 
    Di tengah hutan pinus yang rapat ada tanah lapang dengan pohon
pinus agak renggang. Tanah tersebut ditutupi rumput rapat yang rapi
karena rajin dibersihkan oleh penduduk yang sukarela bekerja mengurus
wanawisata tersebut. Tanah lapang itu merupakan Bumi Perkemahan Batu
Kuda. Untuk masuk, menikmati hutan, atau berkemah, kita dikenai tiket
Rp 3.000 per orang. Untuk makan dan minum, tersedia tiga warung di
pinggir hutan.
    Bumi perkemahan ini memuat belasan tenda. Di dekat perkemahan
terdapat dua jalan setapak menuju Situs Batu Kuda. Batu Kuda merupakan
seonggok batu yang lebarnya hanya sekitar 2 meter dan tingginya
sekitar 2,5 meter. Pada pinggir batu tampak pahatan alami yang
menyerupai wajah kuda, lengkap dengan moncongnya.
    Menurut Jajang, pemandu wisata hutan sekaligus petugas wanawisata
sukarela, penduduk sekitar hutan memercayai bahwa batu tersebut
merupakan perwujudan kuda Ratu Layungsari dan Raden Layung Kusuma dari
sebuah kerajaan. Mereka juga memercayai bahwa Batu Kuda merupakan
bagian dari jalur jalan yang digunakan para leluhur dari Kerajaan
Banten menuju Cirebon atau sebaliknya.

Jejak binatang
    Dari bumi perkemahan menuju Situs Batu Kuda, pengunjung harus
berjalan kaki sekitar 1 kilometer. Pada kiri dan kanan semak di
sekitar jalan setapak terdapat pohon-pohon pisang sisa kebun
penduduk.   
    Di dekat Situs Batu Kuda terdapat bak mata air. Airnya tenang dan
udaranya sejuk. Duduklah di sana untuk melepas lelah sebelum
melanjutkan beberapa langkah ke Batu Kuda.
    Sesampai di Batu Kuda, pengunjung serasa dibawa ke beranda rumah.
Di sekitar Situs Batu Kuda, semak belukar berubah menjadi taman bunga,
taman bunga mungil di tengah hutan. Ada kembang sepatu merah, jawer
kotok berwarna kuning, dan berbagai warna bunga yang menyemarakkan
situs tersebut.
    Di taman mungil itu, keluarkan teropong Anda. Siap-siap dengan
suara jeritan dari kejauhan, jeritan dari keluarga surili, kera khas
Jawa Barat berwarna tubuh abu-abu. Tak hanya surili, amati juga semak
belukar. Tak sulit menemukan jalan terabas yang dibuat segerombolan
babi dan kucing hutan atau jejak kaki mereka di jalan setapak. 
    Jika sempat berkemah, bangunlah pagi-pagi. Sekitar pukul 09.00
sering tampak seekor elang terbang rendah di langit sekitar
perkemahan. Panorama alam dan penghuninya itu bersatu dalam dekapan
Manglayang.  

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Satu Tanggapan to “DALAM DEKAPAN MANGLAYANG”

  1. Jalanan di Cikoneng kok rusak berat yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: