DEMI BAJIDORAN, BERJALAN TUJUH KILOMETER

Kompas, 11 Maret 2006
    Panggilan manggung ke sebuah desa di Provinsi Banten disambut
bahagia oleh Cucu Sri Wulandari (28), penari bajidoran dari kelompok
kesenian Ileur Kameumeut di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Bahagia,
karena hari itu ia bisa mendapatkan penghasilan.
    Namun, Cucu dan anggota kelompok lainnya tidak pernah menyangka
bahwa desa yang mereka tuju untuk menggelar pesta kesenian bajidoran
sangat jauh dan terpencil. Pada saat mengundang pentas untuk
memeriahkan pesta perkawinan anaknya, pengundang mengatakan desanya
cukup dekat dari jalan raya.
    Nyatanya, dari jalan raya, sekelompok seniman tersebut harus
berjalan selama berjam-jam sepanjang tujuh kilometer ke desa yang
dituju.
    Cucu harus melewati tanah berbukit-bukit sambil menggendong tas
berisi kosmetik, kebaya, kain, sanggul, dan perlengkapan menari
lainnya. Perjalanan jauh tetap harus ditempuh karena kelompok
kesenian mereka telah terikat kontrak.
    “Pengalaman seperti itu tidak hanya terjadi sekali. Tapi sudah
beberapa kali,” ujar Cucu yang biasa manggung di Subang, Karawang,
Cirebon, dan beberapa wilayah lainnya di Jabar.
    Jika manggung cukup jauh dari kota, mereka berangkat seusai
maghrib. Tiba di tempat tujuan biasanya pada subuh. Pagi hari,
seniman kelompok kesenian tersebut beristirahat dan dijamu makan oleh
pengundang.
    Karena berstatus sebagai penari utama, Cucu hanya menari di malam
hari, sekitar pukul 21.00-02.00.
    “Seusai menari, kami langsung pulang meskipun dini hari. Kalau
harus berjalan berkilo-kilometer, ya harus dijalani,” kata Cucu yang
mengaku sering takut jika harus menempuh jalan-jalan desa yang amat
sepi dan gelap. Di sisi lain, ia juga menyadari hal tersebut menjadi
risikonya sebagai penari.

    “Mau bagaimana lagi, terima saja. Toh, saya senang seni tari.
Lagipula kalau sudah mendengar musik bajidoran, hati saya gembira,”
kata Cucu yang selalu minum telur, susu, dan madu untuk menjaga
stamina tubuhnya.
    Dalam keadaan sakit seperti flu, batuk, dan pilek, Cucu tidak
pernah libur menari. “Kecuali kalau badan saya sudah panas,” kata
Cucu.  
    Biasanya, untuk sekali manggung, kelompoknya mendapatkan honor Rp
1 juta. Uang tersebut harus dibagi merata pada seluruh anggota
kelompok yang jumlahnya sekitar 25 orang, terdiri dari penari, pe-
sinden kawih, dan penabuh musik.
    Artinya, selama satu hari dua malam bekerja sebagai penari, ia
hanya mendapatkan uang Rp 40.000.
    “Makanya uang yang kami dapatkan, biasanya lebih besar dari uang
sawer,” tutur Cucu. Uang sawer adalah uang yang diberikan bajidor
atau penggemar pesta bajidoran, biasanya lelaki, pada penari.

Uang amplop
    Uang yang didapat pun akan dibagi rata pada seluruh anggota
kelompok. Namun jika bajidor memberi uang dalam amplop pada penari,
artinya uang tersebut hanya untuk si penari, tidak boleh dibagi pada
yang lain.
    Dari uang dalam amplop yang diberikan bajidor, Cucu biasanya  
mendapatkan sekitar Rp 500.000 sekali manggung.
    Meskipun selalu tersenyum dan memandang manja pada para bajidor
yang akan menghambur-hamburkan uang, sebagai penari Cucu mengaku
sering khawatir berhadapan dengan mereka.
    “Takut kalau bajidornya kurang ajar,” kata Cucu yang juga ibu
satu anak dan istri dari seorang pegawai Badan Usaha Milik Negara
(BUMN).
    Diperlakukan tidak baik oleh bajidor saat ia menari di atas
panggung sering dialaminya. Namun meskipun marah, Cucu harus bisa
mengarahkan perilaku bajidor agar menghentikan kekurangajarannya. 

Gunjingan
    Cucu berprofesi sebagai penari sejak tahun 2000. Ia diajak oleh
pimpinan kelompok seninya saat ia baru saja menikah.
    “Daripada menganggur di rumah, lebih baik ikut menari,” kata Cucu
yang mengaku belajar menari secara otodidak di panggung. Bakat menari
sudah ada dalam dirinya.
    Ia mengerti berbagai gerakan tari karena neneknya pernah
berprofesi sebagai penari golek. Sejak awal menari, Cucu sudah
ditunjuk sebagai penari utama.
    Itu sebabnya, gunjingan dan sikap iri dari teman-temannya tidak
bisa dielakkan. Menghadapi berbagai guncingan itu, Cucu memilih tidak
peduli.
    Pada tahun 2002-2003, Cucu pernah menari setiap hari tanpa libur
selama enam bulan. Saat itu keadaan ekonomi bangsa Indonesia sedang
baik. Banyak orang mengadakan pesta.
    Bucky Wikagoe, peneliti kliningan bajidoran mengatakan, di
Subang, pesta merupakan adat hidup. Orang Subang biasanya meminjam
uang dan barang untuk mengadakan pesta.
    Uang dan barang akan dikembalikan jika pemberi utang mengadakan
pesta. Oleh karenanya, agar piutang kembali, mereka sering mengadakan
pesta.
    Tidak hanya pesta perkawinan dan sunat, pesta ulang tahun
perkawinan pun dilaksanakan. Pada pesta-pesta tersebut, biasanya
kesenian rakyat mendapat tempat.
    Menurut Cucu , sejak tahun 2004 hingga sekarang, order manggung
terus menurun. Dalam sebulan, ia hanya manggung sebanyak lima sampai
sepuluh kali. Para bajidor pun sudah jarang yang datang.
    Berkurangnya order manggung untuk menari diduga karena kehidupan
ekonomi rakyat pada umumnya yang sedang menurun.
    “Tapi bisa jadi juga karena masyarakat sudah bosan dan beralih ke
organ tunggal yang honornya lebih murah,” demikian ujar Cucu. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

3 Tanggapan to “DEMI BAJIDORAN, BERJALAN TUJUH KILOMETER”

  1. kasihan juga ya …

    http://www.toko-sepatu.blogspot.com

  2. mari bangkitkan kembali kesenian bajidoran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: