MELEBURKAN “BREAKDANCE” DAN PANTOMIM DALAM SENI TRADISI

Kompas, 12 Desember 2006

MELEBURKAN “BREAKDANCE” DAN PANTOMIM DALAM SENI TRADISI

    Pukulan alu pada lesung menciptakan bunyi yang membawa imajinasi
pada negeri agraris. Masyarakat di Kabupaten Sukabumi masih
memainkannya dalam kesenian rampak gondang.
    Unsur musik alu dan lesung, dipadu nyanyian, merupakan ciri khas
kesenian tersebut. Sampai saat ini kesenian gondang masih hidup di
beberapa daerah di Kabupaten Sukabumi, seperti di Surade dan Kampung
Adat Cipta Rasa.
    Pada awalnya, gondang merupakan kesenian magis, yaitu prosesi
pemujaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Sri atau Dewi Padi. Akan
tetapi, selanjutnya menjadi hiburan saat Hari Kemerdekaan Indonesia,
atau  pemilihan kepala daerah.
    Sejak tahun 1960, kesenian ini sudah dipentaskan sebagai seni
pertunjukan. Seniman yang pernah mementaskannya antara lain Tatang
Kosasih, Mang Koko, Wahyu Wibisana, Dana Sapei, dan seniman dari
Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung seperti Edeng Sofyan,
Ade Abdul Holiq, dan Hermawan Abriono.
    Kesenian ini menceritakan upaya masyarakat menjaga sawahnya 
dengan mengusir hama. Pada penampilan rampak gondang di Taman Budaya
Jabar, ada sesuatu yang unik. Saat adegan tikus berpesta di sawah,
pemainnya menggunakan gerakan pantomim. Begitu pun saat tikus
mempermainkan orang-orangan sawah.
    Gerakan pantomim tersebut selain menarik, juga penuh humor dan
dapat menyampaikan pesan cerita. Seorang penonton berceloteh, “Oh,
ini sedang menceritakan tikus yang rakus.”
    Kehadiran pantomim di panggung seni tradisi menjadi hal yang
unik. Pantomim merupakan genre teater dari Eropa. Tidak hanya itu, 
rampak gondang yang ditampilkan siswa SMA Mutiara Terpadu Kabupaten
Sukabumi juga menambahkan alat musik drum dan perkusi 
dikolaborasikan bersama alu dan lesung.
    “Kami menyatukan antara seni tradisi dengan seni Barat agar
menarik,” ujar Edeng Sofyan, pembina grup kesenian tradisi di
Kabupaten Sukabumi.
    Alat musik modern juga ditampilkan untuk memberi nuansa
kemodernan pada penampilan seni tradisi. “Agar menarik, seniman
harus mampu menyisipkan sesuatu yang populer, agar pertunjukannya
ditonton,” ujar Edeng.
    Sementara itu, dengan konsep sama, grup Daya Asmara dari
Kabupaten Karawang menampilkan lagu-lagu pop, seperti lagu milik
grup Ratu dalam pertunjukan topeng banjet yang berjudul Wiwirang
akibat Utang. Mereka juga menampilkan breakdance pada bagian
humornya.
    Breakdance adalah tarian dari Barat yang diciptakan anak-anak
muda Afrika-Amerika. Tarian ini biasanya dilakukan di jalan dengan
iringan musik hip hop.
    Menurut seniman Nana Munajat, dulu dalam teater rakyat topeng
banjet, pemain menggunakan topeng jantuk.
    Kesenian ini biasa dipentaskan tengah malam dan menjadi media
bagi sesepuh untuk memberi nasihat perkawinan.
    Kesenian yang sudah ada sejak awal abad ke-19 ini biasanya
dilengkapi alat musik rebab, bonang, kendang, kecrek, dan tarian
ketuk tilu. (yenti aprianti)

Foto : 1
Kompas/Rony Ariyanto Nugroho

Kesenian banjet asal Kabupaten Karawang menyisipkan tarian
breakdance ketika dipentaskan di Teater Tertutup Dago Tea House,
Bandung, Sabtu (9/12).

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: